Tolak Gelar Pahlawan Soeharto, Korban Tragedi Tanjung Priok 1984 Bersaksi di PTUN

Bangun Santoso

Senin, 21 September 2026 | 18:46 WIB
Tolak Gelar Pahlawan Soeharto, Korban Tragedi Tanjung Priok 1984 Bersaksi di PTUN
Korban peristiwa Tanjung Priok 1984 bernama Nurhayati hadir memberikan kesaksian dalam sidang gugatan gelar pahlawan Soeharto di PTUN Jakarta, Senin (21/9/2026). (Suara.com/Alif Bintang)
baca 10 detik
  • Koalisi sipil GEMAS menggugat Keppres 116/TK/2025 ke PTUN Jakarta terkait pemberian gelar pahlawan untuk Soeharto.
  • Korban peristiwa Tanjung Priok 1984 bernama Nurhayati hadir memberikan kesaksian dalam sidang di PTUN Jakarta pada Senin.
  • Aliansi GEMAS menilai Soeharto tidak layak menjadi pahlawan karena cacat prosedur serta memiliki rekam jejak pelanggaran HAM berat.

Suara.com - Polemik mengenai pemberian gelar pahlawan kepada Presiden Kedua Soeharto kian bergulir. Saat ini koalisi sipil tengah menempuh jalur hukum melalui gugatan yang mereka ajukan terkait Keppres 116/TK/2025 ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta.

Gerakan Masyarakat Adili Soeharto (GEMAS) itu mempermasalahkan pemberian gelar pahlawan untuk Soeharto yang dinilai cacat secara prosedur dan substantif, karena rekam jejak jenderal bintang lima itu yang penuh pelanggaran kemanusiaan.

Perkara dengan nomor 151/G/PTUN.JKT ini mulai memasuki tahap persidangan pemeriksaan saksi dan bukti di PTUN Jakarta, pada Senin (21/9/2026).

Untuk menguatkan argumennya, GEMAS menghadirkan seorang saksi yang juga merupakan korban peristiwa Tanjung Priok 1984, Nurhayati.

Ayah Nurhayati, Bachtiar, diduga dihilangkan secara paksa pada peristiwa berdarah pada era pemerintahan Soeharto tersebut dan hingga kini masih belum jelas keberadaannya.

"Malam itu sekitar jam 8 malam hingga jam 3 pagi, saya terus mendengar suara tembakan beruntun, hingga lampu
yang seketika dimatikan massal. Keadaanya gelap gulita dan mencekam. Pada saat kejadian itu, saya mengetahui bahwa yang hilang bukan hanya ayah saya, tetapi ada banyak tetangga saya yang juga mengalami kehilangan”, tutur dia saat memberikan kesaksiannya di hadapan majelis hakim.

Pada malam kejadian, dia juga mengaku melihat ada beberapa panzer milik tentara yang berada di sekitar Jalan Yos Sudarso, Tanjung Priok.

"Saya melihat di Jalan Yos Sudarso itu ada panzer. Kalau enggak salah ada tiga," imbuhnya.

Tak hanya itu, dampak yang dialami Nurhayati terus berlanjut pasca kejadian tersebut. Pasca kejadian, rumah Nurhayati masih kerap didatangi orang tak dikenal selama beberapa kali.

baca juga

Karena merasa takut dan terganggu, keluarganya memutuskan untuk balik ke kampung halamannya di ke Kota Padang.

"Karena setiap hari ibu saya didatangi oleh orang yang tidak kami kenal, ibu saya jadi trauma dan sakit-sakitan berkepanjangan," kenangnya.

Sebab itu, pengangkatan Seoharto menjadi pahlawan memberikan dampak kerugian serius bagi Nurhayati.

Sementara ayahnya tak kunjung pulang, Soeharto yang ia nilai bertanggung jawab atas tragedi itu malah mendapat gelar pahlawan.

"(Alami) kerugian batin. Kami tidak mendapatkan hak pemulihan dari negara atas peristiwa Tanjung Priok."

Kuasa hukum Aliansi GEMAS, Virdinda menilai keterangan saksi tersebut menjadi bukti bahwa Soeharto tidak memiliki kelayakan untuk menjadi pahlawan.

Sebab, rekam jejak mantan mertua Presiden Prabowo Subianto itu jauh dari nilai-nilai integritas dan moralitas yang menjadi syarat kepahlawanan seseorang.

Dia mengutip temuan Komnas HAM yang menyebutkan beberapa peristiwa kekerasan yang terjadi di bawah tangan besi Soeharto dikategorikan sebagai bentuk pelanggaran HAM berat.

"Maka kami bertanya kepada PTUN Jakarta sendiri gitu kan, apakah sosok yang melahirkan berbagai macam kekerasan, pelanggaran berat HAM, sampai menjadi presiden terkorup layak untuk dikatakan sebagai orang yang berintegritas dan juga bermoral," ungkap dia kepada Suara.com.

GEMAS, lanjutnya juga mempersoalkan pengangkatan Soeharto sebagai pahlawan juga tak diawali dengan keterlibatan publik terlebih dahulu.

"Kami melihat tidak ada partisipasi publik bermakna yang mana itu menjadi syarat mutlak pula dalam proses pemberian gelar pahlawan," tegas dia.

