- Kebakaran besar di Gambir menghanguskan 114 rumah dan membuat 880 jiwa kehilangan tempat tinggal.
- Korsleting listrik akibat penggunaan perangkat berlebih dan instalasi tua menjadi penyebab utama ratusan kasus kebakaran di Jakarta.
- Karakteristik permukiman padat dengan bangunan berhempitan dan akses jalan sempit mempercepat perambatan api serta menyulitkan proses pemadaman.
Suara.com - Asap hitam membubung dari permukiman padat di Jalan Batu Ceper, Kelurahan Kebon Kelapa, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat, Senin siang, 31 Agustus 2026.
Api dengan cepat melahap rumah-rumah warga. Dalam hitungan jam, 114 rumah hangus terbakar. Sebanyak 310 kepala keluarga atau sekitar 880 jiwa kehilangan tempat tinggal.
Puluhan unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan untuk melokalisasi api yang merembet cepat di antara bangunan yang berdempetan. Empat posko pengungsian kemudian disiapkan untuk menampung ratusan warga yang kehilangan rumah.
Dugaan awal, kebakaran dipicu korsleting listrik.
Kasus Gambir kembali mengingatkan pada persoalan yang berulang di Jakarta: korsleting listrik masih menjadi salah satu penyebab utama kebakaran.
Pertanyaannya, mengapa persoalan kelistrikan terus muncul dalam rentetan kebakaran di Jakarta, sementara risiko tersebut sudah berkali-kali diperingatkan?
Gambir Bukan Kasus Tunggal
Kebakaran Gambir bukan peristiwa yang berdiri sendiri.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno bahkan menyebut korsleting listrik menyumbang porsi sangat besar dari kebakaran di Jakarta.
Hampir 95 persen karena korsleting listrik. Artinya kembali kepada masyarakat sendiri, tolong lihat lagi jaringan listrik.
Data pemerintah juga menunjukkan tingginya frekuensi kebakaran di Jakarta.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkapkan, sepanjang Juli hingga Agustus 2026 terdapat 457 kejadian kebakaran.
Korsleting listrik menjadi penyebab paling dominan, disusul pembakaran sampah dan puntung rokok yang dibuang sembarangan.
Pola serupa juga terlihat pada data tahun-tahun sebelumnya.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat 1.653 kasus kebakaran sepanjang 2023-2024. Sebanyak 1.148 kasus atau sekitar 69,5 persen di antaranya disebabkan korsleting listrik.
Sementara itu, Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI Jakarta juga pernah mencatat ratusan kasus korsleting hingga pertengahan tahun. Angkanya jauh melampaui penyebab lain seperti kebocoran gas, pembakaran sampah, maupun puntung rokok.
Kebakaran pun kerap terjadi di kawasan dengan karakteristik serupa: permukiman padat dengan bangunan yang saling berhimpitan.
Tambora, Taman Sari, Kemayoran, Gambir hingga Cakung menjadi sejumlah wilayah yang pernah dilanda kebakaran.
Lantas, mengapa korsleting bisa begitu mudah berubah menjadi kebakaran besar?
![Infografis kebakaran Jakarta didominasi akibat korsleting listrik. [Suara.com/Syahda]](https://media.suara.com/pictures/original/2026/09/03/12157-infografis-kasus-kebakaran-jakarta.jpg)
Dari Korsleting Menjadi Kobaran Api
Secara sederhana, korsleting terjadi ketika arus listrik mengalir melalui jalur yang tidak semestinya akibat bertemunya dua penghantar listrik. Kondisi tersebut dapat menyebabkan lonjakan arus dan menghasilkan panas berlebih.
Panas inilah yang kemudian berpotensi merusak kabel, memunculkan percikan, hingga menyulut material mudah terbakar di sekitarnya.
Risikonya dapat meningkat ketika kabel terkelupas, sambungan listrik tidak sesuai standar, atau terlalu banyak perangkat elektronik digunakan pada satu titik stop kontak.
Kebiasaan menggunakan terminal bertumpuk untuk berbagai peralatan juga menjadi persoalan yang perlu diperhatikan.
