- PT Pertamina mengembangkan bahan bakar ramah lingkungan Sustainable Aviation Fuel menggunakan minyak jelantah rumah tangga pada 2026.
- Masyarakat dapat menyalurkan minyak bekas melalui SPBU Pertamina untuk mendapatkan nilai ekonomi dari limbah dapur tersebut.
- Pertamina Patra Niaga memperluas sertifikasi ISCC di lima lokasi pada Agustus 2026 guna memastikan keberlanjutan SAF.
Suara.com - Selama ini, minyak jelantah lebih sering dipandang sebagai limbah yang sudah tidak terpakai. Setelah digunakan untuk menggoreng, minyak bekas biasanya berakhir di tempat sampah atau saluran pembuangan.
Namun, anggapan itu mulai berubah. Di tengah upaya mencari sumber energi dengan emisi lebih rendah, minyak jelantah justru dilirik sebagai salah satu bahan baku untuk energi alternatif, termasuk Sustainable Aviation Fuel (SAF) untuk penerbangan.
Corporate Secretary PT Pertamina (Persero) Arya Dwi Paramita mengatakan pengembangan SAF menjadi salah satu arah perusahaan dalam membangun bisnis energi yang lebih berorientasi pada masa depan. Salah satu bahan baku yang dapat dimanfaatkan adalah used cooking oil (UCO).
Hal itu disampaikan Arya saat berbicara dalam IdeaFest 2026 dalam sesi “The Human Core of Innovation: Integrity and Transparency in Our Carbon Journey”.

“Cara kita bisa bergeser ke growth strategy yang lebih future oriented, yang lebih ramah lingkungan. Kita bikin Sustainable Aviation Fuel. Itu yang kita mix,” ujar Arya, Jumat, (04/09/2026).
Menurut Arya, pemanfaatan minyak jelantah juga tidak hanya berkaitan dengan persoalan lingkungan. Ada peluang ekonomi yang bisa muncul ketika limbah tersebut masuk ke dalam rantai pasok energi.
Minyak jelantah yang dikumpulkan masyarakat kini dapat disalurkan melalui titik-titik pengumpulan, termasuk di sejumlah SPBU Pertamina.
“Used cooking oil itu diperebutkan di luar sana. Jadi, ibu-ibu yang suka ngumpulin minyak jelantah, itu bisa dimiliki uang,” kata Arya.
Dengan demikian, minyak bekas dari dapur tidak lagi sekadar dipandang sebagai sesuatu yang harus dibuang. Ia dapat menjadi komoditas yang menghubungkan rumah tangga dengan industri energi.
Namun, menjadikan UCO sebagai bahan baku SAF bukan sekadar persoalan mengumpulkan minyak sebanyak-banyaknya.
Ada tantangan untuk memastikan dari mana bahan baku berasal, bagaimana proses pengumpulannya, bagaimana minyak tersebut diproses, hingga ke mana akhirnya disalurkan. Jejak tersebut penting untuk memastikan klaim keberlanjutan dapat dipertanggungjawabkan.
Untuk itu, PT Pertamina Patra Niaga memperluas sertifikasi International Sustainability and Carbon Certification (ISCC) menjadi lima lokasi pada 2026. Sertifikasi yang terbit 8 Agustus 2026 tersebut mencakup AFT Soekarno-Hatta, AFT Halim Perdanakusuma, AFT Ngurah Rai, AFT Juanda, dan Integrated Terminal Surabaya.
Sertifikasi tersebut mencakup aspek compliance, governance, traceability, dan chain of custody dalam pengelolaan SAF dan atribut keberlanjutannya.
AFT Juanda juga membuka peluang untuk menangkap permintaan SAF dari maskapai di Surabaya dan sekitarnya, sementara Integrated Terminal Surabaya menjadi terminal terpadu pertama Pertamina Patra Niaga yang memperoleh sertifikasi ISCC.
Langkah ini sekaligus mempersiapkan implementasi mandat SAF pemerintah mulai 2027 dan menjadi bagian dari strategi Pertamina mengembangkan ekosistem biofuel serta bisnis rendah karbon untuk mendukung target Net Zero Emission Indonesia 2060.