-
Banjir bandang di Nepal menyebabkan 1.273 orang tewas dan ribuan lainnya dilaporkan hilang.
-
Ratusan turis asing belum ditemukan sehingga mendorong keluarga melakukan pencarian mandiri di Nepal.
-
Kepolisian Nepal mulai mengumpulkan sampel DNA untuk mengidentifikasi jenazah korban banjir bandang.
Suara.com - Pencarian ratusan wisatawan asing yang hilang akibat banjir bandang di Nepal masih belum membuahkan hasil hingga satu pekan pascabencana. Sanjeev Rai menjadi salah satu kerabat yang terbang langsung ke Kathmandu demi melacak keberadaan istrinya, Jiwan Jyoti.
Jyoti merupakan insinyur perusahaan Intel berusia 50 tahun yang hilang saat perjalanan pulang usai melakukan ziarah ke Gunung Kailash. Bencana alam yang melanda kawasan perbatasan Himalaya tersebut telah menghancurkan akses jalan dan infrastruktur lokal secara masif.
Proses evakuasi dan pencarian korban di Desa Timure, Wilayah Rasuwa, terhambat oleh kerusakan jalur darat yang sangat parah. Kondisi geografis yang berbahaya membuat helikopter penyelamat sulit menjangkau titik-titik reruntuhan di lokasi kejadian.

"Hari ketika saya tiba, saya berkata, mari kita cari helikopter, saya akan pergi mencarinya," kata Rai kepada AFP.
"Saya merasa putus asa, sudah bertajuk-tajuk hari berlalu," ujarnya.
Sanjeev Rai kini mulai bersiap menghadapi kemungkinan terburuk terkait kondisi istrinya yang belum ditemukan. Pria berusia 53 tahun tersebut kini menaruh harapan pada proses identifikasi medis melalui pencocokan sampel genetik.
"Saya tidak lagi berharap menemukan penyintas. Saya hanya berharap sampel DNA cocok. Saya ingin bisa berduka," ujar Rai.
Petugas kepolisian Nepal mulai mengumpulkan sampel DNA dari para keluarga korban untuk membangun basis data identifikasi jenazah. Anggota keluarga yang berada di luar negeri juga diizinkan menyerahkan sampel genetik melalui fasilitas medis di negara masing-masing.
Gelombang material lumpur dan air melahap wilayah perbatasan Nepal serta Tibet di China sejak 26 Agustus. Bencana besar ini merusak belasan bendungan pembangkit listrik tenaga air, jembatan, hingga pemukiman warga.
Jumlah korban jiwa yang terkonfirmasi di wilayah Nepal dan Tibet telah menembus angka 1.273 jiwa. Sementara itu, total warga yang dilaporkan hilang di kedua wilayah tersebut tercatat mencapai 4.757 orang.
Hampir 600 warga negara asing dari 30 negara masuk dalam daftar pencarian pihak berwenang. Rombongan peziarah asal India mendominasi porsi terbesar dari total warga asing yang belum ditemukan.
Duta Besar Inggris untuk Nepal, Rob Fenn, menyatakan bahwa pihak kedutaan telah mengerahkan tim ahli medis dan psikologis. Pusat penerimaan khusus dibentuk untuk mendampingi keluarga korban yang membutuhkan kepastian informasi.
"Saya pikir sifat bencana ini adalah penantian panjang yang menyiksa untuk mendapatkan kepastian dan informasi," kata Fenn kepada AFP.
Sebanyak 77 peziarah dari Yayasan Isha pimpinan Sadhguru juga dilaporkan hilang di sekitar pos pemeriksaan imigrasi Gyirong. Kelompok peziarah tersebut terdiri atas warga negara Eropa, Amerika Utara, hingga Australia.
Para sukarelawan yayasan mendampingi keluarga peziarah untuk memeriksa data rujukan rumah sakit serta foto-foto korban. Ciri khusus seperti perhiasan berbentuk ular yang dipakai para peziarah turut diserahkan kepada polisi sebagai bukti petunjuk.
"Kami pergi ke polisi Nepal setiap hari untuk mendapatkan informasi tentang mereka yang telah diselamatkan. Kami memeriksa foto-foto ... yang diterbitkan oleh polisi," kata sukarelawan Arun Mehta.
"Mereka telah menyelesaikan ziarah mereka di sekitar Gunung Kailash dan sedang menjalani prosedur imigrasi," kata Mehta.
Kerabat korban dari negara lain juga berencana menyusul ke Nepal untuk melakukan pencarian mandiri. Salah satunya adalah saudara dari musisi asal Rusia, Kirill Tretiakov, yang terbang langsung dari wilayah Yakutsk.
"Untuk saat ini, kami tidak memiliki informasi tentang Kirill," katanya kepada AFP.
"Kami berharap kelompoknya selamat tetapi berakhir tanpa alat komunikasi apa pun."
"Kami akan memulai pencarian dari rumah sakit. Tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan, kami akan terus mencarinya," tegasnya.
Pihak agensi perjalanan Fishtail turut mengonfirmasi kehilangan kontak dengan rombongan 20 peziarah yang mayoritas berasal dari Malaysia. Seluruh peziarah beserta pemandu lokal mendadak hilang kontak saat melintas di jalur utama.
"Tidak ada yang bisa meloloskan diri, kejadiannya begitu mendadak," kata Nimsang Gurung, perwakilan penjualan perusahaan perjalanan Fishtail.
Bencana banjir bandang ini diprediksi memberikan pukulan telak bagi industri pariwisata yang menjadi tumpuan ekonomi Nepal. Kerusakan fasilitas transportasi dan akses menuju destinasi utama memerlukan waktu pemulihan yang cukup lama.
"Sektor pariwisata bakal menderita akibat bencana ini," kata Sunil Sharma dari Badan Pariwisata Nasional Nepal.
Meskipun dampak langsung terkonsentrasi pada empat distrik, trauma keamanan diperkirakan memengaruhi minat wisatawan mancanegara. Pemerintah Nepal kini fokus mempercepat pemulihan infrastruktur dasar untuk mengembalikan stabilitas wilayah terdampak.