- Kepala BGN Sudaryono menyatakan jajarannya sangat prihatin dan drop akibat kasus keracunan program Makan Bergizi Gratis di Jakarta, Kamis (3/9/2026).
- Evaluasi internal menunjukkan 80 hingga 90 persen kasus keracunan disebabkan oleh ketidakpatuhan terhadap Standar Operasional Prosedur di lapangan.
- BGN berkomitmen menjaga transparansi anggaran negara serta mengajak masyarakat dan media untuk mengawasi operasional dapur.
Suara.com - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, mengungkapkan kondisi emosional jajarannya yang sempat merasa "drop" dan sangat prihatin menyusul munculnya kasus keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Padahal, kekinian BGN tengah gencar melakukan perbaikan sistem dan tata kelola internal.
Hal tersebut disampaikan Sudaryono usai mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) membahas RKA K/L Tahun Anggaran 2027 bersama Komisi IX DPR RI di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (3/9/2026).
Sudaryono menegaskan, komitmennya untuk menjaga setiap rupiah anggaran negara yang dialokasikan untuk program ini, karena anggaran tersebut merupakan amanah rakyat.
"Anggaran ini adalah uang rakyat. Anggaran ini adalah, adalah satu rupiah ini menjadi penting. Tidak bisa kita kemudian saya sebagai Kepala kemudian menggunakan ini seenaknya seolah-olah itu uang nenek saya, bukan. Ini adalah uang rakyat yang setiap rupiah harus bisa dipertanggungjawabkan dan manfaatnya harus sebesar-besarnya," ujar Sudaryono.
Ia pun secara terbuka mengajak masyarakat dan media untuk ikut mengawasi jalannya pengadaan serta operasional dapur di lapangan guna mencegah praktik koruptif.
"Kalau Anda menemukan di lapangan ada dapur yang mohon maaf mungkin dia melakukan kecurangan, dia misalnya mark up, dan lain sebagainya, laporkan kami, kami investigasi. Ini kan begini ceritanya. BGN ini kan adalah lembaga baru dipimpin oleh pemimpin yang sebelumnya. Kemudian tindakan mohon maaf koruptifnya ini sebagaimana saya laporkan di dalam tadi, kan ini kemudian nular. Nah, kami ini sedang coba beres-beres, bersih-bersih dengan, dengan manpower yang ada," jelasnya.
Namun, di tengah kerja keras tim BGN memperbaiki berbagai aspek mulai dari IT hingga pengawasan lapangan selama satu bulan terakhir, munculnya insiden keracunan menjadi pukulan telak bagi mereka.
"Tentu saja kendala terbesar kami adalah di saat kami kemudian memperbaiki tata kelola, sistem, peraturan, IT, pelaporan, pengawasan, Zoom meeting, jam kerja, lain-lain kami kan kerjakan nih selama sebulanan ini. Tapi kemudian di atas itu semua tiba-tiba ada keracunan makanan, itu kemudian kami, aduh, cukup sangat prihatin dan drop, ya," kata Sudaryono.
Meskipun merasa drop, Sudaryono menegaskan bahwa hal ini menjadi tantangan untuk bekerja lebih keras lagi.
Ia membeberkan hasil evaluasi internal yang menunjukkan bahwa pelanggaran Standar Operasional Prosedur (SOP) menjadi biang keladi utama.
"Dari kasus keracunan yang ada itu kalau kita breakdown, itu 80-90% tuh karena tidak taat SOP. Tidak taat SOP penyimpanan, tidak taat SOP pada saat dia penerimaan barang, tidak taat SOP terkait suhu dan waktu konsumsi, waktu konsumsi, batas konsumsi waktu, dan seterusnya. Itu mayoritas itu," pungkasnya.