Jadi Takut Makan karena Tayangan di Media Sosial? Waspadai Konten Kesehatan yang Menakut-nakuti

Dinda Rachmawati

Selasa, 15 September 2026 | 17:20 WIB
Jadi Takut Makan karena Tayangan di Media Sosial? Waspadai Konten Kesehatan yang Menakut-nakuti
Ilustrasi Fear Mongering Isu Kesehatan (Magnific)
baca 10 detik
  • Konten media sosial kerap menyebarkan ketakutan tidak berdasar mengenai bahaya makanan untuk mendulang interaksi.
  • Kajian jurnal Applied Sciences 2025 menyebutkan sensasionalisme media memperparah chemophobia serta memicu kecemasan generasi muda.
  • Misinformasi gizi tersebut berdampak pada meningkatnya risiko orthorexia dan kecemasan pola makan di masyarakat.

Suara.com - Satu video singkat di media sosial bisa membuat seseorang mendadak takut mengonsumsi makanan yang selama ini dianggap biasa. Judul seperti “makanan ini ternyata berbahaya” atau “bahan ini bisa merusak organ tubuh” kerap muncul dengan nada meyakinkan, seolah-olah ancaman kesehatan sedang mengintai di setiap piring.

Masalahnya, tidak semua klaim tersebut berdiri di atas bukti ilmiah yang memadai. Di tengah persaingan mendapatkan perhatian, ketakutan justru menjadi salah satu “bahan bakar” paling efektif untuk membuat sebuah konten ditonton, dikomentari, lalu dibagikan.

Kesehatan memang menjadi genre yang sangat mudah menarik perhatian di media sosial. Kata-kata seperti “bahaya”, “racun”, “beracun”, atau “jangan pernah konsumsi” mampu memicu respons emosional jauh lebih cepat dibandingkan penjelasan mengenai angka, dosis, maupun tingkat risiko.

Fenomena tersebut salah satunya berkaitan dengan chemophobia, yakni ketakutan berlebihan terhadap bahan kimia. Kajian yang dipublikasikan dalam jurnal Applied Sciences pada 2025 menyebutkan, chemophobia dapat semakin diperparah oleh sensasionalisme media sosial dan pemasaran yang menyesatkan.

Salah satu bentuk narasi yang sering digunakan adalah klaim “bebas bahan kimia” atau “100 persen alami”. Padahal secara ilmiah, sesuatu yang berasal dari alam pun tetap tersusun atas senyawa kimia.

Dalam ilmu toksikologi, terdapat prinsip dasar yang telah lama dikenal, yakni the dose makes the poison. Artinya, bukan semata-mata keberadaan suatu zat yang menentukan bahayanya, melainkan seberapa besar dosis dan bagaimana tubuh terpapar zat tersebut.

Bahkan sesuatu yang sehari-hari dianggap aman, seperti air, dapat menimbulkan masalah apabila dikonsumsi secara berlebihan dalam waktu singkat. Sebaliknya, sejumlah bahan tambahan pangan yang terdengar asing bagi telinga masyarakat telah melalui pengkajian keamanan dan memiliki batas penggunaan tertentu.

Di sinilah teknologi pangan kerap menjadi sasaran ketakutan yang tidak proporsional. Ahli teknologi pangan Erwin Setiawan menjelaskan bahwa teknologi dalam pengolahan makanan pada dasarnya tidak selalu identik dengan sesuatu yang berbahaya.

Justru banyak teknologi dikembangkan untuk membantu menjaga keamanan dan kualitas pangan. Erwin mencontohkan bahwa sebagian bahan tambahan dapat digunakan sebagai “salah satu teknik pengawetan tanpa pengawet” tambahan. 

baca juga

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa teknologi pangan merupakan solusi teknis untuk menjawab persoalan tertentu dalam pengolahan makanan, bukan semata-mata ancaman tersembunyi seperti yang sering digambarkan dalam konten media sosial.

Teknologi seperti sterilisasi dengan suhu tinggi maupun pembekuan cepat, misalnya, dikembangkan untuk membantu mengurangi risiko kontaminasi sekaligus memperpanjang masa simpan pangan. Tujuannya adalah membuat produk lebih aman dan kualitasnya dapat dipertahankan secara konsisten.

Sayangnya, penjelasan semacam itu sering kalah menarik dibandingkan video berdurasi singkat yang menampilkan narasi menakutkan.

Sejumlah riset tentang misinformasi di media sosial menunjukkan bahwa muatan emosional, algoritma platform, dan rendahnya literasi digital dapat saling memperkuat penyebaran informasi keliru. Konten yang membangkitkan rasa takut atau cemas berpotensi memperoleh interaksi lebih tinggi, sehingga semakin banyak orang melihatnya.

