- Erupsi Gunung Anak Krakatau pada Minggu, 6 September 2026, memicu pembatalan 19 jadwal penerbangan Singapore Airlines.
- Bandara Soekarno-Hatta memperpanjang penutupan operasional hingga sore hari karena sebaran abu vulkanik dan peningkatan erupsi.
- Sebanyak 301 penerbangan terdampak dan enam bandara dihentikan sementara demi mengantisipasi bahaya abu vulkanik.
Suara.com - Sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau memaksa Singapore Airlines membatalkan sejumlah jadwal penerbangan dari dan menuju Jakarta pada Minggu (6/9/2026).
Gangguan penerbangan terjadi setelah pengelola Bandara Internasional Soekarno-Hatta memperpanjang penangguhan operasional hingga Minggu (6/9/2026) pukul 17.30 WIB.
Keputusan tersebut diambil sebagai langkah antisipasi keselamatan setelah Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi sejak Sabtu.
Imbas Erupsi pada Maskapai Singapura

Singapore Airlines menjadi salah satu maskapai asing yang terdampak langsung oleh kondisi tersebut.
Maskapai asal Singapura itu secara resmi membatalkan 19 jadwal penerbangan yang menghubungkan Singapura dengan Jakarta pada Minggu.
Mereka juga memperingatkan penumpang bahwa jadwal penerbangan lainnya antara Singapura dan Indonesia masih berpotensi mengalami gangguan.
"Karena situasi masih terus berubah, penerbangan SIA lainnya antara Singapura dan Indonesia mungkin akan terpengaruh," kata pihak maskapai Singapore Airlines dikutip dari CNA.
Para penumpang diimbau untuk terus memeriksa halaman status penerbangan Singapore Airlines secara berkala guna mendapatkan informasi terbaru mengenai perjalanan mereka.
Ratusan Penerbangan Internasional Terdampak
Selain rute Singapura, penerbangan internasional lainnya yang mengalami penundaan atau pembatalan meliputi tujuan Kuala Lumpur, Guangzhou, Hong Kong, hingga Doha.
Berdasarkan data lalu lintas udara pada pukul 01.30 hingga 13.30 WIB, tercatat 301 penerbangan terdampak langsung oleh erupsi ini.
Gangguan tersebut mencakup 233 penerbangan domestik, 58 penerbangan internasional, serta 10 penerbangan kargo yang dibatalkan atau dialihkan.
Pengelola bandara melalui akun Instagram resminya menyebutkan penangguhan operasional diperpanjang hingga sore hari menyusul peningkatan aktivitas erupsi.
"Karena peningkatan aktivitas erupsi," tulis pernyataan resmi pihak Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Alternatif Pendaratan dan Kondisi Penumpang
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengungkapkan bahwa operasional penerbangan dihentikan sementara di enam bandara berbeda.
Penutupan tersebut turut mencakup Bandara Husein Sastranegara di Bandung serta Bandara Radin Inten II di dekat Bandar Lampung.
Beberapa bandara besar di kota lain, termasuk Semarang dan Surabaya, disiapkan sebagai landasan alternatif bagi pesawat yang harus dialihkan dari Jakarta.
Di Bandara Soekarno-Hatta, antrean penumpang terdampak mulai terlihat di berbagai terminal untuk mengurus pengembalian dana maupun penjadwalan ulang.
Menghadapi situasi tersebut, pihak bandara berkoordinasi dengan maskapai untuk menyediakan makanan ringan serta bus menuju hotel bagi penumpang.
Respons Tenang dari Para Penumpang
Seorang penumpang bernama Henny Yensan yang terpaksa menjadwalkan ulang penerbangannya ke Selasa mengaku kecewa dengan penundaan tersebut.
"Tidak ada yang marah besar, karena bagaimanapun juga, ini disebabkan oleh bencana alam," kata Henny.
Hal senada diungkapkan Samuel Guiberteau, seorang eksekutif Danone yang sedang mencari penerbangan alternatif untuk kembali ke Jakarta dari Lombok.
"Belum ada yang pasti untuk saat ini," kata Samuel.
Di tengah ketidakpastian penerbangan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan sebaran abu vulkanik telah mencapai ketinggian 6.000 meter di sisi Pulau Jawa dan 15.000 meter di sisi Pulau Sumatera serta sebagian Banten.
Imbauan Waspada dari BNPB
Menyikapi hujan abu tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengeluarkan imbauan keselamatan bagi masyarakat di sekitar lokasi terdampak.
"Mengimbau masyarakat untuk tetap tenang sambil meningkatkan kewaspadaan," kata Juru Bicara BNPB Berton Panjaitan.
"Jika terjadi hujan abu, masyarakat disarankan memakai masker dan pelindung mata, mengurangi aktivitas di luar ruangan, menutup sumber air, serta berhati-hati saat berkendara, karena abu vulkanik dapat mengurangi jarak pandang," tambah Berton Panjaitan.
Kepala Badan Geologi Indonesia, Lana Saria, menjelaskan bahwa Gunung Anak Krakatau mulai menunjukkan tanda-tanda peningkatan aktivitas sejak Juli lalu.
"Namun, letusan yang sering terjadi tidak secara otomatis berarti akan terjadi letusan yang lebih besar," kata Lana Saria.
Sejarah Letusan Anak Krakatau
Gunung Anak Krakatau secara geografis terletak di antara Pulau Jawa dan Sumatera, dalam kawasan Cincin Api Pasifik.
Kawasan vulkanik tersebut memiliki sejarah letusan mematikan, termasuk erupsi pada 2018 yang memicu tsunami dan menewaskan ratusan orang di pesisir Banten serta Lampung.
Gunung api ini muncul dari kaldera bekas letusan dahsyat Gunung Krakatau pada 1883.
Rangkaian letusan Gunung Krakatau pada abad ke-19 tercatat sebagai salah satu bencana alam terbesar di dunia. Gelombang tsunami yang ditimbulkannya menewaskan lebih dari 36.000 orang.