Geger TNI vs Suku Anak Dalam di Jambi, Potret Dosa Warisan Konflik Agraria?

Bangun Santoso, Novian Ardiansyah

Kamis, 03 September 2026 | 13:09 WIB
Geger TNI vs Suku Anak Dalam di Jambi, Potret Dosa Warisan Konflik Agraria?
Ilustrasi warga Suku Anak Dalam (SAD) di Kabupaten Sarolangun keroyok TNI. (Grafis Suara.com/Syahda)
baca 10 detik
  • Bentrokan antara TNI dan warga Suku Anak Dalam terjadi di perkebunan PT Sari Aditya Loka, Kabupaten Sarolangun, akibat sengketa lahan.
  • Insiden bermula ketika anggota TNI memergoki warga SAD mengambil kelapa sawit, yang berujung pada pengeroyokan lima personel militer.
  • Dampak dari konflik tersebut memicu kritik keras terhadap pelibatan TNI dalam pengamanan lahan perusahaan dan menyoroti masalah agraria.

Suara.com - Kericuhan pecah di tanah Jambi, melibatkan anggota TNI dan warga Suku Anak Dalam (SAD).

Insiden yang terjadi di area perkebunan kelapa sawit PT Sari Aditya Loka (SAL), Kabupaten Sarolangun, ini bukan sekadar kasus kriminal biasa. Peristiwa itu dinilai sebagai manifestasi dari "bom waktu" konflik agraria yang tak kunjung dijinakkan negara.

Kejadian bermula ketika anggota TNI yang tengah bertugas patroli dan melintas di area perusahaan memergoki sejumlah warga SAD yang diduga mengambil brondolan sawit.

Situasi memanas hingga berujung pada pengeroyokan terhadap lima anggota TNI.

Meski lima warga SAD telah menyerahkan diri dan 14 orang diperiksa, pertanyaan besarnya tetap menggantung: mengapa institusi militer harus berhadapan langsung dengan masyarakat adat di lahan konsesi perusahaan?

Militer di Pusaran Bisnis: TNI Jadi "Satpam" Perusahaan?

Keterlibatan TNI dalam pengamanan lahan perusahaan swasta memicu kritik tajam dari berbagai aktivis hak asasi manusia dan agraria.

Front Infrastruktur untuk Keadilan (FIAD) menyoroti fenomena ini sebagai bentuk penyimpangan fungsi profesionalisme militer.

Pelibatan TNI dalam konflik lahan dinilai hanya akan memperkeruh suasana dan menciptakan trauma bagi masyarakat lokal.

baca juga

"Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran peran, di mana tentara seolah-olah menjadi satpam perusahaan," ungkap FIAD dalam menanggapi bentrokan tersebut dalam keterangan tertulisnya baru-baru ini.

Kritik ini bukan tanpa dasar. Secara regulasi, tugas utama TNI adalah pertahanan negara, bukan menjaga aset perusahaan swasta dari gangguan masyarakat sekitar.

Ketika militer ditempatkan di garis depan sengketa lahan, pendekatan yang digunakan cenderung represif atau keamanan (security approach), yang seringkali mengabaikan akar masalah sosial dan sejarah kepemilikan lahan di wilayah tersebut.

Ruang Hidup vs Hak Guna Usaha (HGU)

Mengapa konflik agraria di Indonesia, khususnya yang melibatkan masyarakat adat seperti Suku Anak Dalam, seolah tidak ada ujungnya? Jawabannya terletak pada tumpang tindih klaim lahan yang sudah terjadi selama puluhan tahun.

Di satu sisi, perusahaan memegang izin legal berupa Hak Guna Usaha (HGU) dari pemerintah.

Di sisi lain, masyarakat adat merasa lahan tersebut adalah ruang hidup dan tanah ulayat mereka yang sudah ada jauh sebelum izin perusahaan diterbitkan.

Bagi warga Suku Anak Dalam, mengambil sawit di lahan yang mereka anggap sebagai tanah leluhur bukanlah pencurian dalam pengertian mereka, melainkan upaya bertahan hidup di tengah menyempitnya hutan akibat ekspansi perkebunan.

Namun, di mata hukum negara, tindakan tersebut adalah tindak pidana.