Dampaknya bukan sekadar masyarakat menjadi takut terhadap bahan tertentu. Tinjauan literatur di Nutrición Hospitalaria mengaitkan misinformasi gizi di media sosial dengan meningkatnya risiko orthorexia, yakni kecenderungan obsesif terhadap makanan yang dianggap “murni” atau “sehat”. 

Studi dalam BMC Psychology pada 2025 juga menemukan korelasi antara paparan konten kesehatan di media sosial dan meningkatnya kecemasan terkait pola makan pada generasi muda.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Peserta JKN Capai 284 Juta, Cak Imin Soroti Tantangan Layanan Kesehatan yang Setara

Peserta JKN Capai 284 Juta, Cak Imin Soroti Tantangan Layanan Kesehatan yang Setara

News | Selasa, 15 September 2026 | 15:28 WIB

Konten Mindfulness Maudy Ayunda Dikritik Tone Deaf, di Mana Letak Masalahnya?

Konten Mindfulness Maudy Ayunda Dikritik Tone Deaf, di Mana Letak Masalahnya?

Your Say | Selasa, 15 September 2026 | 14:26 WIB

Siswi Yang Diduga Hilang Ingatan Karena Keracunan MBG Dirujuk ke RSCM, Ahli Turun Tangan

Siswi Yang Diduga Hilang Ingatan Karena Keracunan MBG Dirujuk ke RSCM, Ahli Turun Tangan

News | Senin, 14 September 2026 | 19:58 WIB

Terkini

The Walk Hadir di Serpong, Satukan Kuliner dan Beauty dalam Satu Destinasi Lifestyle

The Walk Hadir di Serpong, Satukan Kuliner dan Beauty dalam Satu Destinasi Lifestyle

Lifestyle | Kamis, 17 September 2026 | 02:04 WIB

Momen Kaesang Pangarep Ajak Anak Penyintas Gempa Palue Main Catur dan Ular Tangga

Momen Kaesang Pangarep Ajak Anak Penyintas Gempa Palue Main Catur dan Ular Tangga

Bali | Rabu, 16 September 2026 | 23:24 WIB

Menkeu Suahasil Akan Evaluasi Perombakan Ratusan Pejabat Kemenkeu Era Purbaya

Menkeu Suahasil Akan Evaluasi Perombakan Ratusan Pejabat Kemenkeu Era Purbaya

Bisnis | Rabu, 16 September 2026 | 23:11 WIB

Teknologi Silicon-Carbon dan Update 6 Tahun, REDMI Note 17 Mulai Rp3,9 Jutaan

Teknologi Silicon-Carbon dan Update 6 Tahun, REDMI Note 17 Mulai Rp3,9 Jutaan

Tekno | Rabu, 16 September 2026 | 23:10 WIB

Antrean Pertalite Mengular di Bengkulu, Helmi Hasan Malah Ajak Warga Salat Tobat

Antrean Pertalite Mengular di Bengkulu, Helmi Hasan Malah Ajak Warga Salat Tobat

Sumsel | Rabu, 16 September 2026 | 23:00 WIB

44 Ribu Hektare Tanah TNI Bermasalah, TNI Akui Potensi Konflik Agraria Kian Tinggi

44 Ribu Hektare Tanah TNI Bermasalah, TNI Akui Potensi Konflik Agraria Kian Tinggi

News | Rabu, 16 September 2026 | 22:55 WIB

Dulu Cuma Scan QR, Kini Pembayaran Digital Makin Pintar dan Menembus Transaksi Global

Dulu Cuma Scan QR, Kini Pembayaran Digital Makin Pintar dan Menembus Transaksi Global

Tekno | Rabu, 16 September 2026 | 22:49 WIB

RUU Reforma Agraria akan Disahkan di Rapat Paripurna 22 September

RUU Reforma Agraria akan Disahkan di Rapat Paripurna 22 September

News | Rabu, 16 September 2026 | 22:41 WIB

Dirut BRI: Kekuatan Holding UMi Ditopang oleh Integrasi Keunggulan Entitas

Dirut BRI: Kekuatan Holding UMi Ditopang oleh Integrasi Keunggulan Entitas

Bri | Rabu, 16 September 2026 | 22:39 WIB

MK Minta Kewenangan Bakamla Disusun Ulang, DPR dan Pemerintah Diberi Waktu 2 Tahun

MK Minta Kewenangan Bakamla Disusun Ulang, DPR dan Pemerintah Diberi Waktu 2 Tahun

News | Rabu, 16 September 2026 | 22:31 WIB

×