Keluarga Korban Banjir Bandang Nepal Putus Asa, Sisir Rumah Sakit Cari Jenazah Kerabat Sendiri

Pebriansyah Ariefana

Jum'at, 04 September 2026 | 11:11 WIB
Keluarga Korban Banjir Bandang Nepal Putus Asa, Sisir Rumah Sakit Cari Jenazah Kerabat Sendiri
Banjir bandang dahsyat yang menerjang kawasan perbatasan Nepal dan Tibet melenyapkan rombongan pendaki berisi 47 orang. (ABC)
baca 10 detik
  • Banjir bandang di Nepal menyebabkan 1.273 orang tewas dan ribuan lainnya dilaporkan hilang.

  • Ratusan turis asing belum ditemukan sehingga mendorong keluarga melakukan pencarian mandiri di Nepal.

  • Kepolisian Nepal mulai mengumpulkan sampel DNA untuk mengidentifikasi jenazah korban banjir bandang.

Suara.com - Pencarian ratusan wisatawan asing yang hilang akibat banjir bandang di Nepal masih belum membuahkan hasil hingga satu pekan pascabencana. Sanjeev Rai menjadi salah satu kerabat yang terbang langsung ke Kathmandu demi melacak keberadaan istrinya, Jiwan Jyoti.

Jyoti merupakan insinyur perusahaan Intel berusia 50 tahun yang hilang saat perjalanan pulang usai melakukan ziarah ke Gunung Kailash. Bencana alam yang melanda kawasan perbatasan Himalaya tersebut telah menghancurkan akses jalan dan infrastruktur lokal secara masif.

Proses evakuasi dan pencarian korban di Desa Timure, Wilayah Rasuwa, terhambat oleh kerusakan jalur darat yang sangat parah. Kondisi geografis yang berbahaya membuat helikopter penyelamat sulit menjangkau titik-titik reruntuhan di lokasi kejadian.

Runtuhan gletser raksasa di kawasan perbatasan Tibet dan Nepal memicu banjir bandang lumpur yang menewaskan lebih dari 270 orang. Petaka mendadak tanpa curah hujan ini menimbun banyak wilayah permukiman serta memutus akses transportasi utama. (BBC)
Runtuhan gletser raksasa di kawasan perbatasan Tibet dan Nepal memicu banjir bandang lumpur yang menewaskan lebih dari 270 orang. Petaka mendadak tanpa curah hujan ini menimbun banyak wilayah permukiman serta memutus akses transportasi utama. (BBC)

"Hari ketika saya tiba, saya berkata, mari kita cari helikopter, saya akan pergi mencarinya," kata Rai kepada AFP.

"Saya merasa putus asa, sudah bertajuk-tajuk hari berlalu," ujarnya.

Sanjeev Rai kini mulai bersiap menghadapi kemungkinan terburuk terkait kondisi istrinya yang belum ditemukan. Pria berusia 53 tahun tersebut kini menaruh harapan pada proses identifikasi medis melalui pencocokan sampel genetik.

"Saya tidak lagi berharap menemukan penyintas. Saya hanya berharap sampel DNA cocok. Saya ingin bisa berduka," ujar Rai.

Petugas kepolisian Nepal mulai mengumpulkan sampel DNA dari para keluarga korban untuk membangun basis data identifikasi jenazah. Anggota keluarga yang berada di luar negeri juga diizinkan menyerahkan sampel genetik melalui fasilitas medis di negara masing-masing.

Gelombang material lumpur dan air melahap wilayah perbatasan Nepal serta Tibet di China sejak 26 Agustus. Bencana besar ini merusak belasan bendungan pembangkit listrik tenaga air, jembatan, hingga pemukiman warga.

baca juga

Jumlah korban jiwa yang terkonfirmasi di wilayah Nepal dan Tibet telah menembus angka 1.273 jiwa. Sementara itu, total warga yang dilaporkan hilang di kedua wilayah tersebut tercatat mencapai 4.757 orang.

Hampir 600 warga negara asing dari 30 negara masuk dalam daftar pencarian pihak berwenang. Rombongan peziarah asal India mendominasi porsi terbesar dari total warga asing yang belum ditemukan.

Duta Besar Inggris untuk Nepal, Rob Fenn, menyatakan bahwa pihak kedutaan telah mengerahkan tim ahli medis dan psikologis. Pusat penerimaan khusus dibentuk untuk mendampingi keluarga korban yang membutuhkan kepastian informasi.