"Akar konflik agraria ini sebenarnya tidak pernah benar-benar dipecahkan oleh pemerintah. Yang dilakukan selama ini hanya pemadam kebakaran saat terjadi bentrok," tulis analisis dari pemerhati agraria.

Timeline kasus 5 anggota TNI di keroyok warga Suku Anak Dalam (SAD) di Kabupaten Sarolangun, Jambi. (Grafis Suara.com/Syahda)
Timeline kasus 5 anggota TNI di keroyok warga Suku Anak Dalam (SAD) di Kabupaten Sarolangun, Jambi. (Grafis Suara.com/Syahda)

Ketidakmampuan negara dalam melakukan sinkronisasi data lahan melalui kebijakan One Map Policy serta lambatnya pengakuan terhadap hutan adat membuat konflik ini terus berulang.

Perusahaan merasa dilindungi hukum, sementara masyarakat adat merasa terpinggirkan di tanah sendiri, kritik sejumlah pemerhati dan aktivis lingkungan.

Kegagalan Reformasi Agraria dan Meritokrasi Keadilan

Pemerintah sering mendengungkan program Reformasi Agraria, namun dalam praktiknya, distribusi lahan dinilai masih timpang.

Korporasi besar masih menguasai jutaan hektare lahan, sementara masyarakat adat harus berjuang untuk mendapatkan pengakuan atas beberapa hektare tanah mereka.

Dalam kasus di Sarolangun, Danrem 042/Garuda Putih sempat mengungkapkan pemicu serangan tersebut.

"Kejadian ini berawal saat anggota kami memergoki aksi pencurian kelapa sawit oleh warga SAD di lahan PT SAL," ujar Danrem dalam keterangannya.

Namun, narasi "pencurian" ini dianggap terlalu menyederhanakan masalah jika tidak melihat konteks kemiskinan sistemik yang dialami masyarakat adat akibat hilangnya akses terhadap sumber daya alam.

Selama pendekatan yang diambil hanya bersifat penegakan hukum (law enforcement) tanpa menyentuh keadilan distributif, maka konflik serupa akan terus terjadi.

Bagi beberapa orang, melihat peristiwa ini sebagai berita kriminalitas di daerah terpencil, namun dampaknya nyata: ketidakstabilan sosial, pelanggaran HAM, dan rusaknya citra institusi negara di mata rakyatnya sendiri.

Menanti Solusi Permanen, Bukan Sekadar Mediasi

Menurut FIAD, kasus pengeroyokan anggota TNI oleh warga SAD di Jambi ini harus menjadi alarm keras bagi pemerintah pusat. Penyelesaian kasus ini tidak boleh berhenti pada proses hukum terhadap para pelaku pengeroyokan saja.

Jika akar masalah berupa sengketa lahan antara PT SAL dan Suku Anak Dalam tidak diselesaikan secara tuntas melalui skema perhutanan sosial atau pengembalian wilayah adat, maka bentrokan berikutnya hanya tinggal menunggu waktu.

Masyarakat menuntut adanya transparansi mengenai izin-izin HGU yang bersinggungan dengan pemukiman adat.

Selain itu, evaluasi terhadap keterlibatan personel TNI dalam pengamanan objek vital swasta perlu dilakukan agar tidak terjadi benturan langsung dengan rakyat.

Profesionalitas TNI harus dijaga agar tetap berada pada koridor pertahanan, bukan menjadi tameng bagi kepentingan bisnis yang sedang bersengketa dengan warga lokal.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

32 Paket Proyek Pemkab Muaro Jambi Diadukan ke KPK, Diklaim Rugikan Negara Rp50 Miliar

32 Paket Proyek Pemkab Muaro Jambi Diadukan ke KPK, Diklaim Rugikan Negara Rp50 Miliar

News | Rabu, 02 September 2026 | 13:44 WIB

Prabowo Panggil Panglima TNI-Kapolri ke Hambalang, Bahas Situasi Nasional dan Karhutla

Prabowo Panggil Panglima TNI-Kapolri ke Hambalang, Bahas Situasi Nasional dan Karhutla

News | Rabu, 02 September 2026 | 08:25 WIB

Prabowo Minta Suku Dayak Diberi Akses Luas Masuk TNI, Menhan Siapkan Hak Istimewa

