Konstruksi Hijau Jadi Tren Baru, Produk Rendah Emisi Mulai Didorong

Mohammad Fadil Djailani

Kamis, 10 September 2026 | 08:03 WIB
Konstruksi Hijau Jadi Tren Baru, Produk Rendah Emisi Mulai Didorong
Ilustrasi. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) terus mendorong pengembangan produk dan solusi bahan bangunan rendah emisi di tengah persaingan industri semen yang semakin ketat. Foto ist.
baca 10 detik
  • Produk semen hijau diklaim memiliki emisi hingga 38% lebih rendah.
  • Sampah, limbah industri, dan biomassa dimanfaatkan sebagai bahan bakar.
  • Energi terbarukan dan digitalisasi didorong untuk menekan biaya produksi.

Suara.com - PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) terus mendorong pengembangan produk dan solusi bahan bangunan rendah emisi di tengah persaingan industri semen yang semakin ketat. Perseroan menilai produk ramah lingkungan menjadi salah satu kunci untuk menjaga daya saing bisnis sekaligus mengikuti tuntutan konstruksi berkelanjutan.

Direktur Operasi SIG Reni Wulandari mengatakan transisi menuju konstruksi rendah emisi membutuhkan dukungan dari seluruh rantai industri, termasuk ketersediaan bahan bangunan yang mampu memenuhi kebutuhan proyek tanpa mengabaikan aspek lingkungan.

"Transisi menuju konstruksi rendah emisi membutuhkan kolaborasi seluruh rantai nilai, sekaligus ketersediaan solusi bahan bangunan untuk berbagai kebutuhan proyek," kata Reni dalam Opening Ceremony Indonesia Green Building Festival 2026 di Patrajasa Yudistira Grand Ballroom, Jakarta, Kamis (3/9/2026).

Menurut dia, SIG mengambil peran dengan menghadirkan produk dan solusi rendah emisi yang diproduksi menggunakan bahan baku serta proses yang lebih ramah lingkungan.

Langkah tersebut dilakukan melalui penerapan prinsip ekonomi sirkular dalam proses produksi. Salah satunya dengan memanfaatkan bahan bakar alternatif berupa sampah perkotaan yang diolah menjadi refuse-derived fuel (RDF), limbah industri, hingga biomassa.

Pemanfaatan bahan bakar alternatif tersebut membuat thermal substitution rate (TSR) di pabrik-pabrik SIG telah mencapai 25%.

SIG juga mulai memperbesar pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) di wilayah operasionalnya. Perseroan menggunakan panel surya serta mengoptimalkan panas buang melalui teknologi Waste Heat Recovery Power Generation (WHRPG) untuk menekan konsumsi energi dan emisi karbon.

Di sisi produksi, SIG mengandalkan digitalisasi pabrik untuk meningkatkan efisiensi dan mengoptimalkan biaya produksi. Salah satunya melalui penggunaan plant optimizer yang telah diterapkan di sejumlah pabrik dan akan diperluas ke fasilitas lainnya.

Berbagai langkah tersebut kemudian digunakan untuk menghasilkan produk semen hijau dengan intensitas emisi yang diklaim hingga 38% lebih rendah dibandingkan semen konvensional, dengan kualitas yang tetap disesuaikan dengan kelas peruntukannya.

baca juga

SIG saat ini memiliki sejumlah varian semen hijau yang telah mendapatkan sertifikasi Green Label, antara lain PwrPro untuk kebutuhan dengan kekuatan awal ekstra dan kemudahan pengerjaan, serta MaxStrength Pro yang ditujukan untuk pengecoran massal dan stabilisasi tanah.

Tak hanya semen, perseroan juga mengembangkan sejumlah produk beton inovatif, seperti beton berpori ThruCrete, beton cepat kering SpeedCrete, beton dekoratif DekoCrete, hingga paving block berpori.

SIG juga mengembangkan Bata Interlock Presisi sebagai solusi konstruksi yang diklaim mampu meningkatkan kecepatan dan efisiensi pembangunan. Sistem bata yang saling mengunci tersebut dirancang untuk menghasilkan bangunan yang kokoh, ramah gempa, dan tahan api.

Reni mengatakan aspek keberlanjutan kini tidak lagi sekadar menjadi pilihan bagi industri, tetapi telah menjadi kebutuhan. Bagi SIG, tren tersebut sekaligus menjadi peluang untuk meningkatkan daya saing di tengah kondisi industri semen yang kompetitif.

"Keberlanjutan bukan lagi sebuah pilihan tetapi keharusan untuk membangun masa depan yang lebih baik. Pada aspek bisnis, SIG menilai keberlanjutan sebagai keunggulan di tengah kondisi industri yang kompetitif," ujarnya.

