-
Malaysia menggelar operasi hujan buatan tiga hari untuk meredam kabut asap beracun di Sarawak.
-
Kabut asap akibat kebakaran hutan Kalimantan memicu kualitas udara Sarawak masuk level berbahaya.
-
Operasi penyemaian awan juga bertujuan menambah cadangan air menghadapi ancaman cuaca kering Oktober.
Suara.com - Pemerintah Malaysia menerjunkan armada udara untuk menyemai awan demi membersihkan racun kabut asap di Negara Bagian Sarawak. Langkah darurat ini diambil setelah asap kebakaran hutan dan lahan dari Kalimantan menusuk kualitas udara hingga level mengkhawatirkan.
Operasi udara selama tiga hari ini menyasar wilayah tangkapan air dan waduk utama untuk memicu hujan deras. Selain mengikis polutan racun di udara, hujan buatan difokuskan untuk mengisi cadangan air bersih warga.
Komite Pengurusan Bencana Sarawak mengerahkan pesawat militer guna menekan lonjakan kasus penyakit saluran pernapasan pada masyarakat. Guyuran hujan hasil rekayasa cuaca diyakini mampu menyapu material berbahaya yang melayang di atmosfer.
![Foto udara asap mengepul dari kebun kelapa sawit dan pinang yang terbakar di Desa Pandan Sejahtera, Tanjung Jabung Timur, Jambi, Selasa (25/8/2026). [ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/YU]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/08/25/90766-karhutla-jambi-karhutla-di-jambi-ilustrasi-karhutla-ilustrasi-kebakaran-hutan.jpg)
"Hujan yang dihasilkan dari penyemaian awan berpotensi mengurangi konsentrasi polutan di udara, sehingga mendukung upaya mengatasi penurunan kualitas udara dan dampak kabut asap," tulis rilis resmi Komite Pengurusan Bencana Sarawak, dikutip dari CNA, Jumat (4/9/2026).
Ketua Komite Douglas Uggah Embas menegaskan bahwa pengerjaan rekayasa cuaca ini melibatkan kolaborasi angkatan udara, badan bencana, dan lembaga meteorologi. Peningkatan volume air waduk menjadi target krusial sebelum gelombang cuaca yang jauh lebih panas melanda kawasan tersebut.
"Oktober mungkin akan lebih panas dan kering. Kami ingin meningkatkan volume air sebanyak mungkin selagi masih bisa," ujar Uggah kepada wartawan di pangkalan angkatan udara Kuching.
Pesawat jenis C-130 dikerahkan untuk melepas larutan garam khusus pada ketinggian 5.000 hingga 7.000 kaki di atas wilayah target. Penyemprotan bahan kimia ini bertujuan mempercepat proses kondensasi pada gumpalan awan potensial.
Keberhasilan penembakan garam di udara sangat bergantung pada faktor kelembapan serta pergerakan angin lokal. Tim ahli tidak bisa memaksakan hujan turun jika kondisi tutupan awan di langit tidak memadai.
"Penyemaian awan hanya dapat dilakukan jika terdapat pembentukan awan dan kondisi atmosfer yang sesuai - penyemaian tidak dapat menciptakan hujan jika tidak ada awan yang sesuai," kata Uggah.
"Pertumbuhan awan dan curah hujan selanjutnya dipantau secara terus-menerus untuk menilai kondisi atmosfer serta hasil operasi," jelas pihak komite menambahkan.
Tingkat pencemaran udara di Sarawak kembali memburuk secara drastis dengan tujuh kawasan mencatat skor Indeks Pencemar Udara di atas 300. Situasi ini menempatkan kesehatan ribuan warga dalam ancaman serius akibat paparan partikel berbahaya.
Kota Serian menjadi wilayah terdampak paling parah dengan torehan angka Indeks Pencemar Udara menyentuh skala 475. Angka raksasa tersebut melampaui batas ambang aman dan hampir memicu penetapan status darurat lokal.
Berdasarkan regulasi keselamatan nasional, skor di atas 300 terkategori sangat berbahaya bagi keselamatan jiwa. Pemerintah daerah terus memantau pergerakan grafik polusi untuk menentukan status tanggap darurat lanjutan.
Krisis kekeringan yang meluas turut memperparah kelangkaan pasokan air bersih bagi kebutuhan harian masyarakat. Lembaga sosial pemerintah telah mendistribusikan ratusan ribu kotak air minum guna menyokong kebutuhan warga lokal.
Petugas pemadam kebakaran dan tim pertahanan sipil disiagakan penuh di lapangan untuk melokalisasi titik api domestik. Otoritas kesehatan meminta masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan serta wajib menggunakan masker berstandar khusus.
Penyebaran asap lintas batas negara ini menjadi fenomena tahunan yang selalu berulang saat musim kemarau panjang melanda kawasan Borneo. Kebakaran lahan gambut di Kalimantan kerap mengirimkan asap pekat yang melintasi perbatasan Malaysia akibat hembusan angin angin muson.