- Pemerintahan Prabowo-Gibran mendirikan 265 Sekolah Rakyat berasrama gratis untuk memutus rantai kemiskinan ekstrem dan mengembalikan puluhan ribu anak terlantar ke bangku sekolah.
- Program nasional sejak Juli 2025 ini telah menjangkau lebih dari 45 ribu siswa dari keluarga prasejahtera dan anak jalanan di berbagai daerah di Indonesia.
- Pemerintah menargetkan pembangunan 500 gedung permanen dalam beberapa tahun ke depan guna menampung lebih dari satu juta siswa secara terintegrasi.
Suara.com - Di emperan lampu merah dan lorong-lorong sempit pemukiman kumuh kota-kota besar, nasib anak-anak dari keluarga miskin ekstrem kerap kali terpatri seperti vonis yang tak terelakkan: putus sekolah, mengamen, atau memungut rongsokan demi sesuap nasi hari ini.
Kemiskinan diwariskan dari generasi ke generasi bagai lingkaran setan yang tak pernah menemukan pintu keluar.
Namun, garis nasib yang kusam itu mulai ditoreh ulang. Dalam momentum sidang kabinet dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, pemerintah memaparkan potret transformasi sosial yang berlangsung senyap namun masif.
Sebanyak 265 Sekolah Rakyat telah berdiri, mengembalikan sedikitnya 44 ribu anak dan kelompok rentan kembali ke bangku pendidikan, seraya mengiringi program perbaikan fisik 30 ribu sekolah di seluruh Nusantara.
Program Sekolah Rakyat yang digagas pemerintah terus dikembangkan untuk memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Setelah setahun berjalan sejak digulirkan pada Juli 2025, inisiatif ini bukan sekadar urusan membagikan seragam dan buku tulis gratis, melainkan upaya radikal negara memulihkan martabat warganya.
Mengenal Sekolah Rakyat: Desain Sekolah Asrama Pemutus Rantai Kemiskinan
Untuk memahami kedalaman program ini, publik perlu mengenal Sekolah Rakyat dari akar filosofi hingga rancang bangun operasionalnya.
Sekolah Rakyat merupakan sekolah berasrama (boarding school) yang diselenggarakan oleh pemerintah untuk memberikan layanan pendidikan secara cuma-cuma kepada anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.
Program ini hadir sebagai jawaban konkret atas realitas masih banyaknya anak Indonesia yang terancam putus sekolah akibat himpitan ekonomi, sekaligus menjadi ikhtiar memutus mata rantai kemiskinan antargenerasi melalui investasi sumber daya manusia.
Dalam ekosistem Sekolah Rakyat, seluruh kebutuhan dasar peserta didik dipenuhi sepenuhnya oleh negara sehingga orang tua terbebas dari beban finansial.
Peserta didik menerima paket fasilitas komprehensif tanpa biaya, yang meliputi:
- Asrama tinggal yang representatif selama masa pendidikan;
- Jaminan konsumsi dan makan bergizi setiap hari;
- Seragam sekolah lengkap beserta buku dan seluruh perlengkapan belajar;
- Pembinaan karakter, penguatan kedisiplinan, dan kepemimpinan;
- Pendampingan intensif oleh tenaga pendidik, tenaga kependidikan, serta wali asrama;
- Sarana olahraga, sanggar seni, dan wadah pengembangan bakat;
- Akses layanan kesehatan berkala.
Sistem pembelajarannya memadukan kurikulum nasional dengan pendidikan karakter dan keterampilan hidup (life skills).
Pendekatan ini dirancang agar lulusannya kelak tidak hanya menguasai kecakapan akademik, tetapi juga memiliki integritas, daya adaptasi, etos kerja, serta kesiapan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi atau memasuki dunia kerja.
Menembus Batas Kemiskinan Ekstrem Lewat Mandat Konstitusi
Penyelenggaraan Sekolah Rakyat bertolak dari kesadaran bahwa pemiskinan struktural tidak bisa diselesaikan hanya dengan menyerahkan anak-anak pada mekanisme pasar bebas.
Presiden Prabowo Subianto menilai Sekolah Rakyat menjadi harapan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk kembali memperoleh hak belajar dan menggapai masa depan yang lebih baik.
"Tidak ada investasi yang lebih berharga daripada mengembalikan masa depan seorang anak," kata Presiden Prabowo, Sabtu (24/8/2026).
Melalui sekolah rakyat, pemerintah bertujuan memutus lingkaran kemiskinan antar generasi melalui akses pendidikan gratis dan berkualitas, sekaligus program pemberdayaan bagi orang tua siswa. Fondasi hukumnya ditarik langsung dari kontrak sosial paling mendasar bangsa ini.
