Media Asing Sorot Kebakaran Hutan Indonesia Sumbang Emisi Tertinggi Dunia

Pebriansyah Ariefana

Kamis, 10 September 2026 | 11:26 WIB
Media Asing Sorot Kebakaran Hutan Indonesia Sumbang Emisi Tertinggi Dunia
Warga mengendarai sepeda motor saat melintas di samping api yang membakar hutan dan lahan di Kecamatan Sebangau, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Rabu (9/9/2026). [ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/nym]
baca 10 detik
  • Emisi kebakaran hutan Indonesia melonjak ke level tertinggi dunia akibat dampak El Nino ekstrem.

  • Jumlah titik panas dan luas lahan terbakar melampaui catatan periode awal musiman sebelumnya.

  • Asap kebakaran memicu kualitas udara berbahaya di beberapa wilayah Sumatra dan Kalimantan.

Suara.com - Indonesia mencatatkan tingkat emisi akibat kebakaran hutan dan lahan tertinggi di dunia seiring memuncaknya gelombang panas. Fenomena pemicu cuaca ekstrem El Nino memperparah kekeringan sehingga memicu kebakaran hebat di berbagai titik.

Lonjakan emisi kebakaran di wilayah Indonesia ini tercatat melampaui level negara-negara lain pada periode awal September. Kondisi darurat ini paling parah melanda kawasan pulau Kalimantan, Sumatra, hingga wilayah Papua Selatan.

Data Copernicus Atmosphere Monitoring Service menunjukkan intensitas emisi kebakaran periode 1-7 September menembus angka 1.500 kg/km persegi. Angka tersebut mencatatkan lonjakan 273 persen lebih tinggi dibanding rerata musiman serta sepuluh kali lipat melampaui tingkat emisi kebakaran di Rusia.

Foto udara api membakar hutan dan lahan di Kecamatan Sebangau, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Rabu (9/9/2026). [ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/nym]
Foto udara api membakar hutan dan lahan di Kecamatan Sebangau, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Rabu (9/9/2026). [ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/nym]

Kualitas udara di beberapa pusat pemukiman terancam mencapai tingkat yang membahayakan kesehatan warga lokal secara mendadak. Kota Pontianak di Kalimantan Barat mencatat Indeks Kualitas Udara sebesar 394 yang masuk dalam kategori sangat berbahaya.

Kementerian Lingkungan Hidup merespons angka pemantauan kualitas udara tersebut dengan kewaspadaan penuh. Pemerintah menyatakan sedang memantau data Copernicus meski menambahkan bahwa angka tersebut tidak secara langsung mencerminkan kondisi udara di area spesifik.

Platform Sipongi milik Kementerian Kehutanan mencatat sebanyak 13.443 titik panas terdeteksi dari tanggal 1 Agustus hingga 8 September. Angka titik panas berdasarkan satelit Terra dan Aqua milik NASA ini melampaui catatan 9.454 titik panas pada periode sama tahun 2015.

Peningkatan luas area yang terbakar melonjak drastis saat memasuki pertengahan tahun ini. Dari Januari hingga Juli, luas lahan terbakar hanya sekitar 202.000 hektar sebelum akhirnya meluas tajam pada bulan berikutnya.

Perwakilan kelompok lingkungan YKAN, Nisa Novita, menyoroti lonjakan luas lahan terbakar yang terjadi secara mendadak tersebut.

"Namun, data bulan Agustus diperkirakan menunjukkan peningkatan signifikan sekitar 600.000 hektar, khususnya di Kalimantan, Sumatra, dan Papua Selatan," kata dia, dikutip dari Reuters.

baca juga

Para pakar mengkhawatirkan deteksi satelit belum merekam seluruh skala kerusakan lahan gambut di lapangan. Kebakaran bawah tanah sering kali tidak terdeteksi oleh pemantau satelit standar secara langsung.

Ilmuwan senior dari Copernicus Atmosphere Monitoring Service, Mark Parrington, membeberkan keterbatasan sensor satelit dalam memantau kebakaran bawah tanah.

"Salah satu aspek dari kebakaran gambut adalah jika terbakar pada suhu rendah atau di bawah tanah, kebakarannya berada di bawah batas deteksi sensor, yang berarti kita tidak benar-benar melihatnya," katanya.

Cuaca ekstrem membuat pembakaran lahan berisiko tinggi menyebar tanpa terkendali ke wilayah sekitarnya. Suhu udara yang jauh lebih tinggi dan kondisi kering membuat nyala api membakar vegetasi secara agresif.

Kondisi iklim El Nino memberikan tekanan ekstra pada kekeringan tanah di berbagai kawasan rawan kebakaran. Pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa puncak emisi kebakaran bisa terus berlangsung hingga akhir Oktober.

Mark Parrington menjelaskan dampak besar dari kondisi cuaca El Nino terhadap potensi kebakaran hutan di Indonesia.

"Kami memang memperkirakan akan melihat beberapa kebakaran di kawasan ini pada waktu-waktu sekarang, tetapi dengan El Nino, hal itu jelas memberikan dorongan yang besar terhadap kebakaran tersebut," kata Mark Parrington, ilmuwan senior di Copernicus Atmosphere Monitoring Service di Bonn.