Prabowo Minta Suku Dayak Diberi Akses Luas Masuk TNI, Menhan Siapkan Hak Istimewa

Video | Selasa, 01 September 2026 | 20:15 WIB

Bentrok TNI dan Suku Anak Dalam, FIAD Soroti Tentara Jadi 'Satpam Perusahaan'

Bentrok TNI dan Suku Anak Dalam, FIAD Soroti Tentara Jadi 'Satpam Perusahaan'

News | Selasa, 01 September 2026 | 13:41 WIB

Bentrok TNI dan Suku Anak Dalam, FIAD Soroti Tentara Jadi 'Satpam Perusahaan'

Bentrok TNI dan Suku Anak Dalam, FIAD Soroti Tentara Jadi 'Satpam Perusahaan'

News | Selasa, 01 September 2026 | 13:38 WIB

Aksi Represif Polisi di Demo DPR: Sweeping hingga Gas Air Mata Ditembakkan Langsung ke Massa

Aksi Represif Polisi di Demo DPR: Sweeping hingga Gas Air Mata Ditembakkan Langsung ke Massa

News | Senin, 31 Agustus 2026 | 19:38 WIB

Suku Dayak Bertato Tetap Bisa Jadi Prajurit TNI

Suku Dayak Bertato Tetap Bisa Jadi Prajurit TNI

News | Senin, 31 Agustus 2026 | 17:14 WIB

Terkini

Mentereng di AS, Mitchell Baker Punya Target Tampil di Premier League, Olimpiade, Piala Dunia

Mentereng di AS, Mitchell Baker Punya Target Tampil di Premier League, Olimpiade, Piala Dunia

Bola | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 23:55 WIB

Mantan Ketua DPR RI Marzuki Alie Minta Dialog soal Tunggakan PBB IGM Rp2,33 Miliar

Mantan Ketua DPR RI Marzuki Alie Minta Dialog soal Tunggakan PBB IGM Rp2,33 Miliar

Sumsel | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 23:40 WIB

Sumsel United Kalah 0-1 dari Semen Padang, Gol Menit Akhir Buyarkan Asa Laskar Juaro Raih Poin

Sumsel United Kalah 0-1 dari Semen Padang, Gol Menit Akhir Buyarkan Asa Laskar Juaro Raih Poin

Sumsel | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 23:28 WIB

Inovasi Fashion Ramah Lingkungan: Botol Plastik Bekas Bisa Disulap Jadi Pakaian Olahraga

Inovasi Fashion Ramah Lingkungan: Botol Plastik Bekas Bisa Disulap Jadi Pakaian Olahraga

Lifestyle | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 23:01 WIB

Dewa United Bukan Lawan Biasa, Shin Tae-yong Minta Persija Hati-hati

Dewa United Bukan Lawan Biasa, Shin Tae-yong Minta Persija Hati-hati

Bola | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:54 WIB

Kapolresta Bogor Kota Minta Maaf atas Insiden Intimidasi Videografer

Kapolresta Bogor Kota Minta Maaf atas Insiden Intimidasi Videografer

Jabar | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:50 WIB

IVES 2026 Soroti EEC, Pengukuran Dampak Ekonomi Industri Event

IVES 2026 Soroti EEC, Pengukuran Dampak Ekonomi Industri Event

Jakarta | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:47 WIB

Sudah Tunjukkan ID Card Tapi Tetap Diamankan, Jurnalis di Bogor Sempat Diminta Hapus Video

Sudah Tunjukkan ID Card Tapi Tetap Diamankan, Jurnalis di Bogor Sempat Diminta Hapus Video

Bogor | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:43 WIB

Kasus Polisi Diduga Bunuh Ibu Kandung di Siak, Riwayat Skizofrenia Terungkap, Kompolnas Turun Tangan

Kasus Polisi Diduga Bunuh Ibu Kandung di Siak, Riwayat Skizofrenia Terungkap, Kompolnas Turun Tangan

Sumsel | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:31 WIB

Bahlil Curiga LNG Indonesia ke Singapura Dijual Lagi, Ada Apa?

Bahlil Curiga LNG Indonesia ke Singapura Dijual Lagi, Ada Apa?

Video | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:15 WIB

×