- Pidato KH Hasan Abdullah Sahal di Gontor menyambut kehadiran Presiden Prabowo.
- Pidato KH Hasan Abdullah Sahal di Gontor mengulas asal-usul nama pesantren.
- Pidato KH Hasan Abdullah Sahal di Gontor menyampaikan pesan filosofi pendidikan.
Suara.com - Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, K.H. Hasan Abdullah Sahal, menyampaikan pidato penuh makna, refleksi sejarah, dan selingan humor segar dalam acara Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor yang dihadiri langsung oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.
Kehadiran Presiden Prabowo di Gontor kali ini disambut hangat oleh Kiai Hasan Abdullah Sahal.
Dengan gaya bertutur yang khas, blak-blakan, tapi sarat akan nilai-nilai perjuangan, beliau mengupas perjalanan satu abad pesantren yang dipimpinnya.
Berikut adalah poin-poin penting pidato K.H. Hasan Abdullah Sahal beserta deretan celetukan ikoniknya yang berhasil menjadi sorotan.

1. Arti Nama Gontor yang Penuh Filosofi
Di awal pidatonya, Kiai Hasan mengenang kembali berdirinya Gontor pada tahun 1926.
Dengan nada bercanda, beliau mengungkap asal-usul nama "Gontor" yang diplesetkan secara jenaka tapi mendalam.
"1926, ada apa, ada siapa, dan bagaimana Gontor ini? Gontor singkatan dari 'nggon kotor' (tempat kotor), karena banyak syirik, banyak kufur, banyak maksiat. Bahasa Inggrisnya molimo. Maksiat apa yang belum ada di Gontor waktu itu? Gontor nggon kotor, sekarang menjadi nggon inspirator!" ujar Kiai Hasan diiringi gemuruh tawa audiens.
2. Gontor Mewakafkan Diri untuk Umat dan Bangsa
Kiai Hasan menegaskan bahwa para pendiri Gontor, K.H. Ahmad Sahal, K.H. Zainudin Fanani, dan K.H. Imam Zarkasyi telah mewakafkan ide, sistem, lembaga, hingga cinta mereka kepada pondok ini sejak 32 tahun usia pondok, yakni tahun 1958 untuk umat Islam di seluruh dunia.
"Dengan keikhlasan para pendiri... mewakafkan ide, mewakafkan nilai, mewakafkan sistem, mewakafkan lembaga, mewakafkan cinta kepada pondok ini, sehingga mudah-mudahan Bapak Presiden dan bangsa Indonesia termasuk yang menerima 'wakaf cinta' pondok ini, dan semuanya mencintai kita semua," ujar Kiai Hasan.
3. Kritik Tajam Soal Sejarah dan Membangun Peradaban
Sebagai lembaga pendidikan yang lahir sebelum kemerdekaan, Kiai Hasan mengingatkan agar bangsa Indonesia tidak pernah melupakan sejarah, merujuk pada pesan Bung Karno "Jas Merah".
Namun, beliau menegaskan bahwa Gontor tidak hanya berhenti pada belajar sejarah, melainkan aktif membangun sejarah dan peradaban.
"Dulu masih pakai blangkon, sekarang sudah pakai peci bludru. Dulu dianggap bloon, sekarang para mertua banyak memburu buru... Gontor tidak puas. Apa Gontor? Cerdaslah menyikapi sejarah, karena kita akan membangun sejarah! Tidak hanya berhenti bergeser pada sejarah, tetapi kita membangun sejarah, membangun peradaban dari Gontor!" ujar Kiai Hasan.