Perintah Padamkan Api Mudah, Eksekusinya Sulit: Peneliti UI Ungkap Derita di Lokasi Karhutla

Galih Prasetyo

Sabtu, 05 September 2026 | 20:47 WIB
Perintah Padamkan Api Mudah, Eksekusinya Sulit: Peneliti UI Ungkap Derita di Lokasi Karhutla
Karhutla melanda gunung Ijen yang berada di perbatasan Banyuwanyi-Bondowoso, Jumat (4/9/2026). [BPBD Bondowoso]
baca 10 detik
  • Peneliti UI Sofyan Ansori menyatakan penanganan karhutla membebani relawan Masyarakat Peduli Api akibat minimnya jumlah dan insentif.
  • Aturan pelarangan pembakaran sejak 2015 menyulitkan masyarakat adat berladang tradisional tanpa menyediakan alternatif ekonomi yang jelas.
  • Aparat TNI dan Polri di lapangan turut kesulitan memadamkan api karena luas wilayah serta hambatan akses.

Suara.com - Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menghadapi persoalan di tingkat lapangan.

Peneliti sekaligus Wakil Ketua Departemen Antropologi Universitas Indonesia, Dr. Sofyan Ansori, mengatakan beban penanganan karhutla tidak hanya dirasakan masyarakat lokal, tetapi juga Masyarakat Peduli Api (MPA) hingga aparat yang bertugas memadamkan api.

“Masyarakat Peduli Api siapa mereka, mereka adalah volunteer sekitar 20-an orang, awalnya bisa 30 karena antusias, tapi kenyataan setelah tahun-tahun setelahnya sisa 5 orang, sisa 7 orang,” kata Sofyan.

Sofyan mengatakan menyusutnya jumlah anggota MPA berkaitan dengan minimnya dukungan yang diberikan kepada para relawan.

Menurutnya, dukungan biasanya baru diberikan saat musim kemarau dengan insentif yang terbatas.

Peneliti sekaligus Wakil Ketua Departemen Antropologi Universitas Indonesia, Dr. Sofyan Ansori, mengatakan beban penanganan karhutla tidak hanya dirasakan masyarakat lokal, tetapi juga Masyarakat Peduli Api (MPA) hingga aparat yang bertugas memadamkan api. [Suara.com/Agustin Dwi]
Peneliti sekaligus Wakil Ketua Departemen Antropologi Universitas Indonesia, Dr. Sofyan Ansori, mengatakan beban penanganan karhutla tidak hanya dirasakan masyarakat lokal, tetapi juga Masyarakat Peduli Api (MPA) hingga aparat yang bertugas memadamkan api. [Suara.com/Agustin Dwi]

“Teman-teman MPA ini hanya dapat dukungan ketika musim kemarau, padahal dukungannya sangat-sangat minimal. Mereka dibayar sekitar Rp100.000 sampai Rp150.000 per orang, itu pun tidak semuanya dapat,” ujarnya.

Di sisi lain, masyarakat adat juga menghadapi persoalan ketika praktik berladang tradisional dibatasi oleh aturan.

Sofyan mengatakan larangan penggunaan api tidak diikuti dengan alternatif bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan ekonominya.

“Tahun 2015 muncul aturan yang menganulir seluruh aturan daerah yang memungkinkan orang setempat berladang secara tradisional. Habis itu tidak boleh lagi pakai api sama sekali," tegasnya.

baca juga

Menurut Sofyan, kondisi tersebut membuat masyarakat lokal berada dalam posisi sulit karena harus menjaga lingkungan di tengah ruang hidup yang semakin terimpit.

Ia menilai persoalan karhutla tidak cukup diselesaikan hanya dengan larangan, tanpa memberikan pilihan lain kepada masyarakat.

“Mereka dilarang, tapi alternatifnya tidak ada,” katanya.

Beban penanganan karhutla juga dirasakan aparat TNI dan Polri yang bertugas di lapangan.

Sofyan mengatakan luas wilayah dan sulitnya akses menuju titik api membuat proses pemadaman tidak mudah dilakukan.

“Bukan cuma masyarakat, tentara dan polisi di sana juga menderita. Komandannya enak bilang padamkan, padahal kita datang ke sana, sampai ke titik api saja belum tentu bisa,” ungkapnya.

