-
Harga minyak dunia turun dua persen seiring munculnya harapan pemulihan pasokan Arab Saudi.
-
Riyadh berencana memulihkan kapasitas pipa minyak dan mengalihkan pengiriman pasokan ke wilayah Asia.
-
Ketegangan militer di Selat Hormuz dan Timur Tengah masih membayangi risiko distribusi minyak.
Suara.com - Harga minyak dunia merosot 2 persen pada Jumat di tengah kabar pemulihan jalur pasokan Arab Saudi. Penurunan ini memperpanjang tren koreksi harga selama 3 hari berturut-turut.
Minyak Brent merosot 2,3 dolar AS ke level 102,53 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate turun 1,85 dolar AS menjadi 100,04 dolar AS per barel.
Penurunan ini memicu kerugian mingguan pertama bagi minyak Brent dalam tiga pekan terakhir. Pelaku pasar cenderung mengabaikan eskalasi konflik militer di kawasan Timur Tengah.
![Ilustrasi fasilitas minyak mentah di mana harga mulai melonjak kembali. [Pexels].](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/09/21722-harga-minyak-dunia-fasilitas-minyak-mentah.jpg)
"Upaya pemulihan kapasitas ekspor Arab Saudi baru-baru ini telah mengurangi sebagian kecemasan pasokan," kata Kepala Analisis Pasar Phillip Nova, Priyanka Sachdeva, dikutip dari CNA, Jumat (18/9/2026).
Riyadh berencana mengaktifkan kembali separuh kapasitas pipa minyak Timur-Barat dalam hitungan hari. Mereka juga menawarkan pengiriman minyak mentah tambahan ke kilang-kilang Asia melalui pengalihan kapal di pelabuhan Sohar, Oman.
Langkah cepat Arab Saudi langsung meredam lonjakan harga yang sempat menyentuh rekor tertinggi dalam empat bulan. Pasar sebelumnya panik akibat penghentian muatan di hub eksportir Yanbu dan pembatalan pengiriman ke Eropa.
Kendati demikian, para analis menilai harga minyak masih bertahan tinggi di atas 100 dolar AS per barel. Pelaku pasar global masih menunggu bukti nyata atas pemulihan pasokan fisik secara berkelanjutan.
"Pertanyaan kuncinya adalah apakah arus fisik dapat dinormalisasi dan berapa estimasi waktunya. Jika kita melihat peningkatan lalu lintas Selat Hormuz secara berkelanjutan, sebagian premi risiko geopolitik dapat berkurang lebih jauh," kata Priyanka Sachdeva.
Di sisi lain, lalu lintas pengiriman bahan bakar di kawasan Timur Tengah masih diselimuti risiko tinggi. Garda Revolusi Iran baru saja menghantam kapal tanker berbendera Togo yang dituduh melintas secara ilegal di Selat Hormuz.
Serangan ini terjadi di tengah memanasnya kontak senjata antara Arab Saudi dan kelompok Houthi Yaman. Kedua pihak saling melancarkan serangan melintasi perbatasan pada Kamis lalu.
Krisis pasokan energi ini berakar dari gangguan fatal pada jalur pipa Timur-Barat milik Arab Saudi pekan lalu. Serangan tersebut memaksa Riyadh menghentikan sebagian aktivitas ekspor minyak menuju kawasan Eropa.
Situasi geopolitik kian pelik karena pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran menemui jalan buntu sejak Juni. Isu krusial ini dijadwalkan masuk dalam agenda pembahasan Majelis Umum PBB pekan depan.