- SDN Soprayan di Sleman menguji coba program Makan Bergizi Gratis sistem prasmanan untuk mengurangi sisa makanan.
- Pihak sekolah menambah durasi istirahat pertama dan melibatkan siswa terpilih guna memperlancar pembagian makanan.
- Uji coba yang dipantau SPPG Bangunkerto 2 ini menunjukkan hasil makanan selalu habis tanpa sisa.
Suara.com - Uji coba Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan di SDN Soprayan, Bangunkerto, Turi, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dinilai memudahkan siswa mengambil makanan sesuai kebutuhan.
Kendati demikian, praktik tersebut membuat sekolah harus menyesuaikan waktu istirahat agar kegiatan makan tidak mengganggu proses belajar mengajar (KBM).
Guru Kelas 6 SDN Soprayan, Murwoko, mengatakan sistem prasmanan memberi keleluasaan kepada siswa untuk menentukan porsi makan. Menurut dia, cara tersebut berpotensi mengurangi makanan tersisa dibandingkan dengan pembagian MBG dalam bentuk paket dengan porsi yang sudah ditentukan.

"Biasanya kan kalau paket besar itu kadang-kadang sisa gitu, terutama nasinya kalau banyak-banyak. Tapi kalau paket MBG itu prasmanan kan bisa secukupnya sesuai dengan kebutuhan anak," kata Murwoko, dikutip Jumat (9/10/2026).
Meski dinilai lebih fleksibel, sistem prasmanan membutuhkan penyesuaian jadwal di sekolah. Murwoko menyebut waktu istirahat pertama yang biasanya berlangsung 20 menit perlu ditambah sekitar 10–15 menit untuk mengakomodasi kegiatan makan MBG.
"Bertambah sedikit nggih waktunya (istirahat) 10 sampai 15 menit," ujarnya.
Penambahan waktu tersebut berdampak pada pengaturan jam istirahat berikutnya. Sekolah memilih memangkas sebagian waktu istirahat kedua agar siswa tetap pulang sesuai jadwal.
"Pulangnya tetap sesuai dengan jadwal, tapi nanti istirahat yang keduanya agak sedikit dikurangi," imbuhnya.
Murwoko mengakui penerapan MBG prasmanan tetap memiliki konsekuensi terhadap kegiatan belajar mengajar. Meski begitu, sekolah berupaya mengatur ulang jadwal agar tambahan waktu untuk makan tidak mengganggu pembelajaran secara keseluruhan.
Selain menyesuaikan waktu, sekolah turut melibatkan siswa untuk membantu proses pengambilan makanan. Sejauh ini, enam siswa yang dinilai sudah cukup dewasa ditugaskan mengambil nasi dan lauk untuk membantu kelancaran pembagian MBG.
Murwoko mengatakan para siswa tersebut telah mendapat pengarahan sebelum menjalankan tugasnya.
Ia memastikan pelibatan siswa tidak menyita waktu pembelajaran karena kegiatan makan MBG berlangsung saat istirahat. Para petugas juga disiapkan terlebih dahulu sebelum siswa lain mengantre untuk mengambil makanan.
"Tidak (mengganggu) karena kebetulan MBG ini kegiatannya di waktu istirahat. Jadi anak-anak sudah bisa mempersiapkan dulu, yang petugas-petugas sudah siap, baru anak-anak mulai untuk mengantre mengambil MBG," ujarnya.
Dari sisi tenaga pendidik, Murwoko menyebut pelaksanaan MBG tidak sampai membuat guru merasa kerepotan.
"Sebenarnya kalau repot sih tidak, tapi memang sedikit menyita waktu saja karena memang kita kan ada petugasnya yang membantu," ungkapnya.
Murwoko menyampaikan terdapat satu hingga dua guru yang membantu pelaksanaan MBG di luar tugas mereka sebagai wali kelas atau guru kelas. Pembagian tugas itu dilakukan agar tanggung jawab mengelola kelas tetap berjalan bersamaan dengan pelaksanaan program makan bergizi.
Di sisi lain, Murwoko menilai MBG memberikan manfaat bagi siswa, terutama karena mereka memperoleh asupan makanan di sekolah. Ia mengatakan keberadaan program tersebut juga dapat mengurangi kebiasaan siswa membeli jajanan ringan yang kurang mengenyangkan.
Sejauh Ini Tak Ada Sisa
Kepala SPPG Bangunkerto 2 Turi, Deri Yusni Elsa Mahendra, mengatakan prasmanan membuat siswa lebih leluasa menentukan porsi sesuai selera dan kebutuhan masing-masing.
"Jadi mereka lebih bisa mengambil sesuai selera dan kondisi masing-masing," kata Deri.
Dari sisi operasional dapur, Deri menyebut uji coba tersebut belum menambah jumlah produksi makanan. SPPG tetap menyiapkan makanan sesuai standar porsi yang berlaku.
Namun, SPPG menyediakan cadangan makanan sekitar 10 persen selama masa percobaan untuk mengevaluasi kecukupan porsi dan kebutuhan siswa.
"Tetap per hari kita evaluasi dari sisa makanannya atau apanya. Tapi alhamdulillah sampai sekarang ini selalu habis kondisi pulang, tray-nya semua habis," ujarnya.
Dari sisi kebersihan, Deri menilai sistem prasmanan memungkinkan suhu makanan dipantau sejak proses penyiapan hingga tiba di sekolah. Ia menyebut petugas siswa juga menggunakan alat pelindung diri (APD), sedangkan siswa lain diarahkan mencuci tangan sebelum mengambil makanan.
"Untuk secara higienitas mungkin makanan lebih fresh ya, lebih terjamin karena masuk ke dalam wadah besarnya itu suhunya kita ukur, sampai sekolah pun kita datang kita ukur," ucapnya.
Kendati demikian, pelaksanaan prasmanan masih berstatus uji coba. Deri mengatakan SPPG akan terus memantau dan mencatat hasil evaluasi dari pelaksanaan sehari-hari.