Sarawak Operasi Hujan Buatan Usai Kualitas Udara Masuk Level Berbahaya karena Kebakaran Hutan

Pebriansyah Ariefana

Jum'at, 04 September 2026 | 07:22 WIB
Sarawak Operasi Hujan Buatan Usai Kualitas Udara Masuk Level Berbahaya karena Kebakaran Hutan
Malaysia menggelar operasi penyemaian awan tiga hari untuk mengatasi kabut asap racun di Sarawak. (CNA)
baca 10 detik
  • Malaysia menggelar operasi hujan buatan tiga hari untuk meredam kabut asap beracun di Sarawak.

  • Kabut asap akibat kebakaran hutan Kalimantan memicu kualitas udara Sarawak masuk level berbahaya.

  • Operasi penyemaian awan juga bertujuan menambah cadangan air menghadapi ancaman cuaca kering Oktober.

Suara.com - Pemerintah Malaysia menerjunkan armada udara untuk menyemai awan demi membersihkan racun kabut asap di Negara Bagian Sarawak. Langkah darurat ini diambil setelah asap kebakaran hutan dan lahan dari Kalimantan menusuk kualitas udara hingga level mengkhawatirkan.

Operasi udara selama tiga hari ini menyasar wilayah tangkapan air dan waduk utama untuk memicu hujan deras. Selain mengikis polutan racun di udara, hujan buatan difokuskan untuk mengisi cadangan air bersih warga.

Komite Pengurusan Bencana Sarawak mengerahkan pesawat militer guna menekan lonjakan kasus penyakit saluran pernapasan pada masyarakat. Guyuran hujan hasil rekayasa cuaca diyakini mampu menyapu material berbahaya yang melayang di atmosfer.

Foto udara asap mengepul dari kebun kelapa sawit dan pinang yang terbakar di Desa Pandan Sejahtera, Tanjung Jabung Timur, Jambi, Selasa (25/8/2026). [ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/YU]
Foto udara asap mengepul dari kebun kelapa sawit dan pinang yang terbakar di Desa Pandan Sejahtera, Tanjung Jabung Timur, Jambi, Selasa (25/8/2026). [ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/YU]

"Hujan yang dihasilkan dari penyemaian awan berpotensi mengurangi konsentrasi polutan di udara, sehingga mendukung upaya mengatasi penurunan kualitas udara dan dampak kabut asap," tulis rilis resmi Komite Pengurusan Bencana Sarawak, dikutip dari CNA, Jumat (4/9/2026).

Ketua Komite Douglas Uggah Embas menegaskan bahwa pengerjaan rekayasa cuaca ini melibatkan kolaborasi angkatan udara, badan bencana, dan lembaga meteorologi. Peningkatan volume air waduk menjadi target krusial sebelum gelombang cuaca yang jauh lebih panas melanda kawasan tersebut.

"Oktober mungkin akan lebih panas dan kering. Kami ingin meningkatkan volume air sebanyak mungkin selagi masih bisa," ujar Uggah kepada wartawan di pangkalan angkatan udara Kuching.

Pesawat jenis C-130 dikerahkan untuk melepas larutan garam khusus pada ketinggian 5.000 hingga 7.000 kaki di atas wilayah target. Penyemprotan bahan kimia ini bertujuan mempercepat proses kondensasi pada gumpalan awan potensial.

Keberhasilan penembakan garam di udara sangat bergantung pada faktor kelembapan serta pergerakan angin lokal. Tim ahli tidak bisa memaksakan hujan turun jika kondisi tutupan awan di langit tidak memadai.

"Penyemaian awan hanya dapat dilakukan jika terdapat pembentukan awan dan kondisi atmosfer yang sesuai - penyemaian tidak dapat menciptakan hujan jika tidak ada awan yang sesuai," kata Uggah.

baca juga

"Pertumbuhan awan dan curah hujan selanjutnya dipantau secara terus-menerus untuk menilai kondisi atmosfer serta hasil operasi," jelas pihak komite menambahkan.

Tingkat pencemaran udara di Sarawak kembali memburuk secara drastis dengan tujuh kawasan mencatat skor Indeks Pencemar Udara di atas 300. Situasi ini menempatkan kesehatan ribuan warga dalam ancaman serius akibat paparan partikel berbahaya.

Kota Serian menjadi wilayah terdampak paling parah dengan torehan angka Indeks Pencemar Udara menyentuh skala 475. Angka raksasa tersebut melampaui batas ambang aman dan hampir memicu penetapan status darurat lokal.

Berdasarkan regulasi keselamatan nasional, skor di atas 300 terkategori sangat berbahaya bagi keselamatan jiwa. Pemerintah daerah terus memantau pergerakan grafik polusi untuk menentukan status tanggap darurat lanjutan.

