- CELIOS memperkirakan kerugian ekonomi dan biaya kesehatan akibat karhutla di Indonesia sepanjang Januari hingga Agustus 2026 mencapai Rp123,1 triliun.
- Kerugian tersebut mencakup gangguan aktivitas ekonomi senilai Rp29,54 triliun serta potensi biaya kesehatan masyarakat mencapai Rp93,56 triliun.
- Kementerian Kehutanan mencatat luas areal hutan dan lahan yang terbakar di seluruh wilayah Indonesia mencapai 202.010 hektare.
Suara.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia sepanjang Januari hingga Agustus 2026 diperkirakan menimbulkan kerugian ekonomi dan biaya kesehatan hingga Rp123,1 triliun.
Angka tersebut merupakan estimasi batas atas yang dihitung Center of Economic and Law Studies (CELIOS).
Nilai itu belum memasukkan skenario apabila kebakaran hutan dan lahan terus meluas hingga akhir 2026.
CELIOS mencatat total biaya ekonomi dan kesehatan karhutla 2026 berada pada kisaran Rp39,29 triliun hingga Rp123,1 triliun.
Besarnya dampak tersebut menunjukkan karhutla tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga memberikan tekanan terhadap aktivitas ekonomi dan kesehatan masyarakat.
Direktur Ekonomi CELIOS Nailul Huda mengatakan kerugian ekonomi akibat hilangnya aset fisik dan terganggunya aktivitas ekonomi diperkirakan mencapai Rp29,54 triliun.
![Foto udara asap mengepul dari kebakaran hutan di Pusat Konservasi Gajah (PKG) Jalur 21 Padang Sugihan, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, Kamis (17/9/2026). [ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/kye]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/09/18/31658-karhutla-di-pusat-konservasi-gajah-padang-sugihan-karhutla-jalur-21-padang-sugihan.jpg)
Nilai tersebut setara sekitar 0,23 persen dari produk domestik bruto (PDB) nasional.
Dampaknya mencakup gangguan terhadap perdagangan, pertanian, akomodasi, serta sektor makanan dan minuman akibat asap dan terganggunya kegiatan produksi.
“Angka Rp123,1 triliun ini setara 49,1 persen dari proyeksi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kalimantan Tengah tahun 2026. Angka ini belum menghitung skenario meluasnya karhutla hingga akhir tahun,” kata Nailul kepada This Week in Asia seperti dikutip dari media Malaysia, Utusan.
“Artinya, potensi kerugian riil bisa jauh lebih besar dari yang kami sampaikan hari ini,” lanjutnya.
Selain kerugian ekonomi, karhutla juga berpotensi menggerus penerimaan pajak.
CELIOS memperkirakan potensi penerimaan pajak daerah yang hilang mencapai sekitar Rp269,86 miliar.
Namun, beban terbesar dalam skenario CELIOS berasal dari sektor kesehatan.
Jika masyarakat yang mengalami gejala gangguan kesehatan akibat karhutla turut diperhitungkan, biaya kesehatan diperkirakan mencapai Rp93,56 triliun.
Angka tersebut setara sekitar 67,6 persen dari anggaran fungsi kesehatan dalam APBN 2026.
CELIOS memperkirakan sekitar 17,4 juta orang dapat masuk dalam kelompok yang terdiagnosis maupun mengalami gejala infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dalam skenario tersebut.
Sementara untuk masyarakat yang benar-benar terdiagnosis ISPA oleh tenaga kesehatan,
CELIOS memperkirakan sekitar 1,78 juta orang terdampak dengan total biaya kesehatan mencapai Rp9,75 triliun. Biaya tersebut mencakup pengeluaran kesehatan langsung maupun tidak langsung.
Karhutla juga menunjukkan sebaran yang semakin luas.
Data Kementerian Kehutanan yang dikutip dalam laporan CELIOS mencatat luas areal terbakar sepanjang Januari hingga Agustus 2026 mencapai sekitar 202.010 hektare.
Kalimantan Barat tercatat sebagai wilayah dengan luas areal terbakar terbesar, yakni sekitar 38.310 hektare.
Papua Selatan menyusul dengan sekitar 25.839 hektare, menunjukkan bahwa persoalan karhutla tidak hanya terkonsentrasi di kawasan yang selama ini dikenal sebagai titik rawan kebakaran.