- Tenaga Ahli KSP Ulta Levenia mengaitkan erupsi enam gunung di Indonesia dengan proyek HAARP.
- Pernyataan kontroversial Ulta di media sosial tersebut menuai banyak kritik pedas dari netizen.
- Pendiri Kaskus Andrew Darwis menegaskan bahwa gelombang HAARP tidak mampu menembus kerak bumi untuk memicu gempa.
Suara.com - Fenomena erupsi enam gunung api di Indonesia dalam periode yang berdekatan jadi perhatian seluruh masyarakat saat ini.
Namun di tengah situasi seperti saat ini, pernyatana kontroversial justru dikeluarkan oleh Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), Ulta Levenia.
Ulfa mengaitkan fenomena tersebut dengan proyek High-frequency Active Auroral Research Program (HAARP).
Melalui pernyataannya, Ulta mempertanyakan apakah rangkaian erupsi tersebut sepenuhnya disebabkan fenomena alam atau terdapat faktor lain di balik kejadian itu.
Ulta mengakui pandangannya mengenai HAARP berpotensi dikategorikan sebagai teori konspirasi. Namun, ia menyebut dirinya sebagai pribadi yang skeptis dan tidak ingin langsung menerima begitu saja penjelasan yang dianggap umum.
"Walau gak ada bukti ilmiah yang kredibel, tapi otak skeptis pasti berpikir atau setidaknya entertain pemikiran," tulis Ulta dalam pernyataannya seperti dikutip dari akun Instagram miliknya.
Ulta kemudian menyoroti enam gunung api di Indonesia yang mengalami erupsi dalam waktu berdekatan.
Ia mempertanyakan apakah rangkaian aktivitas vulkanik tersebut murni merupakan fenomena alam.
Pernyataan itu kemudian dikaitkan Ulta dengan pertemuan Presiden RI dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Vladivostok.
Ia menyoroti waktu pertemuan tersebut yang disebutnya terjadi sehari sebelum sejumlah gunung api mengalami erupsi.
"Kenapa sehari setelah Presiden RI bersalaman mesra dengan Putin di Vladivostok, enam gunung vulkanik Indonesia erupsi secara bersamaan?" tulis Ulta.
Pernyataan Ulfa ini sontak saja membuat netizen banyak memberikan kritik pedas.
Andrew Darwis Singgung Teori HAARP
Pendiri forum Kaskus, Andrew Darwis, turut menyinggung isu HAARP melalui akun X miliknya.
Ia mengajak masyarakat membedakan antara klaim teori konspirasi dan fakta ilmiah terkait fenomena gempa serta aktivitas geologi di Indonesia.