-
Koalisi Arab Saudi berjanji membalas tegas serangan rudal Houthi yang melukai 13 warga sipil.
-
Pertempuran sengit di Yaman memaksa lebih dari 125.000 warga mengungsi dari rumah mereka.
-
Penguasaan wilayah pesisir Laut Merah oleh Houthi mengancam jalur perdagangan dan energi dunia.
Suara.com - Koalisi pimpinan Arab Saudi menegaskan komitmennya untuk merespons secara tegas serangan rudal dan drone yang diluncurkan milisi Houthi. Aksi mematikan kelompok yang bersekutu dengan Iran tersebut telah melukai 13 warga sipil di tiga wilayah perkotaan Arab Saudi.
Gempuran terbaru Houthi menghantam daerah Khamis Mushait, Abha, dan Taif hingga merusak tujuh rumah serta dua unit kendaraan. Pihak koalisi memastikan serangan udara tersebut membahayakan keselamatan warga dan merusak fasilitas pemukiman.
“Komando Pasukan Gabungan Koalisi akan menangani serangan-serangan ini secara bertanggung jawab dan tegas demi melindungi kedaulatan kerajaan,” tegas juru bicara koalisi, Mayor Jenderal Turki al-Maliki, dikutip dari Al Jazeera.
![Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap Iran pada Senin (20/7/2026) waktu setempat, memicu eskalasi baru di Timur Tengah. [NY Post]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/07/21/55128-rudal-as.jpg)
Eskalasi militer yang kian memuncak memaksa belasan ribu keluarga di Yaman melarikan diri dari zona pertempuran. Badan PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mengonfirmasi sedikitnya 18.000 rumah tangga atau sekitar 125.000 jiwa telah terdesak menjadi pengungsi sejak awal bulan.
Tekanan terhadap operasi bantuan kemanusiaan kini berada pada titik kritis seiring meluasnya areal peperangan. Gelombang pengungsian masif terus terjadi di saat korban dari kalangan sipil berjatuhan setiap hari.
Di sisi lain, milisi Houthi mengklaim bahwa jet tempur Arab Saudi telah melancarkan 54 serangan udara dalam kurun waktu 24 jam. Gempuran udara itu menyasar lima wilayah provinsi, termasuk kompleks pemerintahan di Distrik Khadir, Provinsi Taiz.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyebutkan jet tempur jenis F-15 dan Typhoon dilepaskan dari pangkalan udara Khamis Mushait serta Taif. Kelompok ini lantas mengancam akan meluncurkan aksi pembalasan yang lebih besar.
Media yang berafiliasi dengan Houthi melaporkan tiga warga sipil tewas, termasuk dua anak-anak, akibat serangan balasan tersebut. Hingga kini, Kementerian Luar Negeri Arab Saudi belum memberikan tanggapan resmi atas klaim korban jiwa tersebut.
Houthi merilis data yang menyebutkan jet tempur koalisi telah memborbardir wilayah Yaman sebanyak 300 kali dalam kurun lima hari. Sebagai bentuk aksi balasan, puluhan rudal dihantamkan ke Pangkalan Udara King Khalid di Khamis Mushait.
Penyerangan itu menargetkan hanggar pesawat, sistem radar, landasan pacu, hingga gudang amunisi utama milik Arab Saudi. Aksi saling balas lewat udara ini mengikuti pergerakan masif pasukan darat Houthi di kawasan pesisir barat Yaman.
Milisi Houthi kini memegang kendali atas sebagian besar pesisir Laut Merah dan terus merangsek mendekati Selat Bab al-Mandeb. Jalur perairan ini sangat krusial bagi lalu lintas kapal energi dan jalur perdagangan internasional.
Kondisi keamanan di Selat Bab al-Mandeb makin krusial mengingat gangguan navigasi mendasar sedang terjadi di Selat Hormuz. Sementara itu, pasukan pemerintah Yaman mengklaim berhasil merebut kembali beberapa posisi strategis di Taiz dan mengikis kekuatan Houthi di pesisir.
Laporan terbaru pejabat setempat mengonfirmasi bahwa Houthi telah menguasai Pulau Hanish Besar dan Hanish Kecil serta Pulau Mayyun. Penguasaan pulau-pulau di mulut Laut Merah ini makin memperkuat posisi tawar militer kelompok tersebut.
Eskalasi pertempuran yang menjangkau wilayah Arab Saudi memicu spekulasi pengaktifan Perjanjian Pertahanan Bersama Makkah. Pakta keselamatan ini baru saja ditandatangani Arab Saudi bersama Turki dan Pakistan pada bulan lalu.
Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif menegaskan bahwa agresi tanpa provokasi terhadap Arab Saudi akan mengaktifkan klausul bantuan pertahanan. Namun, para pengamat militer meragukan Islamabad maupun Ankara bakal menurunkan pasukan secara langsung ke arena perang.