- Kebakaran melanda 114 rumah dan berdampak pada 880 jiwa di Kebon Kelapa, Jakarta Pusat.
- Anggota DPRD DKI Jakarta, Muhammad Hasan Abdillah, meminta pemerintah mengevaluasi infrastruktur keselamatan dan memperbanyak hidran di gang sempit.
- Keberadaan hidran strategis bertujuan memangkas waktu penanganan karena petugas sering terkendala selang panjang akibat akses jalan terbatas.
Suara.com - Tragedi kebakaran yang menghanguskan ratusan rumah di Kebon Kelapa, Gambir, Jakarta Pusat pada Senin (31/8/2026) menjadi sinyal darurat bagi sistem mitigasi bencana ibu kota.
Anggota Komisi A DPRD DKI Jakarta, Muhammad Hasan Abdillah, meminta pemerintah daerah melakukan evaluasi serius terhadap infrastruktur keselamatan di kawasan padat penduduk.
Hasan menekankan pentingnya ketersediaan hidran, terutama di wilayah dengan gang sempit yang sulit dijangkau mobil pemadam kebakaran.
“Hidran sangat penting di kawasan padat,” ujar politisi PKS itu, Rabu (2/9/2026).
Menurutnya, keberadaan hidran di lokasi strategis dapat memangkas waktu petugas dalam mendapatkan pasokan air saat api mulai berkobar.
“Waktu dalam penanganan kebakaran sangat berharga,” kata Hasan.
Ia juga menyoroti kendala di lapangan, di mana petugas sering kali harus membentangkan selang sangat panjang karena minimnya sumber air terdekat.
“Kita harus belajar dari peristiwa,” ujar Hasan.
Musibah di Jalan Batu Ceper 8 kala itu meluluhlantakkan 114 rumah dan berdampak pada 880 jiwa warga.
Petugas pemadam kebakaran dilaporkan kesulitan menembus titik api akibat akses jalan yang terbatas dan sempit.
Hasan mendorong Pemprov DKI untuk memperkuat pemetaan wilayah rawan, khususnya di area dengan bangunan semi permanen yang saling berhimpitan.
“Pencegahan harus seiring dengan kesiapsiagaan,” kata dia.
Ia berharap, pembangunan hidran diperbanyak agar kecepatan respons petugas tetap terjaga demi meminimalkan kerugian materiel maupun korban jiwa.
“Pastikan sumber air dan hidran tersedia di lokasi strategis,” pungkas Hasan.