- Jenazah tanpa identitas yang ditemukan di Pulau Enggano pada 12 September 2026 belum teridentifikasi sebagai rombongan korban hilang.
- Kantor SAR Banten dan Polda Banten menyatakan proses pencocokan DNA jenazah dan keluarga korban masih terus didalami.
- Delapan orang rombongan jurnalis dan kru kapal hilang kontak di Selat Sunda sejak 7 September 2026.
Suara.com - Hasil pemeriksaan DNA dan identifikasi terhadap jenazah tanpa identitas yang ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu, hingga saat ini masih didalami serta belum teridentifikasi sebagai bagian dari rombongan jurnalis dan kru kapal yang hilang di Selat Sunda, Banten.
Pernyataan tersebut diungkapkan Kepala Kantor SAR Banten Al Amrad dan KBO Ditpolairud Polda Banten AKBP Ahmad dalam konferensi pers terkait hasil operasi pencarian hari kedelapan di Posko Utama Gabungan Pantai Carita, Pandeglang, Banten, Selasa (15/9/2026) malam.
Amrad dalam kesempatan tersebut menekankan bahwa meski demikian pihaknya akan terus melakukan koordinasi intensif bersama Kantor SAR Bengkulu.
"Sore tadi kami sudah terus berkoordinasi tentang hasil tersebut dengan rekan-rekan di Kantor SAR Bengkulu, hingga saat ini masih menunggu hasil," kata Al Amrad yang juga selaku SAR Mission Coordinator (SMC) dalam operasi SAR ini sebagaimana dilansir Antara.
Senada dengan hal tersebut, KBO Ditpolairud Polda Banten AKBP Ahmad mengonfirmasi bahwa berdasarkan informasi dari Biddokkes dan Kabid Humas Polda Banten, jenazah yang ditemukan di Enggano belum teridentifikasi sebagai korban hilang dari kapal cepat KM Arupadatu I.
"Sama sebagaimana keterangan Kabid Humas kemarin, tidak teridentifikasi kawan kita yang sedang kita cari. Ciri-cirinya tidak ada, DNA-nya masih didalami," kata Ahmad.
Dia menambahkan bahwa penjelasan detail mengenai bukti fisik maupun properti pakaian yang melekat pada tubuh jenazah sepenuhnya akan disampaikan oleh tim medis DVI yang menangani autopsi.
"Tim medis yang akan menjawabnya, ya," kata Ahmad menjawab pertanyaan pewarta.
Adapun penyelarasan data DNA (Antemortem) keluarga korban dengan sampel jenazah (Postmortem) ini dinilai menjadi kunci utama untuk memastikan apakah jenazah tersebut merupakan bagian dari delapan penumpang kapal.
Hal tersebut tidak lepas dari kebuntuan tim SAR gabungan yang sudah melakukan penyisiran selama delapan hari di pulau-perairan sekitar Gunung Anak Krakatau (meliputi Provinsi Banten, Lampung, dan Bengkulu) terhitung sejak kapal dan para penumpang dilaporkan hilang kontak pada Senin (7/9) itu.
Sebanyak delapan orang yang dalam pencarian terdiri atas lima jurnalis, yakni M Bagus Khoirunnas (Kantor Berita ANTARA), Ari Basuki (Merdeka.com), Yudhistiro (iNews), Firdaus (Anadolu), dan Donal (jurnalis lepas), sedangkan tiga lainnya, yakni Warta (kapten kapal), Surakman (ABK), serta Heriyanto (pemandu).
Sementara terkait jenazah pria tanpa identitas itu secara spesifik dilaporkan ditemukan di pesisir Sawang Bengkok, Desa Khayapu, Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, pada Sabtu (12/9) oleh Kantor SAR Bengkulu dan warga setempat.
Jenazah dibawa menggunakan pesawat terbang dari Enggano ke di RS Bhayangkara Polda Bengkulu, Senin (14/9), guna menjalani proses autopsi dan identifikasi mendalam oleh Tim DVI Biddokkes Polda Bengkulu dan Pusdokkes Polri.