Benarkah Maskulinitas Hambat Laki-Laki Bekerja di Sektor Ramah Lingkungan?

Bimo Aria Fundrika

Rabu, 28 Oktober 2026 | 14:35 WIB
Benarkah Maskulinitas Hambat Laki-Laki Bekerja di Sektor Ramah Lingkungan?
Green jobs alias pekerjaan ramah lingkungan. (Photo by Trinh Tran/Pexels)
baca 10 detik
  • Penelitian terhadap 50 pekerja teknis panel surya dan pompa panas di Kanada menemukan alasan utama mereka bekerja di sektor hijau bukan karena lingkungan.
  • Faktor pendorong pemilihan pekerjaan tersebut meliputi perolehan penghasilan yang layak, kepastian kerja yang tinggi, serta ketersediaan waktu bersama keluarga.
  • Perubahan kebijakan insentif pemerintah yang tidak stabil menciptakan tantangan dan menyulitkan pelaku usaha kecil dalam menjaga keberlangsungan bisnis mereka.

Suara.com - Pekerjaan di industri batu bara, minyak, dan gas kerap dikaitkan dengan gambaran laki-laki yang tangguh, kuat, dan mampu menaklukkan alam. Sebaliknya, kepedulian terhadap lingkungan terkadang dianggap tidak sejalan dengan gambaran maskulinitas tradisional tersebut.

Pandangan ini memunculkan pertanyaan, apakah cara masyarakat memandang laki-laki bisa menjadi penghambat peralihan menuju pekerjaan ramah lingkungan?

Penelitian terhadap 50 pekerja teknis di sektor panel surya dan pompa panas di British Columbia, Kanada, menunjukkan bahwa persoalannya tidak sesederhana itu.

Kepedulian terhadap lingkungan ternyata bukan alasan utama banyak pekerja memilih pekerjaan di sektor energi bersih. Penghasilan, kepastian kerja, kesempatan mempelajari teknologi baru, dan waktu bersama keluarga justru menjadi pertimbangan penting.

Temuan ini menantang anggapan bahwa pekerjaan hijau atau green jobs hanya cocok bagi orang yang memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan.

Laki-Laki Tak Harus Memilih Pekerjaan yang Berisiko

Aktivitas tambang [SUARA.COM]
Aktivitas tambang [SUARA.COM]

Maskulinitas tradisional sering menempatkan laki-laki sebagai pencari nafkah utama yang harus tangguh, mandiri, dan bersedia menghadapi risiko demi pekerjaan. Dalam lingkungan kerja tertentu, gambaran ini bahkan dapat membuat keselamatan dan kesehatan dianggap sebagai hal yang bisa dikorbankan.

Sementara itu, industri minyak, gas, dan batu bara kerap menjadi simbol maskulinitas yang menekankan kekuatan fisik serta kemampuan manusia menguasai alam.

Namun, pandangan tersebut tidak selalu menggambarkan kebutuhan laki-laki saat ini. Tekanan biaya hidup dan ketidakpastian pekerjaan turut mendorong perubahan cara laki-laki memandang peran mereka sebagai pencari nafkah.

baca juga

Dalam penelitian tersebut, para teknisi listrik dan pekerja yang menangani sistem pemanas serta pendingin ruangan tertarik pada pekerjaan hijau karena peluang ekonominya. Mereka bisa mengembangkan keterampilan teknis, memecahkan masalah, dan memperoleh penghasilan dari meningkatnya kebutuhan teknologi energi bersih.

Artinya, seseorang tidak harus menjadi aktivis lingkungan untuk tertarik bekerja di sektor ini.

Penghasilan dan Waktu Bersama Keluarga

Selain peluang kerja, keseimbangan kehidupan pribadi dan pekerjaan juga menjadi alasan pekerja bertahan di sektor energi bersih.

Seorang teknisi panel surya yang sebelumnya bekerja di industri minyak di Alberta, Kanada, mengatakan bahwa setelah memiliki anak, ia mulai lebih mengutamakan keseimbangan hidup dan warisan positif bagi keluarganya.

Pekerja lain yang meninggalkan industri otomotif mengaku kini lebih leluasa mengatur jadwal. Ia dapat menghadiri kegiatan sekolah dan pertandingan olahraga anak-anaknya tanpa melewatkan momen penting.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa pekerjaan ramah lingkungan dapat memberi ruang bagi laki-laki untuk menjalankan peran sebagai pencari nafkah sekaligus hadir dalam kehidupan keluarga.

Dengan kata lain, menjadi laki-laki yang bertanggung jawab tidak harus berarti mengorbankan kesehatan atau waktu bersama anak demi pekerjaan.