Reporter: Agustin Dwi Anggraini

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Titik Api Sudah Terpetakan, Kenapa Korporasi Sulit Dijerat? Pakar UGM Bongkar Caranya

Titik Api Sudah Terpetakan, Kenapa Korporasi Sulit Dijerat? Pakar UGM Bongkar Caranya

News | Sabtu, 05 September 2026 | 20:23 WIB

Anggaran Cegah Karhutla Seret, Pemerintah Baru Bisa Bergerak Saat Api Membesar

Anggaran Cegah Karhutla Seret, Pemerintah Baru Bisa Bergerak Saat Api Membesar

Bisnis | Sabtu, 05 September 2026 | 18:56 WIB

Pakar UMY Kritik Keras Penanganan Karhutla: Memidana 400 Orang Tak Bakal Buat Jera

Pakar UMY Kritik Keras Penanganan Karhutla: Memidana 400 Orang Tak Bakal Buat Jera

News | Sabtu, 05 September 2026 | 19:00 WIB

3 Negara Tetangga Menjerit! Kebakaran di Indonesia Hasilkan 23 Juta Metrik Ton Emisi Karbon

3 Negara Tetangga Menjerit! Kebakaran di Indonesia Hasilkan 23 Juta Metrik Ton Emisi Karbon

News | Sabtu, 05 September 2026 | 16:35 WIB

Malaysia Tetapkan Darurat Kabut Asap, Begini Curhatan Warga Serawak: Jangan Lockdown

Malaysia Tetapkan Darurat Kabut Asap, Begini Curhatan Warga Serawak: Jangan Lockdown

News | Sabtu, 05 September 2026 | 16:05 WIB

Terkini

Rupiah Babak Belur! Tembus Level Rp17.624 per Dolar AS Pagi Ini

Rupiah Babak Belur! Tembus Level Rp17.624 per Dolar AS Pagi Ini

Bisnis | Senin, 14 September 2026 | 10:39 WIB

Serba Salah Jadi Multifandom: Niat Cari Hiburan, Malah Terjebak Perang Antar-Fandom

Serba Salah Jadi Multifandom: Niat Cari Hiburan, Malah Terjebak Perang Antar-Fandom

Your Say | Senin, 14 September 2026 | 10:38 WIB

Pasar Valas Dibayangi Gejolak, September Jadi Bulan Penuh Risiko

Pasar Valas Dibayangi Gejolak, September Jadi Bulan Penuh Risiko

Bisnis | Senin, 14 September 2026 | 10:35 WIB

Pertumbuhan Ekonomi RI Diproyeksi Capai 5,2% pada 2026

Pertumbuhan Ekonomi RI Diproyeksi Capai 5,2% pada 2026

Bisnis | Senin, 14 September 2026 | 10:33 WIB

6 Serum Tranexamic Acid untuk Melasma dan PIH, Mulai Rp34 Ribuan

6 Serum Tranexamic Acid untuk Melasma dan PIH, Mulai Rp34 Ribuan

Lifestyle | Senin, 14 September 2026 | 10:30 WIB

Polisi Sebut Wanita di Video Viral Biksu Thailand Mendadak Kaya Sejak Bolak Balik Masuk Kuil

Polisi Sebut Wanita di Video Viral Biksu Thailand Mendadak Kaya Sejak Bolak Balik Masuk Kuil

News | Senin, 14 September 2026 | 10:30 WIB

3 Orang Ditembak Mati Jelang Pemilu Perdana di Bangsamoro Filipina

3 Orang Ditembak Mati Jelang Pemilu Perdana di Bangsamoro Filipina

News | Senin, 14 September 2026 | 10:28 WIB

8 Lip Balm Berwarna untuk Bibir Hitam, Murah Bikin Tampak Segar Natural

8 Lip Balm Berwarna untuk Bibir Hitam, Murah Bikin Tampak Segar Natural

Lifestyle | Senin, 14 September 2026 | 10:25 WIB

18 Kapal dan 1 Helikopter Dikerahkan Cari Jurnalis Hilang di Selat Sunda

18 Kapal dan 1 Helikopter Dikerahkan Cari Jurnalis Hilang di Selat Sunda

News | Senin, 14 September 2026 | 10:24 WIB

Wacana Wajib Rekening Bank untuk Warga, Ekonom Ingatkan Ancaman dan Beban APBN

Wacana Wajib Rekening Bank untuk Warga, Ekonom Ingatkan Ancaman dan Beban APBN

Bisnis | Senin, 14 September 2026 | 10:17 WIB

×