- Fasilitas riset HAARP di Alaska dituduh memicu bencana alam seperti gempa bumi dan erupsi gunung.
- Para ahli menegaskan klaim tersebut salah karena HAARP hanya meneliti ionosfer, bukan kerak Bumi.
- Perbedaan skala energi membuktikan fasilitas radio tersebut tidak mampu menghasilkan gempa tektonik besar secara alami.
Situs resmi HAARP menjelaskan bahwa instrumen utamanya digunakan untuk mengeksitasi wilayah terbatas ionosfer agar proses fisika di kawasan tersebut dapat dipelajari.
Pakar: Gempa Besar Tidak Bisa Dijelaskan dengan Mekanisme HAARP
Gempa bumi terjadi akibat pelepasan energi di dalam kerak Bumi, terutama akibat pergerakan patahan.
Dalam kasus gempa besar Turki dan Suriah pada 2023, misalnya, ahli seismologi menjelaskan bahwa gempa tersebut terjadi secara alami di sepanjang East Anatolian Fault.
Peneliti seismologi dari University of Melbourne, Januka Attanayake, menjelaskan bahwa pergerakan tektonik alami menyebabkan gempa bermagnitudo 7,8 tersebut.
Besarnya energi yang dilepaskan juga menjadi salah satu alasan mengapa skenario gempa buatan tidak masuk akal.
Klaim serupa juga muncul setelah sejumlah gempa lainnya.
Pada Agustus 2026, misalnya, teori konspirasi kembali mengaitkan HAARP dengan gempa bermagnitudo 7,4 di Kolombia.
Associated Press melaporkan bahwa klaim tersebut keliru dan para ahli menyatakan gempa itu disebabkan oleh pergerakan alami kerak Bumi.
Energi Gempa Jauh Berbeda dengan Kemampuan HAARP
Salah satu persoalan terbesar dalam klaim HAARP sebagai pemicu gempa adalah persoalan energi dan lokasi.
HAARP bekerja pada ionosfer, sedangkan gempa bumi besar berlangsung akibat proses geologi di kerak Bumi.
Untuk membandingkan skalanya, ahli yang dikutip RMIT FactLab memperkirakan gempa magnitudo 7,8 melepaskan energi sekitar 32 petajoule.
Jika energi yang dibutuhkan untuk memecahkan batuan turut diperhitungkan, kebutuhan energinya jauh lebih besar.
Karena itu, keberadaan pemancar radio berdaya tinggi di Alaska tidak serta-merta membuat fasilitas tersebut mampu memindahkan energi dalam skala yang dibutuhkan untuk menghasilkan gempa tektonik besar.
Tetapi HAARP Memang Bisa Mengubah Ionosfer
Di sinilah fakta dan teori konspirasi sering tercampur.
HAARP memang bukan fasilitas biasa. Pemancar HF-nya dapat memanaskan wilayah kecil ionosfer sehingga para ilmuwan bisa mempelajari perubahan plasma secara terkontrol.
Situs resmi HAARP menyebut eksperimen tersebut digunakan untuk mempelajari proses fisika yang terjadi pada wilayah ionosfer yang dieksitasi.
Penelitian ilmiah juga telah menunjukkan bahwa pemanasan HF dari HAARP dapat menghasilkan perubahan pada plasma ionosfer.
Artinya, klaim bahwa HAARP dapat memengaruhi atmosfer memiliki sebagian dasar faktual.
Yang keliru adalah memperluas kemampuan tersebut menjadi klaim bahwa HAARP dapat mengendalikan cuaca atau menggerakkan lempeng tektonik.
Penelitian Terbaru Justru Fokus pada Fisika Plasma
Penelitian terbaru tentang HAARP menunjukkan fokus ilmuwan masih berada pada fenomena ionosfer dan plasma.
Salah satu penelitian membahas bagaimana gelombang radio HF berinteraksi dengan plasma dan medan magnet Bumi.
Studi tersebut menunjukkan bahwa arah gelombang terhadap medan geomagnetik dan kondisi plasma berpengaruh terhadap proses propagasi gelombang di ionosfer.
Penelitian seperti ini penting untuk memahami komunikasi radio, propagasi gelombang, serta dinamika lingkungan antariksa di sekitar Bumi.
Tidak ada bagian dari penelitian tersebut yang menunjukkan HAARP dapat mengendalikan patahan geologi atau menghasilkan gempa bumi.
Mengapa Teori HAARP Terus Muncul Setelah Gempa?
Kemunculan teori HAARP setelah bencana bukan fenomena baru.
Sebuah penelitian yang diterbitkan di Humanities and Social Sciences Communications menganalisis lebih dari satu juta unggahan di Twitter terkait teori konspirasi HAARP dan gempa Turki-Suriah 2023.
Penelitian tersebut menunjukkan bagaimana perhatian terhadap teori konspirasi HAARP meningkat di sekitar peristiwa gempa besar.
Pola semacam ini juga terlihat pada sejumlah bencana lain.
Setelah gempa besar terjadi, foto cahaya di langit, aktivitas atmosfer, hingga keberadaan fasilitas penelitian dapat disatukan dalam sebuah narasi sebab-akibat meski tidak memiliki hubungan kausal yang terbukti.
HAARP Juga Tidak Terbukti Mengendalikan Cuaca
Klaim lain yang sering berjalan bersamaan dengan teori gempa adalah bahwa HAARP dapat menciptakan badai, tornado atau mengubah pola cuaca.
Para ahli yang dikutip RMIT FactLab menyatakan HAARP tidak memiliki kemampuan tersebut.
Salah satu alasannya adalah cuaca terjadi terutama di troposfer, sedangkan HAARP beroperasi untuk mempelajari ionosfer di atmosfer atas.
National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) juga telah menerbitkan penjelasan untuk membantah berbagai klaim tidak akurat mengenai modifikasi cuaca.