Pekerjaan Hijau Harus Menawarkan Kepastian

Meski menjanjikan, pekerjaan di sektor energi bersih juga menghadapi tantangan. Para teknisi panel surya dalam penelitian tersebut mengeluhkan perubahan insentif pemerintah yang membuat pelaku usaha sulit memprediksi permintaan dan merencanakan bisnis.

Karena itu, pekerja di industri minyak, gas, atau batu bara tidak serta-merta akan beralih ke sektor energi bersih jika tidak ada tawaran yang sebanding dalam hal upah dan kepastian kerja.

Penelitian ini menegaskan bahwa upaya memperluas pekerjaan hijau tidak cukup hanya mengajak laki-laki lebih peduli terhadap lingkungan. Pemerintah dan pelaku industri juga perlu menyediakan pekerjaan dengan penghasilan layak, kondisi kerja aman, dan kebijakan yang konsisten.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Membongkar Greenwashing: Saat Label Ramah Lingkungan Cuma Jadi Gimik Jualan

Membongkar Greenwashing: Saat Label Ramah Lingkungan Cuma Jadi Gimik Jualan

Your Say | Rabu, 21 Oktober 2026 | 11:45 WIB

Aspal Plastik Diklaim Lebih Unggul, Benarkah Lebih Aman Bagi Lingkungan?

Aspal Plastik Diklaim Lebih Unggul, Benarkah Lebih Aman Bagi Lingkungan?

News | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 17:06 WIB

Bisakah Limbah Sawit Gantikan Plastik Sekali Pakai? Studi Ungkap Hal Ini

Bisakah Limbah Sawit Gantikan Plastik Sekali Pakai? Studi Ungkap Hal Ini

Your Say | Senin, 12 Oktober 2026 | 14:51 WIB

Terkini

Bantuan Pangan di Tulungagung Tak Tersalur 100 Persen, Ini Penyebabnya

Bantuan Pangan di Tulungagung Tak Tersalur 100 Persen, Ini Penyebabnya

Jatim | Rabu, 28 Oktober 2026 | 14:30 WIB

Kalah Pamor dari Rokok Kretek, Perajin Berjuang Hidupkan Kembali Batik Kudus

Kalah Pamor dari Rokok Kretek, Perajin Berjuang Hidupkan Kembali Batik Kudus

Jawa Tengah | Rabu, 28 Oktober 2026 | 14:30 WIB

7 Slang Gen Z yang Masuk KBBI, Bukti Bahasa Indonesia Terus Berkembang!

7 Slang Gen Z yang Masuk KBBI, Bukti Bahasa Indonesia Terus Berkembang!

Your Say | Rabu, 28 Oktober 2026 | 14:30 WIB

Helm Basah Karena Kehujanan? Begini Cara Mengeringkannya agar Tidak Bau

Helm Basah Karena Kehujanan? Begini Cara Mengeringkannya agar Tidak Bau

Otomotif | Rabu, 28 Oktober 2026 | 14:29 WIB

Satu Tahun Sekolah Rakyat Rangkul 44 Ribu Siswa, Gus Ipul: Negara Hadir Memutus Rantai Kemiskinan

Satu Tahun Sekolah Rakyat Rangkul 44 Ribu Siswa, Gus Ipul: Negara Hadir Memutus Rantai Kemiskinan

News | Rabu, 28 Oktober 2026 | 14:29 WIB

Gegara Karhutla hingga Banjir Sumatra, Suahasil Tambah Anggaran TKD 2026 Jadi Rp 720 T

Gegara Karhutla hingga Banjir Sumatra, Suahasil Tambah Anggaran TKD 2026 Jadi Rp 720 T

Bisnis | Rabu, 28 Oktober 2026 | 14:28 WIB

Cara Menghilangkan Iklan di Xiaomi Smart TV Tanpa Aplikasi Tambahan

Cara Menghilangkan Iklan di Xiaomi Smart TV Tanpa Aplikasi Tambahan

Tekno | Rabu, 28 Oktober 2026 | 14:26 WIB

IMI Kabupaten Bogor Targetkan Juara Umum Porprov XV Jabar 2026

IMI Kabupaten Bogor Targetkan Juara Umum Porprov XV Jabar 2026

Jabar | Rabu, 28 Oktober 2026 | 14:25 WIB

Viral Jajan di Wisata Cibodas, Beli Mie Rebus dan Nasi Goreng Bayar Hampir Seperempat Juta

Viral Jajan di Wisata Cibodas, Beli Mie Rebus dan Nasi Goreng Bayar Hampir Seperempat Juta

News | Rabu, 28 Oktober 2026 | 14:23 WIB

Sekda Jateng Bakal Tindak Tegas ASN Terlibat Judi Online

Sekda Jateng Bakal Tindak Tegas ASN Terlibat Judi Online

Jawa Tengah | Rabu, 28 Oktober 2026 | 14:22 WIB

×