Rano Karno menyoroti kebiasaan warga yang mencolokkan banyak perangkat elektronik ke satu stop kontak.
“Itu kendala utama di Jakarta, saya tidak bisa pungkiri,“ tutur figur yang biasa disapa Bang Doel tersebut.
Persoalannya menjadi lebih kompleks ketika instalasi listrik sudah berumur puluhan tahun dan tidak pernah diperiksa kembali. Kerusakan komponen atau kabel di dalam instalasi tidak selalu terlihat dari luar.
Karena itu, pertanyaan bukan hanya soal bagaimana warga menggunakan listrik, tetapi juga bagaimana kondisi instalasi listrik di rumah-rumah Jakarta dipastikan tetap aman.
Apakah korsleting selalu berkaitan dengan kelalaian penggunaan listrik? Atau ada pula persoalan instalasi yang sudah tidak layak, tetapi terus digunakan?
Permukiman Padat
Korsleting mungkin menjadi titik awal, tetapi besarnya kebakaran tidak hanya ditentukan oleh sumber api.
Karakter permukiman juga ikut menentukan seberapa cepat api berkembang.
Di kawasan padat, jarak antarbangunan yang sangat dekat membuat api lebih mudah merambat dari satu rumah ke rumah lainnya. Material bangunan yang mudah terbakar semakin memperbesar risiko.
Kasus Gambir memperlihatkan situasi tersebut. Api yang muncul di satu titik dengan cepat merembet ke rumah-rumah di sekitarnya.
Pramono sebelumnya juga menyoroti persoalan kepadatan permukiman saat terjadi kebakaran di kawasan Taman Sari.
“Dengan kepadatan lingkungan, apinya makin cepat menjalar,“ katanya.
Masalahnya tidak berhenti pada jarak antarbangunan.
Akses jalan yang sempit dapat menyulitkan mobil pemadam mencapai titik kebakaran. Sumber air yang jauh juga dapat memengaruhi proses pemadaman.
Di sisi lain, banyaknya bangunan semi permanen dengan material mudah terbakar membuat api berpotensi meluas dalam waktu singkat.
Pengamat tata kota Yayat Supriatna menilai jarak antarbangunan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam upaya mengurangi risiko perambatan api.
“Tingkat kerapatannya harus diperhatikan,“ kata dia kepada Suara.com.
Menurutnya, pemilihan bahan bangunan yang lebih tahan api juga dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi risiko kebakaran di kawasan padat.
Seberapa Aman Instalasi Listrik di Rumah Warga?
Persoalan berikutnya berada pada tahap sebelum kebakaran terjadi: pencegahan.
Secara aturan, instalasi listrik di Indonesia harus memenuhi persyaratan keselamatan, termasuk melalui Sertifikat Laik Operasi (SLO) sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan.
Yayat juga menyoroti pentingnya sistem pengaman seperti MCB (Miniature Circuit Breaker) di setiap rumah untuk mengantisipasi beban listrik berlebih.
“Harusnya sejak awal warga tahu bahwa sistem kelistrikan itu mempunyai namanya backup system untuk automatic kalau terjadi korsleting,“ kata dia.
Namun, keberadaan perangkat pengaman tidak serta-merta menghilangkan seluruh risiko. Kondisi instalasi, kualitas komponen, cara penggunaan peralatan listrik, hingga usia jaringan tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta Marulitua Sijabat mengingatkan warga agar lebih memperhatikan keamanan peralatan listrik yang digunakan sehari-hari.
“Kami mengimbau kepada warga untuk menggunakan peralatan listrik yang standar SNI dan berkoordinasi dengan pihak PLN untuk melakukan pengawasan terhadap aliran listrik yang ada,“ tuturnya kepada Suara.com.
Pemerintah juga telah melakukan sosialisasi dan simulasi penanganan kebakaran kepada warga, terutama di kawasan yang dianggap rawan.
Namun, rentetan kebakaran menunjukkan bahwa tantangan pencegahan tidak sederhana.
Ada persoalan perilaku penggunaan listrik, kondisi instalasi, kepatuhan terhadap standar, hingga karakter permukiman yang membuat api lebih mudah menyebar.