- Amnesty International Indonesia mendesak pemerintah menghentikan program makan bergizi gratis pada Selasa, 8 September 2026.
- Desakan tersebut muncul setelah seorang siswa SMK di Karo diduga mengalami hilang ingatan akibat keracunan makanan.
- JPPI mencatat 43.838 orang di 36 provinsi telah menjadi korban keracunan akibat program pemerintah itu.
Suara.com - Amnesty International Indonesia meminta pemerintah untuk menyetop program makan bergizi gratis (MBG) pasca munculnya kabar seorang siswa SMK Karo yang diduga mengalami hilang ingatan usai menyantap menu dari program andalan pemerintah itu pada Agustus lalu.
Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid mengatakan, kasus tersebut merupakan bentuk dari kegagalan negara dalam melindungi warganya.
Menurut Usman, maraknya kasus keracunan yang diakibatkan menu MBG harus dibaca sebagai alarm pemerintah untuk menyetop program itu sesegera mungkin. Dia bahkan berpendapat kalau MBG tidak layak untuk diteruskan.
"Menghancurkan daya ingat seorang anak jelas mengancam masa depannya, bukan hanya melanggar hak atas pangan yang sehat dan hak pendidikan layak, tapi juga hak atas masa depan," kata Usman pada Selasa (8/9/2026).
Mengutip data dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), dia menjabarkan jumlah korban keracunan MBG di 36 provinsi sudah mencapai 43.838 orang.
Amnesty International Indonesia juga meminta aparat penegak hukum untuk turun tangan dan serius untuk mendalami dugaan adanya tindak pidana dalam kasus keracunan massal ini, apalagi sampai menyebabkan seorang anak hilang ingatan.
Menurut Usman, seluruh penyelenggara program harus dimintai pertanggungjawaban atas bobroknya program yang dinilai minim akuntabilitas dan transparansi itu.
"Demi menyelamatkan kesehatan dan nyawa anak-anak Indonesia, negara harus segera menghentikan program MBG," tambah dia.
Sebagai informasi, seorang siswa SMK dengan inisial FBP di Kabupaten Karo, Sumatera Utara mengalami keracunan usai menyantap MBG pada (13/8/2026).
Bahkan, akibat peristiwa itu korban diduga mengalami hilang ingatan sehingga menyebabkan dirinya tak mengenali orang-orang di sekitarnya.
Sampai saat ini keluarga korban masih menunggu hasil pemeriksaan medis setempat guna mendapatkan kepastian akan kondisi yang dialami FBP. (Reporter: Alif Bintang)