Sidang pemeriksaan lanjutan perkara dijadwalkan akan dilaksanakan kembali pada Senin, (28/9/2026) mendatang. Nantinya, majelis hakim PTUN Jakarta akan mempersilahkan saksi-saksi dari pihak penggugat lainnya untuk memberikan keterangan. (Reporter: Alif Bintang)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bukit Soeharto Kebakaran, Prabowo: Jangan sampai ke Zona Inti IKN

Bukit Soeharto Kebakaran, Prabowo: Jangan sampai ke Zona Inti IKN

News | Senin, 07 September 2026 | 15:39 WIB

Momen Titiek Bela Prabowo di Depan Petambak Lobster, Jamin Tak Ada Nelayan yang Sengsara

Momen Titiek Bela Prabowo di Depan Petambak Lobster, Jamin Tak Ada Nelayan yang Sengsara

Video | Senin, 07 September 2026 | 13:26 WIB

Tambang Ilegal di Bukit Soeharto Disikat Satgas PKH, Potensi Denda Tembus Rp147 Miliar

Tambang Ilegal di Bukit Soeharto Disikat Satgas PKH, Potensi Denda Tembus Rp147 Miliar

News | Senin, 31 Agustus 2026 | 20:52 WIB

Sindir Gaya Soeharto Baru, BEM UI Minta Prabowo Berhenti Pidato dan Dengar Suara Rakyat

Sindir Gaya Soeharto Baru, BEM UI Minta Prabowo Berhenti Pidato dan Dengar Suara Rakyat

News | Selasa, 18 Agustus 2026 | 21:07 WIB

Keputusan Menag Dipersoalkan KPK, Pengacara Yaqut Sebut Kasus Haji Harusnya Ditangani PTUN

Keputusan Menag Dipersoalkan KPK, Pengacara Yaqut Sebut Kasus Haji Harusnya Ditangani PTUN

News | Selasa, 18 Agustus 2026 | 19:43 WIB

Bukan Pidana, Eks Hakim Agung Beberkan Alasan Mengapa Kasus Ijazah Jokowi Harus Diuji di PTUN

Bukan Pidana, Eks Hakim Agung Beberkan Alasan Mengapa Kasus Ijazah Jokowi Harus Diuji di PTUN

News | Senin, 03 Agustus 2026 | 12:22 WIB

Kesepakatan Dagang RI-AS Digugat, Todung Mulya Lubis Sebut Peran Kemlu Kini Sangat Minim

Kesepakatan Dagang RI-AS Digugat, Todung Mulya Lubis Sebut Peran Kemlu Kini Sangat Minim

News | Rabu, 29 Juli 2026 | 14:53 WIB

Terkini

Polda Jatim Tahan Tersangka Arisan MeAow, 6 Korban Rugi Rp 4,07 Miliar

Polda Jatim Tahan Tersangka Arisan MeAow, 6 Korban Rugi Rp 4,07 Miliar

News | Kamis, 05 November 2026 | 23:14 WIB

Cristiano Ronaldo Pensiun dengan Harta Rp22 Triliun, Tiap Tahun Kantongi Rp1 T

Cristiano Ronaldo Pensiun dengan Harta Rp22 Triliun, Tiap Tahun Kantongi Rp1 T

Bisnis | Kamis, 05 November 2026 | 22:44 WIB

Dokumen Kependudukan Warga Tangerang Jadi Bungkus Gorengan

Dokumen Kependudukan Warga Tangerang Jadi Bungkus Gorengan

Banten | Kamis, 05 November 2026 | 22:38 WIB

Pengangguran di Jabar Turun Jadi 6,67 Persen, Kabupaten Bekasi Tertinggi

Pengangguran di Jabar Turun Jadi 6,67 Persen, Kabupaten Bekasi Tertinggi

Jabar | Kamis, 05 November 2026 | 22:34 WIB

Piala Asia 2027 Diundur, Erick Thohir Sebut Timnas Indonesia Justru Diuntungkan

Piala Asia 2027 Diundur, Erick Thohir Sebut Timnas Indonesia Justru Diuntungkan

Bola | Kamis, 05 November 2026 | 22:25 WIB

Solusi Pakan Sapi di Papua Barat, Pelepah Sawit Diolah Jadi Silase Tahan Lama

Solusi Pakan Sapi di Papua Barat, Pelepah Sawit Diolah Jadi Silase Tahan Lama

News | Kamis, 05 November 2026 | 22:20 WIB

Membaca Peluang AHY Gantikan Gibran Jadi Wapres, Seberapa Terbuka Jalannya?

Membaca Peluang AHY Gantikan Gibran Jadi Wapres, Seberapa Terbuka Jalannya?

News | Kamis, 05 November 2026 | 22:10 WIB

Belajar tetapi Dianggap Putus Sekolah, KPAI Soroti Nasib Anak Disabilitas di LKSA

Belajar tetapi Dianggap Putus Sekolah, KPAI Soroti Nasib Anak Disabilitas di LKSA

News | Kamis, 05 November 2026 | 22:02 WIB

Masuk Ancol Gratis Sampai 12 November, Simak Ketentuannya

Masuk Ancol Gratis Sampai 12 November, Simak Ketentuannya

News | Kamis, 05 November 2026 | 21:55 WIB

Soal Pajak, Hashim Pernah Bersengketa dengan Otoritas Jenewa

Soal Pajak, Hashim Pernah Bersengketa dengan Otoritas Jenewa

Bisnis | Kamis, 05 November 2026 | 21:52 WIB

×