Regulasi Kehutanan Dinilai Mandul, Hutan Indonesia Terancam Karhutla

Mohammad Fadil Djailani

Sabtu, 05 September 2026 | 23:05 WIB
Regulasi Kehutanan Dinilai Mandul, Hutan Indonesia Terancam Karhutla
Api membakar lahan di Kelurahan Menteng, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Kamis (27/8/2026). [ANTARA FOTO/Auliya Rahman/foc]
baca 10 detik
  • Regulasi kehutanan dinilai belum kuat mencegah dan mengawasi karhutla.
  • UU Kehutanan lebih fokus pada status kawasan dan pemanfaatan hutan.
  • Aspek pemulihan hutan minim, dinilai mencerminkan salah paradigma regulasi.

Suara.com - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali membayangi Indonesia di tengah memasuki puncak musim kemarau. Namun, kesiapan dari sisi regulasi justru dinilai masih menyisakan celah besar dalam melindungi hutan dari kerusakan.

Kepala Divisi Kehutanan dan Keanekaragaman Hayati Indonesia Center for Environmental Law (ICEL) Adam Putra Firdaus menilai regulasi kehutanan yang berlaku saat ini belum memadai untuk memastikan perlindungan hutan, terutama dalam aspek pencegahan, pengawasan, hingga pemulihan setelah terjadi karhutla.

Menurut Adam, persoalan tersebut berakar dari paradigma dalam Undang-Undang Kehutanan yang lebih banyak berfokus pada penetapan status kawasan dan pemanfaatan hutan ketimbang perlindungan terhadap hutan.

"UU Kehutanan ini saat ini hadir bukan untuk melindungi hutan, dia hadir untuk memberikan ukuran kawasan dan mengatur bagaimana aturan main pemanfaatan hutan," ujar Adam dalam diskusi publik bertajuk Memasuki Puncak Kemarau & Ancaman El Nino Sejauh Mana Kesiapan Penanganan Karhutla Indonesia di Gedung IASTH, Kampus Universitas Indonesia (UI) Salemba, Sabtu (5/9/2026).

Adam menjelaskan, UU Kehutanan pada dasarnya mengatur dua aspek utama, yakni status kawasan hutan, seperti hutan produksi dan hutan lindung, serta mekanisme pemanfaatan hutan, termasuk perizinan.

Masalahnya, kerangka tersebut dinilai belum memberikan landasan yang kuat mengenai bagaimana hutan harus dicegah dari kebakaran, diawasi ketika muncul potensi kerusakan, maupun dipulihkan setelah mengalami kebakaran.

"Kalau kita lihat Undang-Undang Kehutanan sebenarnya apa yang diatur di dalamnya bukan soal kita melindungi hutan, bukan soal bagaimana misalnya terjadi kebakaran hutan itu bisa dipulihkan, bagaimana mekanisme itu berjalan, bukan soal itu," katanya.

Kondisi ini membuat perlindungan hutan berpotensi berjalan pincang. Ketika aturan lebih kuat mengatur siapa yang dapat memanfaatkan kawasan dan bagaimana pemanfaatannya, mekanisme untuk memastikan hutan tetap terlindungi justru dinilai belum menjadi fondasi utama.

Kelemahan serupa juga terlihat dalam draf UU Kehutanan yang ada saat ini. Adam menyoroti minimnya pengaturan mengenai aspek pemulihan hutan setelah mengalami kerusakan.

baca juga

Ia bahkan menyebut kata "pemulihan" hanya muncul tiga kali dalam draf tersebut. Kondisi ini dinilai sangat timpang jika dibandingkan dengan UU Lingkungan yang memberikan perhatian lebih besar terhadap aspek pemulihan.

"Timpang sekali dengan UU Lingkungan yang semuanya bicara tentang pemulihan," tuturnya.

Adam menilai kondisi tersebut menunjukkan adanya kesalahan paradigma dalam penyusunan regulasi kehutanan. UU Kehutanan semestinya tidak berhenti pada persoalan status kawasan dan pemanfaatannya.

Menurut dia, regulasi kehutanan juga harus menjadi instrumen utama untuk mencegah kerusakan, memperkuat pengawasan, serta memastikan pemulihan hutan ketika terjadi kebakaran.