Kondisinya jauh lebih kering, lebih panas, dan ketika ada pemicu, kebakaran ini terbakar dengan cara yang jauh lebih ekstrem.

Ancaman kenaikan emisi diperkirakan terus bertahan sepanjang berlangsungnya musim kemarau tahun ini. Pemantauan intensif terus dilakukan untuk mengukur skala keparahan musim kebakaran saat ini dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Mark Parrington mengingatkan bahwa musim kebakaran ini masih berada pada tahap awal perjalanan musimnya.

Indonesia memiliki riwayat panjang sebagai salah satu wilayah yang paling rawan mengalami kebakaran hutan hebat. Krisis iklim El Nino kerap menjadi pemicu utama melonjaknya keparahan bencana asap musiman ini.

Pada krisis kebakaran hutan tahun 2015, Indonesia kehilangan sekitar 2,6 juta hektar lahan akibat terlahap api. Luas kawasan terbakar pada periode tersebut tercatat melampaui total luas wilayah negara Wales.

Studi ilmiah membuktikan bahwa kebakaran tahun 2015 menghasilkan emisi harian yang melebihi gabungan seluruh emisi Uni Eropa. Dampak kabut asap saat itu memicu lebih dari 100.000 kematian dini di Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Konstruksi Hijau Jadi Tren Baru, Produk Rendah Emisi Mulai Didorong

Konstruksi Hijau Jadi Tren Baru, Produk Rendah Emisi Mulai Didorong

Bisnis | Kamis, 10 September 2026 | 08:03 WIB

Karhutla Jadi Bencana Paling Banyak Terjadi di Indonesia, Capai 627 Kejadian

Karhutla Jadi Bencana Paling Banyak Terjadi di Indonesia, Capai 627 Kejadian

Foto | Kamis, 10 September 2026 | 07:00 WIB

Deforestasi dan Karhutla Disebut Jadi Lingkaran Setan: Mengapa?

Deforestasi dan Karhutla Disebut Jadi Lingkaran Setan: Mengapa?

News | Rabu, 09 September 2026 | 18:49 WIB

Terkini

Pencarian 5 Jurnalis dan 3 Awak Kapal Masih Nihil akibat Cuaca Buruk di Lapangan

Pencarian 5 Jurnalis dan 3 Awak Kapal Masih Nihil akibat Cuaca Buruk di Lapangan

Banten | Minggu, 13 September 2026 | 01:36 WIB

Garudayaksa FC Dikalahkan Persik, Milos Joksic Malu

Garudayaksa FC Dikalahkan Persik, Milos Joksic Malu

Bola | Sabtu, 12 September 2026 | 23:50 WIB

Panglima TNI Cup 2026 Jadi Ajang Adu Nyali, Eks Menpora Dito Ariotedjo Ikut Pacu Jetski

Panglima TNI Cup 2026 Jadi Ajang Adu Nyali, Eks Menpora Dito Ariotedjo Ikut Pacu Jetski

Sport | Sabtu, 12 September 2026 | 23:24 WIB

Hari Ke-5 Pencarian Jurnalis Hilang, Tim SAR Temukan Helm dan Jerigen di Perairan Anyer

Hari Ke-5 Pencarian Jurnalis Hilang, Tim SAR Temukan Helm dan Jerigen di Perairan Anyer

News | Sabtu, 12 September 2026 | 22:11 WIB

Sindiran Pelatih Persib Usai Takluk di GBK: Persija Rayakan Kemenangan Seperti Juara Liga Champions

Sindiran Pelatih Persib Usai Takluk di GBK: Persija Rayakan Kemenangan Seperti Juara Liga Champions

Jabar | Sabtu, 12 September 2026 | 21:52 WIB

Titik Terang Hilangnya Jurnalis di Krakatau, Basarnas Temukan 4 Barang di Perairan Selat Sunda

Titik Terang Hilangnya Jurnalis di Krakatau, Basarnas Temukan 4 Barang di Perairan Selat Sunda

Banten | Sabtu, 12 September 2026 | 21:39 WIB

Laba Anjlok 19 Persen, Astra Jor-joran Akuisisi Tambang Emas di Awal 2026

Laba Anjlok 19 Persen, Astra Jor-joran Akuisisi Tambang Emas di Awal 2026

Bisnis | Sabtu, 12 September 2026 | 20:53 WIB

Kisah Perjuangan Tati Purwanti, Mantan PMI yang Sukses Kembangkan Bubur Cirebon di Taipei

Kisah Perjuangan Tati Purwanti, Mantan PMI yang Sukses Kembangkan Bubur Cirebon di Taipei

Bekaci | Sabtu, 12 September 2026 | 20:29 WIB

Dari Cirebon ke Taipei, Tati Purwanti Bawa Kuliner Lokal dan Tumbuh Bersama BRI

Dari Cirebon ke Taipei, Tati Purwanti Bawa Kuliner Lokal dan Tumbuh Bersama BRI

Jakarta | Sabtu, 12 September 2026 | 20:27 WIB

Bubur Cirebon Go International, Kisah Tati Purwanti Bangun Usaha di Taipei

Bubur Cirebon Go International, Kisah Tati Purwanti Bangun Usaha di Taipei

Jawa Tengah | Sabtu, 12 September 2026 | 20:25 WIB

×