Selain mengedepankan aspek rendah emisi, produk SIG telah tersertifikasi SNI dan memiliki tingkat komponen dalam negeri (TKDN) lebih dari 90%. Kondisi tersebut dinilai menjadi modal bagi perseroan untuk memperkuat posisi produk SIG di pasar nasional maupun global.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bisnis Semen Mulai Pulih, Penjualan SIG Tembus 18,28 Juta Ton

Bisnis Semen Mulai Pulih, Penjualan SIG Tembus 18,28 Juta Ton

Bisnis | Rabu, 09 September 2026 | 08:36 WIB

3 Negara Tetangga Menjerit! Kebakaran di Indonesia Hasilkan 23 Juta Metrik Ton Emisi Karbon

3 Negara Tetangga Menjerit! Kebakaran di Indonesia Hasilkan 23 Juta Metrik Ton Emisi Karbon

News | Sabtu, 05 September 2026 | 16:35 WIB

Bidik Pasar Konstruksi RI, Rantai Pasok Material Mulai Beralih ke Digital

Bidik Pasar Konstruksi RI, Rantai Pasok Material Mulai Beralih ke Digital

Bisnis | Kamis, 03 September 2026 | 09:25 WIB

Terkini

Titik Terang Hilangnya Jurnalis di Krakatau, Basarnas Temukan 4 Barang di Perairan Selat Sunda

Titik Terang Hilangnya Jurnalis di Krakatau, Basarnas Temukan 4 Barang di Perairan Selat Sunda

Banten | Sabtu, 12 September 2026 | 21:39 WIB

Laba Anjlok 19 Persen, Astra Jor-joran Akuisisi Tambang Emas di Awal 2026

Laba Anjlok 19 Persen, Astra Jor-joran Akuisisi Tambang Emas di Awal 2026

Bisnis | Sabtu, 12 September 2026 | 20:53 WIB

Kisah Perjuangan Tati Purwanti, Mantan PMI yang Sukses Kembangkan Bubur Cirebon di Taipei

Kisah Perjuangan Tati Purwanti, Mantan PMI yang Sukses Kembangkan Bubur Cirebon di Taipei

Bekaci | Sabtu, 12 September 2026 | 20:29 WIB

Dari Cirebon ke Taipei, Tati Purwanti Bawa Kuliner Lokal dan Tumbuh Bersama BRI

Dari Cirebon ke Taipei, Tati Purwanti Bawa Kuliner Lokal dan Tumbuh Bersama BRI

Jakarta | Sabtu, 12 September 2026 | 20:27 WIB

Bubur Cirebon Go International, Kisah Tati Purwanti Bangun Usaha di Taipei

Bubur Cirebon Go International, Kisah Tati Purwanti Bangun Usaha di Taipei

Jawa Tengah | Sabtu, 12 September 2026 | 20:25 WIB

Jejak Kontak Terakhir 8 Warga Hilang Terdeteksi di Pulau Sebesi, Kemkomdigi Telusuri Sinyal

Jejak Kontak Terakhir 8 Warga Hilang Terdeteksi di Pulau Sebesi, Kemkomdigi Telusuri Sinyal

Tekno | Sabtu, 12 September 2026 | 20:24 WIB

Komdigi Klaim 98,9% Wilayah Berpopulasi Sudah Tercover Seluler, Blank Spot Jadi Pekerjaan Berikutnya

Komdigi Klaim 98,9% Wilayah Berpopulasi Sudah Tercover Seluler, Blank Spot Jadi Pekerjaan Berikutnya

Tekno | Sabtu, 12 September 2026 | 20:23 WIB

Jejak Sukses Mantan PMI Tati Purwanti, Bawa Bubur Cirebon hingga Taipei

Jejak Sukses Mantan PMI Tati Purwanti, Bawa Bubur Cirebon hingga Taipei

Jatim | Sabtu, 12 September 2026 | 20:22 WIB

Ada Risiko Fiskal Meski Pemerintah Ambil Alih Utang Kereta Cepat

Ada Risiko Fiskal Meski Pemerintah Ambil Alih Utang Kereta Cepat

Bisnis | Sabtu, 12 September 2026 | 20:22 WIB

Tati Purwanti Kembangkan Bubur Cirebon di Taipei, Tumbuh Bersama Dukungan BRI

Tati Purwanti Kembangkan Bubur Cirebon di Taipei, Tumbuh Bersama Dukungan BRI

Jabar | Sabtu, 12 September 2026 | 20:18 WIB

×