"Saya pikir sifat bencana ini adalah penantian panjang yang menyiksa untuk mendapatkan kepastian dan informasi," kata Fenn kepada AFP.

Sebanyak 77 peziarah dari Yayasan Isha pimpinan Sadhguru juga dilaporkan hilang di sekitar pos pemeriksaan imigrasi Gyirong. Kelompok peziarah tersebut terdiri atas warga negara Eropa, Amerika Utara, hingga Australia.

Para sukarelawan yayasan mendampingi keluarga peziarah untuk memeriksa data rujukan rumah sakit serta foto-foto korban. Ciri khusus seperti perhiasan berbentuk ular yang dipakai para peziarah turut diserahkan kepada polisi sebagai bukti petunjuk.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Polisi Singapura Kumpulkan Sampel DNA Keluarga 9 Warganya yang Hilang di Banjir Bandang Nepal

Polisi Singapura Kumpulkan Sampel DNA Keluarga 9 Warganya yang Hilang di Banjir Bandang Nepal

News | Kamis, 03 September 2026 | 08:46 WIB

Nepal Terancam Bencana Susulan Pasca Longsor Es dan Batu Himalaya

Nepal Terancam Bencana Susulan Pasca Longsor Es dan Batu Himalaya

News | Rabu, 02 September 2026 | 16:06 WIB

Perjalanan Wisatawan Lokal per Juli 2026 Capai Rekor Tertinggi Sejak 2019

Perjalanan Wisatawan Lokal per Juli 2026 Capai Rekor Tertinggi Sejak 2019

Bisnis | Rabu, 02 September 2026 | 08:55 WIB

Terkini

Rupiah Babak Belur! Tembus Level Rp17.624 per Dolar AS Pagi Ini

Rupiah Babak Belur! Tembus Level Rp17.624 per Dolar AS Pagi Ini

Bisnis | Senin, 14 September 2026 | 10:39 WIB

Serba Salah Jadi Multifandom: Niat Cari Hiburan, Malah Terjebak Perang Antar-Fandom

Serba Salah Jadi Multifandom: Niat Cari Hiburan, Malah Terjebak Perang Antar-Fandom

Your Say | Senin, 14 September 2026 | 10:38 WIB

Pasar Valas Dibayangi Gejolak, September Jadi Bulan Penuh Risiko

Pasar Valas Dibayangi Gejolak, September Jadi Bulan Penuh Risiko

Bisnis | Senin, 14 September 2026 | 10:35 WIB

Pertumbuhan Ekonomi RI Diproyeksi Capai 5,2% pada 2026

Pertumbuhan Ekonomi RI Diproyeksi Capai 5,2% pada 2026

Bisnis | Senin, 14 September 2026 | 10:33 WIB

6 Serum Tranexamic Acid untuk Melasma dan PIH, Mulai Rp34 Ribuan

6 Serum Tranexamic Acid untuk Melasma dan PIH, Mulai Rp34 Ribuan

Lifestyle | Senin, 14 September 2026 | 10:30 WIB

Polisi Sebut Wanita di Video Viral Biksu Thailand Mendadak Kaya Sejak Bolak Balik Masuk Kuil

Polisi Sebut Wanita di Video Viral Biksu Thailand Mendadak Kaya Sejak Bolak Balik Masuk Kuil

News | Senin, 14 September 2026 | 10:30 WIB

3 Orang Ditembak Mati Jelang Pemilu Perdana di Bangsamoro Filipina

3 Orang Ditembak Mati Jelang Pemilu Perdana di Bangsamoro Filipina

News | Senin, 14 September 2026 | 10:28 WIB

8 Lip Balm Berwarna untuk Bibir Hitam, Murah Bikin Tampak Segar Natural

8 Lip Balm Berwarna untuk Bibir Hitam, Murah Bikin Tampak Segar Natural

Lifestyle | Senin, 14 September 2026 | 10:25 WIB

18 Kapal dan 1 Helikopter Dikerahkan Cari Jurnalis Hilang di Selat Sunda

18 Kapal dan 1 Helikopter Dikerahkan Cari Jurnalis Hilang di Selat Sunda

News | Senin, 14 September 2026 | 10:24 WIB

Wacana Wajib Rekening Bank untuk Warga, Ekonom Ingatkan Ancaman dan Beban APBN

Wacana Wajib Rekening Bank untuk Warga, Ekonom Ingatkan Ancaman dan Beban APBN

Bisnis | Senin, 14 September 2026 | 10:17 WIB

×