-
Kapal kargo Iran diserang di Selat Hormuz hingga menewaskan satu korban dan empat luka-luka.
-
Rencana pertemuan diplomatik kelautan di Oman batal terlaksana akibat penolakan negara-negara Teluk.
-
Eskalasi militer di Selat Hormuz memicu penurunan drastis lalu lintas pelayaran kapal komersial dunia.
Suara.com - Serangan fatal menghantam kapal kargo Iran di dekat Pulau Qeshm, Selat Hormuz, hingga menewaskan 1 orang dan melukai 4 ABK lainnya pada Minggu. Insiden maut ini terjadi persis ketika diplomasinya lumpuh akibat penundaan mendadak agenda pertemuan negara-negara Teluk di Oman.
Pemerintah Iran langsung menuding musuh teroris sebagai dalang utama dari aksi penembakan yang membakar kapal tersebut.
Langkah Oman membatalkan pertemuan diplomatik membuktikan keretakan mendalam di antara negara-negara Teluk dalam merespons dominasi Iran atas jalur pelayaran. Pertemuan yang semula dirancang untuk membahas tarif transit dan skema kendali rute pelayaran kini membentur dinding tebal perpecahan kawasan.
Otoritas media pemerintah IRNA melaporkan bahwa gubernur Qeshm secara terbuka menyalahkan pihak musuh atas jatuhnya korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
Hingga kini, pihak militer Amerika Serikat belum memberikan pernyataan resmi terkait keterlibatan mereka dalam serangan udara maupun laut di sekitar pulau strategis tersebut.
Beberapa jam sebelum ledakan kapal terjadi, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan ketahanan nasionalnya melalui sebuah unggahan di media sosial.
“Rakyat kami tidak bisa diintimidasi hingga tunduk. Iran tidak akan menyerah,” ujar Pezeshkian.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan klaim yang bertolak belakang saat ditemui di lapangan golf Doonbeg, Irlandia.
“[Iran] sangat ingin membuat kesepakatan hingga mereka terus-menerus menelpon,” kata Trump merujuk pada Iran.
Saat dicecar wartawan mengenai keterlibatan pasukan AS dalam insiden penyerangan kapal kargo Iran pagi harinya, Trump enggan memberikan kepastian.
Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, mengonfirmasi lewat platform X bahwa pembatalan pertemuan menteri luar negeri regional dilakukan demi menjaga ketentraman bersama.
Pejabat Kementerian Luar Negeri Iran, Mohammad Ali Bak, menyebutkan penundaan kesepakatan jalur laut terjadi karena adanya penolakan dari sejumlah pihak.
Arab Saudi dikabarkan mengajukan draft amandemen aturan karena khawatir rute pelayaran baru yang diajukan Iran dan Oman akan merugikan anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC).
Sementara itu, Bahrain menolak hadir karena tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Tehran, sementara Iraq menjadi satu-satunya negara yang sempat menyatakan siap hadir.
Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) mengapung laporan adanya proyektil yang menghantam sebuah kapal hingga memicu kebakaran hebat di Selat Hormuz.