Nepal Terancam Bencana Susulan Pasca Longsor Es dan Batu Himalaya

Pebriansyah Ariefana

Rabu, 02 September 2026 | 16:06 WIB
Nepal Terancam Bencana Susulan Pasca Longsor Es dan Batu Himalaya
Banjir bandang Nepal (Antara)
baca 10 detik
  • Runtuhan es Nepal meninggalkan endapan lumpur tebal yang memicu risiko banjir bandang susulan.

  • Pakar mendesak transparansi data dan perbaikan sistem peringatan dini di seluruh kawasan Himalaya.

  • Kerentanan permukiman dan lemahnya struktur bangunan memperparah dampak kerusakan akibat bencana alam.

Suara.com - Ancaman bencana lanjutan kini mengintai wilayah perbatasan Nepal dan Tibet setelah banjir bandang akibat runtuhan es dan batuan menghantam kawasan Himalaya. Endapan material padat serta struktur tanah yang labil berpotensi memicu bahaya baru saat hujan deras turun.

Kondisi geologi yang rusak parah di sepanjang aliran lembah menjadi pemicu utama munculnya efek domino bencana alam di wilayah tersebut. Peneliti mengategorikan peristiwa ini sebagai rangkaian bahaya beruntun yang merusak ekosistem lereng gunung.

Rangkaian kejadian berantai ini dikonfirmasi langsung oleh Maximillian Van Wyk de Vries, asisten profesor bahaya alam di Universitas Cambridge.

"Ini adalah tanah longsor batuan dan es yang kemudian mengalir deras dan memicu banjir besar yang menyebabkan begitu banyak kerusakan. Dan kita tahu telah terjadi tanah longsor sekunder yang dipicu oleh peristiwa tersebut," ujar Van Wyk de Vries, dikutip dari CNA.

Para ilmuwan memusatkan perhatian pada titik awal rekahan serta alur lembah di bagian hilir untuk mengantisipasi pergerakan material susulan. Area pemukiman di sepanjang aliran sungai menghadapi risiko tinggi tertimbun pergerakan lumpur basi.

"Ada kemungkinan runtuhan di masa mendatang di sekitar area sumber yang telah melemah. Namun juga di sepanjang lembah ini, permukaannya dilapisi lumpur dan batuan setebal beberapa meter, yang semuanya, jika terjadi hujan deras, dapat terangkat kembali dan menjadi banjir baru," kata Van Wyk de Vries.

Pantauan citra satelit digunakan untuk memetakan pergeseran tanah secara berkala di area ekstrem yang sulit dijangkau manusia. Kendati demikian, resolusi teknologi penginderaan jauh masih memiliki keterbatasan dalam mendeteksi ancaman secara mendadak.

Penggabungan data lapangan dengan pemantauan udara membantu peneliti mengidentifikasi retakan awal pada lereng pegunungan. Tanda-tanda awal pergerakan material es sebenarnya telah terdeteksi sebelum bencana utama terjadi.

Meskipun beberapa pergerakan tanah menunjukkan gejala awal, sebagian longsoran lain dapat terjadi tanpa ada tanda visual yang terekam satelit. Dalam situasi tersebut, prediksi iklim dan curah hujan menjadi tumpuan utama mitigasi.

baca juga

Namun, kemampuan memprediksi lokasi longsor hanyalah satu bagian kecil dari upaya pengelolaan risiko bencana. Penanganan tingkat kerentanan masyarakat menjadi kunci utama untuk mencegah jatuhnya korban jiwa.

Hal tersebut ditegaskan oleh Benjamin Horton, Dekan School of Energy and Environment di City University of Hong Kong.

"Pemaparan berarti menempatkan orang dalam bahaya, dan kemudian kerentanan, yaitu ketahanan masyarakat tersebut dalam hal ketiadaan sinyal peringatan atau kode bangunan yang buruk," kata Horton.

Pemerintah setempat didesak untuk menata ulang penempatan tata ruang pemukiman serta sarana infrastruktur di kawasan rawan bencana. Penguatan kapasitas warga dalam merespons sinyal bahaya harus menjadi prioritas utama penanganan.

Keterbukaan akses data antar-lembaga sangat dibutuhkan untuk memetakan titik-titik rawan bencana di kawasan pegunungan. Investasi pada sistem pemantauan terpadu perlu ditingkatkan secara komprehensif.

