- Penelitian terhadap 50 pekerja teknis panel surya dan pompa panas di Kanada menemukan alasan utama mereka bekerja di sektor hijau bukan karena lingkungan.
- Faktor pendorong pemilihan pekerjaan tersebut meliputi perolehan penghasilan yang layak, kepastian kerja yang tinggi, serta ketersediaan waktu bersama keluarga.
- Perubahan kebijakan insentif pemerintah yang tidak stabil menciptakan tantangan dan menyulitkan pelaku usaha kecil dalam menjaga keberlangsungan bisnis mereka.
Suara.com - Pekerjaan di industri batu bara, minyak, dan gas kerap dikaitkan dengan gambaran laki-laki yang tangguh, kuat, dan mampu menaklukkan alam. Sebaliknya, kepedulian terhadap lingkungan terkadang dianggap tidak sejalan dengan gambaran maskulinitas tradisional tersebut.
Pandangan ini memunculkan pertanyaan, apakah cara masyarakat memandang laki-laki bisa menjadi penghambat peralihan menuju pekerjaan ramah lingkungan?
Penelitian terhadap 50 pekerja teknis di sektor panel surya dan pompa panas di British Columbia, Kanada, menunjukkan bahwa persoalannya tidak sesederhana itu.
Kepedulian terhadap lingkungan ternyata bukan alasan utama banyak pekerja memilih pekerjaan di sektor energi bersih. Penghasilan, kepastian kerja, kesempatan mempelajari teknologi baru, dan waktu bersama keluarga justru menjadi pertimbangan penting.
Temuan ini menantang anggapan bahwa pekerjaan hijau atau green jobs hanya cocok bagi orang yang memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan.
Laki-Laki Tak Harus Memilih Pekerjaan yang Berisiko
![Aktivitas tambang [SUARA.COM]](https://media.suara.com/pictures/original/2026/09/10/24235-ilustrasi-alat-berat-ilustrasi-tambang.jpg)
Maskulinitas tradisional sering menempatkan laki-laki sebagai pencari nafkah utama yang harus tangguh, mandiri, dan bersedia menghadapi risiko demi pekerjaan. Dalam lingkungan kerja tertentu, gambaran ini bahkan dapat membuat keselamatan dan kesehatan dianggap sebagai hal yang bisa dikorbankan.
Sementara itu, industri minyak, gas, dan batu bara kerap menjadi simbol maskulinitas yang menekankan kekuatan fisik serta kemampuan manusia menguasai alam.
Namun, pandangan tersebut tidak selalu menggambarkan kebutuhan laki-laki saat ini. Tekanan biaya hidup dan ketidakpastian pekerjaan turut mendorong perubahan cara laki-laki memandang peran mereka sebagai pencari nafkah.
Dalam penelitian tersebut, para teknisi listrik dan pekerja yang menangani sistem pemanas serta pendingin ruangan tertarik pada pekerjaan hijau karena peluang ekonominya. Mereka bisa mengembangkan keterampilan teknis, memecahkan masalah, dan memperoleh penghasilan dari meningkatnya kebutuhan teknologi energi bersih.
Artinya, seseorang tidak harus menjadi aktivis lingkungan untuk tertarik bekerja di sektor ini.
Penghasilan dan Waktu Bersama Keluarga
Selain peluang kerja, keseimbangan kehidupan pribadi dan pekerjaan juga menjadi alasan pekerja bertahan di sektor energi bersih.
Seorang teknisi panel surya yang sebelumnya bekerja di industri minyak di Alberta, Kanada, mengatakan bahwa setelah memiliki anak, ia mulai lebih mengutamakan keseimbangan hidup dan warisan positif bagi keluarganya.
Pekerja lain yang meninggalkan industri otomotif mengaku kini lebih leluasa mengatur jadwal. Ia dapat menghadiri kegiatan sekolah dan pertandingan olahraga anak-anaknya tanpa melewatkan momen penting.
Pengalaman ini menunjukkan bahwa pekerjaan ramah lingkungan dapat memberi ruang bagi laki-laki untuk menjalankan peran sebagai pencari nafkah sekaligus hadir dalam kehidupan keluarga.
Dengan kata lain, menjadi laki-laki yang bertanggung jawab tidak harus berarti mengorbankan kesehatan atau waktu bersama anak demi pekerjaan.
Pekerjaan Hijau Harus Menawarkan Kepastian
Meski menjanjikan, pekerjaan di sektor energi bersih juga menghadapi tantangan. Para teknisi panel surya dalam penelitian tersebut mengeluhkan perubahan insentif pemerintah yang membuat pelaku usaha sulit memprediksi permintaan dan merencanakan bisnis.
Karena itu, pekerja di industri minyak, gas, atau batu bara tidak serta-merta akan beralih ke sektor energi bersih jika tidak ada tawaran yang sebanding dalam hal upah dan kepastian kerja.
Penelitian ini menegaskan bahwa upaya memperluas pekerjaan hijau tidak cukup hanya mengajak laki-laki lebih peduli terhadap lingkungan. Pemerintah dan pelaku industri juga perlu menyediakan pekerjaan dengan penghasilan layak, kondisi kerja aman, dan kebijakan yang konsisten.