-
Koalisi Arab Saudi berjanji membalas tegas serangan rudal Houthi yang melukai 13 warga sipil.
-
Pertempuran sengit di Yaman memaksa lebih dari 125.000 warga mengungsi dari rumah mereka.
-
Penguasaan wilayah pesisir Laut Merah oleh Houthi mengancam jalur perdagangan dan energi dunia.
Mantan Inspektur Jenderal Frontier Corps Angkatan Bersenjata Pakistan, Letnan Jenderal (Purn) Tariq Khan, menilai pakta pertahanan tersebut tidak praktis untuk dijalankan saat ini. Perang yang sedang membara di Yaman menjadi penghalang utama implementasi perjanjian tersebut.
“Kesepakatan semacam itu biasanya tidak pernah dibuat saat krisis, perang, atau konflik sedang berlangsung di wilayah tersebut, karena adanya kekhawatiran hal itu akan dianggap—baik dengan alasan yang tepat maupun tidak—sebagai bentuk keberpihakan yang menentang negara-negara tertentu,” ungkap Tariq Khan.
Ia juga menambahkan adanya kelemahan mendasar dalam pakta keselamatan tersebut jika mengabaikan posisi geopolitik Iran secara keseluruhan.
“Jika Iran tidak dilibatkan, maka muncul sebuah kontradiksi yang sangat besar, yaitu menyusun paradigma keamanan kawasan dengan mengecualikan salah satu negara terpenting di kawasan tersebut,” jelas Tariq Khan.
Perang saudara di Yaman yang telah berlangsung lebih dari satu dekade kembali membara pada bulan Juli lalu. Escalation terjadi setelah milisi Houthi secara sepihak mendeklarasikan blokade laut terhadap Arab Saudi.
Kelompok tersebut mulai mengincar dan menyerang kapal-kapal berbendera Arab Saudi yang melintas di perairan Laut Merah. Aksi sepihak ini secara langsung menghancurkan gencatan senjata yang diprakarsai PBB sejak tahun 2022.
Stabilitas kawasan Timur Tengah kini kembali terancam seiring kegagalan mempertahankan kesepakatan damai. Aksi saling serang antara Arab Saudi dan milisi Houthi berpotensi meluas menjadi krisis keamanan global di lintasan perdagangan laut internasional.