-
Penguasaan Houthi di Selat Bab el-Mandeb mengancam jalur ekspor minyak utama Arab Saudi.
-
Kerugian ekonomi dan keengganan AS mendorong negara Teluk membuka diplomasi langsung dengan Iran.
-
Posisi geografis strategis Houthi memberi Teheran daya tawar tinggi dalam peta geopolitik global.
Konflik terbuka yang dipicu serangan AS dan Israel terhadap Iran gagal menghilangkan pengaruh Teheran di kawasan.
Ketika ditanya mengenai kekhawatiran atas pertemuan negara-negara Teluk dengan Iran, Donald Trump menyatakan keputusan tersebut sepenuhnya berada di tangan mereka.
Alex Vatanka dari Middle East Institute menilai negara-negara Teluk kini berfokus pada strategi bertahan hidup ketimbang persoalan tingkat kepercayaan pada Teheran.
"Negara-negara Teluk sedang mempertimbangkan realitas dasar bahwa mereka mungkin harus membuat kesepakatan dengan pihak Iran secara mandiri, terlepas dari apakah hal itu menyakiti perasaan Amerika atau tidak, karena Amerika tidak dapat mengeluarkan mereka dari rawa ini," kata Alex Vatanka.
Reskalasi ini memanggil kembali ketegangan historis antara kelompok Houthi dan Arab Saudi sejak penguasaan Sanaa pada 2014.
Meskipun digempur serangan udara selama bertahun-tahun, kelompok dari minoritas Syiah Zaydi ini justru terus meningkatkan kapasitas militernya.
Mantan negosiator AS Aaron David Miller menyoroti keunggulan posisi geografis yang dimanfaatkan kelompok tersebut.
"Houthi bukanlah wakil tradisional," kata Aaron David Miller.
"Mereka dapat menyertajajahi geografi sebagai senjata dan memiliki dampak dramatis pada ekonomi internasional dan ekonomi minyak global."
Seorang pejabat kawasan menyebut keberhasilan ekskalasi di Laut Merah sebagai bagian dari kalkulasi matang Teheran.
"Bagi Iran, ini adalah permainan catur. Mereka merencanakan apa yang terjadi selanjutnya. Mereka tidak menekan semua tombol pada saat yang sama karena panik," ujar pejabat kawasan tersebut.
"Houthi adalah satu-satunya sekutu wakil Iran dengan kemampuan operasional tangguh yang tersisa."
Sanksi dan tekanan ekonomi AS terhadap Iran pada akhirnya justru memicu efek samping yang tidak terduga bagi sekutu Washington di Teluk.
Negara-negara Teluk kini mulai mempertanyakan kembali apakah konfrontasi berkepanjangan dengan Iran masih realistis untuk dipertahankan.