-
Satu keluarga bayar tagihan makan Rp241 ribu di warung Cibodas saat dini hari.
-
Unggahan viral tersebut memicu gelombang kritik netizen terkait kebiasaan getok harga pedagang.
-
Publik menuntut penyediaan daftar harga transparan demi menjaga kepercayaan wisatawan kawasan wisata.
Suara.com - Praktik penetapan harga tak masuk akal oleh oknum pedagang di kawasan wisata Cibodas, Jawa Barat, meresahkan para pengunjung. Insiden tersebut menjadi tontonan publik setelah sebuah keluarga mengungkapkan rincian tagihan makan malam mereka yang dinilai sangat tidak wajar.
Rombongan yang berjumlah 5 orang tersebut mendapati total tagihan mencapai Rp241 ribu hanya untuk beberapa porsi makanan sederhana. Transaksi yang terjadi sekitar pukul 02.00 WIB itu mendadak viral usai diunggah oleh akun Instagram @metrobogor_.
Rincian pesanan rombongan tersebut mencakup 3 porsi mie rebus, 1 porsi nasi goreng, 2 gelas teh hangat, serta 1 botol air mineral. Setelah selesai menyantap hidangan dan menumpang rehat sejenak di area barak, mereka dikejutkan oleh nominal pembayaran yang ditagihkan.
Fenomena tarif di luar kewajaran ini memancing gelombang kritik tajam dari warga net di kolom komentar. Publik menilai kebiasaan buruk sebagian oknum pemilik warung berisiko mematikan usaha mereka sendiri dalam jangka panjang.
Para pengguna media sosial menekankan agar setiap pelaku usaha mikro selalu menyediakan daftar harga hidangan secara terbuka. Kehadiran rincian biaya yang jelas dapat mencegah kesalahpahaman serta menghindarkan konsumen dari rasa dirugikan.
"Bagi UMKM terutama di tempat wisata atau di pinggir jalan menuju wisata jangan getok harga, ga berkah, untung hari itu mungkin banyak tapi untuk seterusnya akan menderita. Bersikap jujur dan gentle, beri daftar harga, dan rincian lain dari pelayanan, misal kalo ngecas , penggunaan wifi atau sewa tempat jika ada biaya, cantumkan. Sehingga tidak ada fitnah."
Sebagian masyarakat menilai pemikiran jangka pendek dari oknum pedagang justru berujung pada rasa kapok yang dialami oleh pengunjung. Dampak buruknya, para pelanggan dipastikan enggan untuk kembali mendatangi lokasi-lokasi wisata serupa.
"Kebiasaan Tolol pedagang Indonesia suka ngegetok harga dengan Argumen : " Ah ga bakal balik lagi ini.." ( ya iyalah ga bakal balik lagi, Kapok..!! )."
Kawasan destinasi seperti Puncak hingga Cibodas dinilai sering menyajikan tarif tidak rasional karena tingkat kunjungan yang tidak menentu. Sikap sewenang-wenang menentukan biaya layanan ini disebut sebagai penyebab utama sepinya pelanggan di warung-warung tersebut.
"Ya begitulah daerah Bogor, puncak sampe cibodas krn mrk sepi sekalinya ada yg mampir ya diketok hrgnya apapun diitung.. Pdhl mrk ga mikir knp wrgnya sepi pengunjung.. Yaitu td krn semau2nya kasih hrg."
Pengalaman buruk akibat biaya makan yang membengkak rupanya sudah berulang kali menimpa para wisatawan sejak beberapa tahun lalu. Kekecewaan akibat tarif tidak transparan ini menyisakan trauma mendalam hingga memicu aksi boikot mandiri dari para pengunjung.
"Udah ga kaget saya mah pernah ngopi 1 + susu 1 = 30rb + parkir motor 3rb itu tahun 2017 warung di Deket masjid attawun puncak, sejak saat itu udah ga pernah kesono lagi sampe sekarang."
Kawasan Cibodas dan sekitarnya selama ini dikenal sebagai lokasi favorit untuk beristirahat bagi para pelancong lintas daerah. Namun, tidak tersedianya standar tarif resmi pada sejumlah warung pinggir jalan acapkali memicu konflik antara pedagang dan konsumen yang merasa dijebak.