-
Sebanyak 73 pekerja restoran Windows on the World terjebak dan tewas dalam tragedi 9/11.
-
Akses evakuasi tangga dan lift terputus total akibat benturan pesawat di lantai bawahnya.
-
Kerusakan gedung menghentikan pendaratan helikopter penyelamat serta menutup seluruh peluang penyelamatan korban.
Suara.com - Sebanyak 73 karyawan restoran terjebak di lantai teratas Menara Utara World Trade Center tanpa akses evakuasi saat serangan 9/11. Impian besar para pekerja imigran Asia yang mendominasi staf tempat tersebut runtuh seketika akibat tubrukan pesawat.
Keputusan memindahkan jam kerja demi keluarga menempatkan manajer jamuan makan Jupiter Yambem tepat di pusat bencana. Pria berusia 41 tahun asal Manipur, India ini mengganti shift malamnya menjadi pagi hari agar memiliki waktu lebih bersama sang anak.
Nancy Yambem menceritakan alasan suaminya berpindah jadwal tugas sebelum peristiwa naas itu terjadi.
"Saya merasa sebagian besar pengasuhan anak ada pada saya. Jadi sekitar seminggu sebelum 9/11, kami memutuskan bersama bahwa sebaiknya dia bekerja ... shift pagi, karena dia ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan putranya," ujar Nancy Yambem, dikutip dari CNA, Jumat (11/9/2026).
Jupiter bertugas mengelola acara di Windows on the World, kompleks restoran termasyhur yang berdiri di puncak gedung. Tempat megah seluas 50.000 kaki persegi ini menyajikan pemandangan seluruh pelosok Kota New York dari ketinggian.
Perjalanan karier Jupiter di Amerika Serikat dirintis dari bawah hingga berhasil menembus tempat kerja paling bergengsi. Nancy mengenang betapa suaminya sangat mencintai profesi serta berdedikasi penuh terhadap kepuasan setiap tamu.
"Dia mencintai pekerjaannya. Antara acara selebriti, pernikahan, acara rumit, dia memastikan bahwa semua orang yang dia layani dan stafnya layani mendapatkan pengalaman terbaik yang mereka bisa," kata Nancy Yambem.
Suasana pagi itu diisi agenda seminar teknologi finansial yang dikelola Risk Waters Group pada lantai 106. Penulis buku The Restaurant At The End Of The World, Kenneth Womack, menyebut Jupiter sedang sibuk mengawasi layanan sarapan.
Di lantai 107, Christine Olender memimpin operasional sarapan utama sembari menyiapkan kebutuhan restoran untuk jam berikutnya. Kenneth menilai Christine sebagai sosok penting yang paham betul setiap sudut kompleks kuliner tersebut.
Tez Termulo, mantan manajer hubungan masyarakat, mengakui ketulusan dedikasi Christine terhadap tempat kerjanya.
"Dia sangat berdedikasi pada pekerjaannya dan pada restoran itu. Dan dia mencintai setiap jengkal darinya. Restoran itu adalah rumah baginya," ucap Tez Termulo.
Pukul 08.46 pagi, pesawat American Airlines Penerbangan 11 menghantam lantai 93 hingga 99 Menara Utara. Benturan keras itu seketika memutus akses tangga serta lift, mengurung 170 orang di area restoran.
Keterlambatan berangkat kerja justru menyelamatkan nyawa koki sushi Richard Fong dari maut. Saat berada di dalam kereta bawah tanah, perjalanannya terhenti mendadak sebelum sampai di stasiun tujuan.
"Saya seperti, 'Saya harus keluar.' Dan saya berlari ke bangunan itu. Saat saya melakukan itu, saya melihat pesawat kedua menabrak. Saya syok. Saya tidak tahu harus berbuat apa — hanya berdiri di sana mencoba memahami situasi, lalu Anda melihat tubuh-tubuh berjatuhan. Dan itu terlalu berat," tutur Richard Fong.
Panggilan darurat dari dalam gedung mulai masuk, salah satunya berasal dari peserta konferensi bernama Christopher Hanley. Ia melaporkan ledakan hebat beserta kepulan asap tebal yang mulai mengepung area luar jendela.
Panggilan tersebut menjadi momen terakhir suara Christopher terdengar sebelum jalur komunikasi terputus. Christine kemudian mengumpulkan seluruh tamu dan staf di koridor lantai 106 sembari menghubungi Kepolisian Port Authority.
"Kami butuh arahan ke mana kami harus mengarahkan tamu dan karyawan kami sesegera mungkin. Tangga penuh dengan asap — A, B, dan C. Dan telepon pemadam kebakaran saya mati," ungkap Christine Olender.
Kondisi asap pekat serta temperatur tinggi membatalkan opsi pendaratan helikopter penyelamat di atap gedung. Kepala Departemen Pemadam Kebakaran New York, Joseph Pfeifer, mengonfirmasi bahaya besar tersebut.
Christine melakukan panggilan darurat terakhir untuk memohon petunjuk lokasi perlindungan yang aman. Udara segar di lantai 106 dilaporkan menipis sangat cepat sebelum komunikasi terputus sepenuhnya.
"Udara segar berkurang sangat cepat. Saya tidak berlebihan. Apa yang akan kita lakukan untuk mendapatkan udara?" pinta Christine Olender.
Seluruh korban di lantai 92 ke atas dipastikan tidak ada yang selamat ketika kedua menara runtuh. Kepastian meninggalnya Jupiter diperoleh Nancy setelah mencocokkan sampel DNA milik suaminya beberapa hari kemudian.
Nancy merasa sangat terpukul ketika harus menyampaikan kabar duka tersebut kepada putra mereka yang masih belita.
"Polisi datang ke pintu depan, dan saya sangat hancur. Namun saya tahu saya harus memberitahu putra kami. Itulah hal yang paling menyakitkan," cetus Nancy Yambem.
Duka mendalam juga dirasakan oleh Laba Yambem saat membawa abu jenazah adiknya kembali ke tanah kelahirannya di India. Abu tersebut ditaburkan di Danau Loktak disaksikan oleh sang ayah yang dikenal sangat tegar.
"Ayah saya adalah pria yang sangat tangguh. Dia pernah melihat ayahnya meninggal, ibunya meninggal, paman-pamannya meninggal. Dia pernah melihat istrinya sendiri, ibu saya, meninggal. Dia tidak pernah menangis. Namun ketika Jupiter meninggal, ayah saya menangis untuk pertama kalinya dalam hidupnya," papar Laba Yambem.
Kompleks Windows on the World berdiri di lantai 106 dan 107 Menara Utara World Trade Center sejak tahun 1976. Restoran ikonik ini mempekerjakan lebih dari 400 staf dari puluhan negara yang mayoritas merupakan kaum imigran.
Serangan teror 11 September 2001 menghancurkan seluruh area gedung dan menewaskan 1.344 orang di lantai atas dampak benturan. Tragedi ini menewaskan seluruh 73 pekerja restoran yang sedang bertugas di puncak menara pagi itu.