Krisis kekeringan yang meluas turut memperparah kelangkaan pasokan air bersih bagi kebutuhan harian masyarakat. Lembaga sosial pemerintah telah mendistribusikan ratusan ribu kotak air minum guna menyokong kebutuhan warga lokal.

Petugas pemadam kebakaran dan tim pertahanan sipil disiagakan penuh di lapangan untuk melokalisasi titik api domestik. Otoritas kesehatan meminta masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan serta wajib menggunakan masker berstandar khusus.

Penyebaran asap lintas batas negara ini menjadi fenomena tahunan yang selalu berulang saat musim kemarau panjang melanda kawasan Borneo. Kebakaran lahan gambut di Kalimantan kerap mengirimkan asap pekat yang melintasi perbatasan Malaysia akibat hembusan angin angin muson.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Udara Singapura Makin Buruk Jumat Pagi karena Asap Kebakaran Hutan

Udara Singapura Makin Buruk Jumat Pagi karena Asap Kebakaran Hutan

News | Jum'at, 04 September 2026 | 06:45 WIB

Sherina Rasakan Langsung Tantangan Padamkan Karhutla Kalimantan

Sherina Rasakan Langsung Tantangan Padamkan Karhutla Kalimantan

Video | Kamis, 03 September 2026 | 22:20 WIB

Dampak Karhutla sampai Malaysia, Menhut Raja Juli: Asap Nggak Punya KTP!

Dampak Karhutla sampai Malaysia, Menhut Raja Juli: Asap Nggak Punya KTP!

Video | Kamis, 03 September 2026 | 19:05 WIB

Terkini

5 Bedak Tabur Wardah untuk Makeup Natural dari yang Termurah hingga Premium

5 Bedak Tabur Wardah untuk Makeup Natural dari yang Termurah hingga Premium

Lifestyle | Rabu, 16 September 2026 | 10:45 WIB

Modus Licik Ban Serep Terbongkar! Sabu 5,4 Kg Jaringan JakartaLombok Disergap di Surabaya

Modus Licik Ban Serep Terbongkar! Sabu 5,4 Kg Jaringan JakartaLombok Disergap di Surabaya

Jatim | Rabu, 16 September 2026 | 10:42 WIB

Hwang Minhyun Diincar Gantikan Lee Jong Suk dalam Drama Iseop's Romance

Hwang Minhyun Diincar Gantikan Lee Jong Suk dalam Drama Iseop's Romance

Your Say | Rabu, 16 September 2026 | 10:39 WIB

Berkaca dari Konten Maudy Ayunda, Mengapa Stoikisme Sangat Relevan Menjaga Kewarasan?

Berkaca dari Konten Maudy Ayunda, Mengapa Stoikisme Sangat Relevan Menjaga Kewarasan?

Your Say | Rabu, 16 September 2026 | 10:37 WIB

WN China Berburu dan Makan Penyu di Raja Ampat, Kemenpar Minta Pihak yang Fasilitasi Ikut Diusut

WN China Berburu dan Makan Penyu di Raja Ampat, Kemenpar Minta Pihak yang Fasilitasi Ikut Diusut

News | Rabu, 16 September 2026 | 10:35 WIB

Rupiah Terperosok ke Level Rp17.700-an Usai Ganti Menkeu, Ini Penyebab Utamanya

Rupiah Terperosok ke Level Rp17.700-an Usai Ganti Menkeu, Ini Penyebab Utamanya

Bisnis | Rabu, 16 September 2026 | 10:32 WIB

DPR Amerika Serikat Tolak Usulan Pemakzulan Donald Trump, Kenapa?

DPR Amerika Serikat Tolak Usulan Pemakzulan Donald Trump, Kenapa?

News | Rabu, 16 September 2026 | 10:31 WIB

Bukan Sekadar HP Harry Potter, realme 16 Pro Dibuat seperti Koper Hogwarts hingga Mata Hedwig

Bukan Sekadar HP Harry Potter, realme 16 Pro Dibuat seperti Koper Hogwarts hingga Mata Hedwig

Tekno | Rabu, 16 September 2026 | 10:31 WIB

8 Cara Memilih Moisturizer Pertama untuk Remaja Pemula agar Tidak Salah Pilih

8 Cara Memilih Moisturizer Pertama untuk Remaja Pemula agar Tidak Salah Pilih

Lifestyle | Rabu, 16 September 2026 | 10:27 WIB

Pencarian Masih Berlangsung, Bantuan Mengalir untuk Lima Keluarga Jurnalis Hilang di Selat Sunda

Pencarian Masih Berlangsung, Bantuan Mengalir untuk Lima Keluarga Jurnalis Hilang di Selat Sunda

News | Rabu, 16 September 2026 | 10:24 WIB

×