"Secara hukum kita nggak mengkonsumsikan UU Kehutanan ini untuk mencegah, melakukan pengawasan, mendorong pemulihan. Pada akhirnya kesalahan paradigma ini turun terus ke dalam aturan-aturan turunannya," pungkasnya.

Reporter : Agustin Dwi Anggraini

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Perintah Padamkan Api Mudah, Eksekusinya Sulit: Peneliti UI Ungkap Derita di Lokasi Karhutla

Perintah Padamkan Api Mudah, Eksekusinya Sulit: Peneliti UI Ungkap Derita di Lokasi Karhutla

News | Sabtu, 05 September 2026 | 20:47 WIB

Titik Api Sudah Terpetakan, Kenapa Korporasi Sulit Dijerat? Pakar UGM Bongkar Caranya

Titik Api Sudah Terpetakan, Kenapa Korporasi Sulit Dijerat? Pakar UGM Bongkar Caranya

News | Sabtu, 05 September 2026 | 20:23 WIB

Pakar UMY Kritik Keras Penanganan Karhutla: Memidana 400 Orang Tak Bakal Buat Jera

Pakar UMY Kritik Keras Penanganan Karhutla: Memidana 400 Orang Tak Bakal Buat Jera

News | Sabtu, 05 September 2026 | 19:00 WIB

Terkini

Romantis! Alpha Drive One Bahas Koneksi Emosional di Lagu Baru, Talk To Me

Romantis! Alpha Drive One Bahas Koneksi Emosional di Lagu Baru, Talk To Me

Your Say | Rabu, 28 Oktober 2026 | 19:50 WIB

Dea OnlyFans Ikut Demo Indonesia Sadar 28 Oktober: Selfie dengan Simbol Tiga Jari

Dea OnlyFans Ikut Demo Indonesia Sadar 28 Oktober: Selfie dengan Simbol Tiga Jari

News | Rabu, 28 Oktober 2026 | 19:46 WIB

Tutup Jalan Slamet Riyadi, Aliansi Mahasiswa Soloraya Teriakkan 'Prabowo-Gibran Penuh Kegagalan!'

Tutup Jalan Slamet Riyadi, Aliansi Mahasiswa Soloraya Teriakkan 'Prabowo-Gibran Penuh Kegagalan!'

Surakarta | Rabu, 28 Oktober 2026 | 19:43 WIB

Diguyur Hujan Deras, Situasi Terkini Bundaran HI: Massa Bertahan, Jalur Ditutup

Diguyur Hujan Deras, Situasi Terkini Bundaran HI: Massa Bertahan, Jalur Ditutup

News | Rabu, 28 Oktober 2026 | 19:43 WIB

Terus Kembangkan Inovasi Transformasi Digital, Pegadaian Raih The Finance Special Award 2026

Terus Kembangkan Inovasi Transformasi Digital, Pegadaian Raih The Finance Special Award 2026

Bisnis | Rabu, 28 Oktober 2026 | 19:39 WIB

AI Mulai Masuk Ruang Kelas, Guru Harus Ajarkan Siswa Cara Cek Fakta

AI Mulai Masuk Ruang Kelas, Guru Harus Ajarkan Siswa Cara Cek Fakta

Lifestyle | Rabu, 28 Oktober 2026 | 19:36 WIB

Cair! Pemprov Riau Dapat Rp30 Miliar untuk Penanganan Karhutla

Cair! Pemprov Riau Dapat Rp30 Miliar untuk Penanganan Karhutla

Riau | Rabu, 28 Oktober 2026 | 19:33 WIB

Muka Tegang Polisi Hadapi Pendemo 28 Oktober, Diuji Nahan Ketawa dengan Atraksi Sepeda Muter

Muka Tegang Polisi Hadapi Pendemo 28 Oktober, Diuji Nahan Ketawa dengan Atraksi Sepeda Muter

News | Rabu, 28 Oktober 2026 | 19:30 WIB

Masih Proses Transisi, Impor Migas Lewat Lemigas Belum Berjalan

Masih Proses Transisi, Impor Migas Lewat Lemigas Belum Berjalan

Bisnis | Rabu, 28 Oktober 2026 | 19:28 WIB

UNDIP dan Bhimasena Power Luncurkan Produk Hilirisasi Riset AFA dan APR

UNDIP dan Bhimasena Power Luncurkan Produk Hilirisasi Riset AFA dan APR

Jawa Tengah | Rabu, 28 Oktober 2026 | 19:26 WIB

×