"Kita membutuhkan transparansi data di semua pihak agar kita dapat memahami di mana titik terpanas untuk bencana berikutnya akan terjadi," tegas Horton.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Harapan Terakhir, SAR Gabungan China-Nepal Cari Korban Banjir Bandang di Terowongan PLTA

Harapan Terakhir, SAR Gabungan China-Nepal Cari Korban Banjir Bandang di Terowongan PLTA

News | Selasa, 01 September 2026 | 15:41 WIB

Viral Batu Suci Umat Hindu 31 Ton Ditemukan Pasca Banjir Nepal, Faktanya Seperti Ini

Viral Batu Suci Umat Hindu 31 Ton Ditemukan Pasca Banjir Nepal, Faktanya Seperti Ini

News | Senin, 31 Agustus 2026 | 19:38 WIB

Update Kondisi WNI di Nepal Setelah Banjir Bandang, Apakah Ada Korban?

Update Kondisi WNI di Nepal Setelah Banjir Bandang, Apakah Ada Korban?

News | Senin, 31 Agustus 2026 | 17:11 WIB

Terkini

Waspada Modus Catut Nama Pejabat Kejati Jabar, Pelaku Nekat Minta Uang ke Pimpinan Instansi

Waspada Modus Catut Nama Pejabat Kejati Jabar, Pelaku Nekat Minta Uang ke Pimpinan Instansi

Jabar | Rabu, 02 September 2026 | 16:06 WIB

Daerah Diminta Efisiensi, Anggaran Kemenhan Justru Naik Rp 50 Triliun

Daerah Diminta Efisiensi, Anggaran Kemenhan Justru Naik Rp 50 Triliun

News | Rabu, 02 September 2026 | 16:02 WIB

5 Alasan Makanan Kukusan Jadi Peluang Usaha yang Menggiurkan, Banyak Cuan!

5 Alasan Makanan Kukusan Jadi Peluang Usaha yang Menggiurkan, Banyak Cuan!

Your Say | Rabu, 02 September 2026 | 16:00 WIB

Jadi Saksi Kunci! Staf Admin Kejagung Febrio Adiono Bakal Diperiksa Terkait Kematian Sutrimo

Jadi Saksi Kunci! Staf Admin Kejagung Febrio Adiono Bakal Diperiksa Terkait Kematian Sutrimo

News | Rabu, 02 September 2026 | 15:58 WIB

Panas! Gus Ipul 'Semprot' Cak Imin: Kenapa Urusan NU Direduksi Jadi Urusan PMII dan HMI?

Panas! Gus Ipul 'Semprot' Cak Imin: Kenapa Urusan NU Direduksi Jadi Urusan PMII dan HMI?

News | Rabu, 02 September 2026 | 15:58 WIB

Nekat ke Maid Cafe Meski Bukan Wibu, Ternyata Begini Rasanya Dilayani Bak 'Tuan'

Nekat ke Maid Cafe Meski Bukan Wibu, Ternyata Begini Rasanya Dilayani Bak 'Tuan'

Your Say | Rabu, 02 September 2026 | 15:56 WIB

Belajar dari Ricuh 27 Agustus, Pemasangan CCTV di Seluruh RT Jakarta Harus Segera Terealisasi

Belajar dari Ricuh 27 Agustus, Pemasangan CCTV di Seluruh RT Jakarta Harus Segera Terealisasi

News | Rabu, 02 September 2026 | 15:56 WIB

Rumah Mewahnya Disita, Anggota DPRD Kota Bengkulu Vinna Ledy Ternyata Sudah 2 Kali Diperiksa KPK

Rumah Mewahnya Disita, Anggota DPRD Kota Bengkulu Vinna Ledy Ternyata Sudah 2 Kali Diperiksa KPK

News | Rabu, 02 September 2026 | 15:53 WIB

Kabut Asap, Gubernur Kalteng Kumpulkan ASN Gelar Apel Penanganan Karhutla

Kabut Asap, Gubernur Kalteng Kumpulkan ASN Gelar Apel Penanganan Karhutla

Kaltim | Rabu, 02 September 2026 | 15:51 WIB

Data Terbaru Ungkap Sebaran Stasiun Baterai Motor Listrik Masih Menumpuk di Pulau Jawa

Data Terbaru Ungkap Sebaran Stasiun Baterai Motor Listrik Masih Menumpuk di Pulau Jawa

Otomotif | Rabu, 02 September 2026 | 15:50 WIB

×