- Komisi IX DPR RI memperingatkan potensi kasus keracunan MBG.
- Buruknya tata kelola dan kurangnya koordinasi lintas sektor memicu ancaman keracunan makanan.
- BGN memaparkan pagu anggaran tahun 2027 sebesar Rp240,20 triliun.
Suara.com - Anggota Komisi IX DPR RI Edy Wuryanto melontarkan peringatan keras kepada Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono soal ancaman berulangnya kasus keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Edy bahkan mengaku berani “bertaruh” bahwa kasus keracunan akan terus terjadi jika BGN tidak segera membenahi desain program dan tata kelola makanan siap saji.
Peringatan itu disampaikan Edy dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi IX DPR RI bersama Kepala BGN Sudaryono di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (3/9/2026).
"Sudahlah, taruhan sama saya. Keracunan pasti akan terjadi karena memang variabel-variabel yang menuju pada tata kelola makanan siap saji yang dari awal sudah kita warning, yakni gunakan Perpres 82, SLHS, HACCP, libatkan Badan POM, libatkan pemerintah daerah. Itu enggak dipenuhi, BGN mau main sendiri, vertikal, seragam, serentak," ujar Edy dalam rapat.
Menurut Edy, persoalan keracunan bukan sekadar insiden teknis. Pengelolaan makanan siap saji dalam skala besar memiliki variabel yang jauh lebih kompleks sehingga membutuhkan koordinasi lintas sektor.
Ia menyoroti besarnya jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang mencapai sekitar 27.000 unit. Jumlah tersebut dinilai membuat pengawasan menjadi tantangan besar, terlebih dapur MBG harus memproduksi dan mendistribusikan makanan dalam jumlah masif setiap hari.
"Ini kan indikator penting. Bu Arum, Pak Kepala ke depan pasti masih sibuk ngurusi keracunan. Sudahlah, taruhan sama saya. Taruhan sama saya. Apakah ini dianggap gampang? Tidak, Pak. Variabelnya kompleks. Kita enggak bisa dengan yakin bahwa ini keracunan nggak akan terjadi. Saya bandingkan ngelola satu Puskesmas dengan ngelola satu dapur, lebih rumit satu dapur, Pak,” tuturnya.
![Puluhan Siswa Keracunan Usai Santap Makan Bergizi Gratis di Kota Bogor [Ist]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/11/14/80329-keracunan-mbg.jpg)
Soroti Kompetensi Pengelola Dapur
Selain desain program, Edy menyoroti kompetensi sumber daya manusia yang mengelola dapur MBG.
Dia menilai masih banyak personel yang bekerja di dapur MBG tidak memiliki latar belakang pengolahan makanan siap saji. Kondisi itu, menurut dia, menjadi salah satu variabel yang harus diperhitungkan BGN untuk mencegah persoalan keamanan pangan.
Edy meminta Sudaryono memanfaatkan 100 hari pertama kepemimpinannya untuk melakukan pembenahan terhadap desain manajemen strategis BGN.
"Ini sulit, Pak. Jadi mohon saya tidak menakut-nakuti tapi ini menjadi warning kita semua. Jadi Pak kalau presentasi anggaran seperti ini, itu manajemen strategi datanya mateng dulu sampai 100 halaman baru kemudian muncul anggaran," tegasnya.
Meski mengkritik keras tata kelola MBG, Edy memastikan Komisi IX DPR tetap mendukung program tersebut. Namun, dukungan itu disertai catatan agar program benar-benar mampu mencapai tujuan intervensi gizi melalui perencanaan dan tata kelola yang matang.
Dalam RDP tersebut, BGN memaparkan pagu anggaran 2027 sebesar Rp240,20 triliun.
Anggaran itu terbagi dalam dua program utama, yakni Program Pemenuhan Gizi Nasional sebesar Rp232,88 triliun atau 96,95 persen dan Program Dukungan Manajemen sebesar Rp7,33 triliun atau 3,05 persen.