"Kalau orang tua mereka menghadapi nasib yang kurang baik, mengalami kondisi keterpurukan, kondisi kemiskinan, anak-anak mereka tidak boleh terus miskin. Sesuai pasal 34 Undang-Undang Dasar Negara kita, negara harus intervensi," papar Prabowo.
Peta Demografi: Dari Aspal Jabodetabek Menuju Ruang Kelas
Penerimaan peserta didik Sekolah Rakyat diprioritaskan bagi anak-anak dari keluarga yang masuk dalam basis data kemiskinan resmi pemerintah.
Seleksi bertahap dilakukan dengan membedah riwayat sosial-ekonomi keluarga secara cermat agar intervensi jatuh tepat sasaran.
Menteri Sosial, Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menyampaikan jumlah calon siswa Sekolah Rakyat pada tahun 2026 telah mencapai target.
Hingga awal Juni 2026, lebih dari 42 ribu anak terdata mengikuti proses penjangkauan, sementara kapasitas yang tersedia sekitar 32 ribu siswa di seluruh Indonesia.
Ia mengatakan capaian tersebut menambah total siswa Sekolah Rakyat sejak program dimulai pada Juli 2025. Pada tahun pertama pelaksanaan, jumlah siswa yang mengikuti program ini mencapai hampir 15 ribu anak.
"Kalau digabung tahun (ajaran) 2025-2026 dan 2026-2027, (jumlah) siswa Sekolah Rakyat seluruh Indonesia jumlahnya sudah lebih dari 45 ribu siswa," papar Gus Ipul.
Struktur demografi siswa memperlihatkan bahwa usia remaja menjadi kelompok paling rentan terputus dari rantai pendidikan formal.
Penjangkauan calon siswa paling banyak dilakukan pada jenjang SMP dengan lebih dari 17.815 anak, disusul jenjang SMA sebanyak 16.206 anak, dan jenjang SD lebih dari 3.597 anak.
Di antara puluhan ribu murid tersebut, terdapat kelompok marjinal yang sebelumnya nyaris mustahil tersentuh sistem sekolah konvensional.
Kemensos menjangkau langsung 429 anak yang sehari-hari hidup dan mencari nafkah di jalanan, mayoritas diselamatkan dari rimba aspal kawasan Jabodetabek untuk masuk ke lingkungan asrama yang stabil.
Percikan Prestasi dari Anak-Anak yang Sempat Ditepikan
Masuk ke dalam asrama dengan bimbingan terarah perlahan menyalakan potensi anak-anak ini.
Stigma bahwa anak jalanan dan anak miskin tertinggal dalam kecerdasan runtuh di hadapan fakta kompetisi.
Kehadiran Sekolah Rakyat tak sekadar tempat belajar, namun juga mengembangkan potensi siswa, baik dalam bidang akademik hingga olahraga.
Di Makassar, Sulawesi Selatan, tujuh siswa Sekolah Rakyat mencatatkan pencapaian gemilang dengan memenangkan medali pada ajang bergengsi Olimpiade Nasional Indonesia ke-15.
Dari jazirah barat Sulawesi, siswi Sekolah Rakyat Polewali Mandar, Ismi Ulfaida, mencetak sejarah sebagai siswa Sekolah Rakyat pertama yang lolos menjadi anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat nasional untuk Upacara HUT ke-81 RI di Istana Negara. Dari anak keluarga prasejahtera, derap langkah kakinya berdentum di hadapan pimpinan negara.
Di cabang olahraga bela diri, murid Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 21 Manado berhasil memborong gelar juara dalam Kejuaraan Wushu Tingkat Nasional Piala Wali Kota Surabaya 2026. \
Capaian-capaian ini mengukuhkan bahwa ketiadaan biaya selama ini hanyalah dinding semu yang membatasi talenta anak-anak Indonesia.
![Data capaian Sekolah Rakyat ala Presiden Prabowo. [Suara.com/Aldie]](https://media.suara.com/pictures/original/2026/10/28/86739-infografis-sekolah-rakyat-ala-presiden-prabowo.jpg)
Cetak Biru 500 Gedung Permanen Menampung Sejuta Tunas
Lonjakan antusiasme dan kebutuhan riil di lapangan mendorong pemerintah beralih dari penggunaan fasilitas sementara menuju pembangunan gedung sekolah permanen berstandar tinggi.
Saat ini, lebih dari 44.000 siswa aktif mengikuti pendidikan di 182 titik penyelenggaraan Sekolah Rakyat di seluruh Indonesia, dengan 93 titik di antaranya telah menempati fasilitas gedung permanen.
Kemensos menargetkan pembangunan 500 gedung permanen Sekolah Rakyat di seluruh Indonesia dalam tiga hingga empat tahun ke depan.
Gus Ipul merinci bahwa peta jalan pembangunan fisik diarahkan agar setiap kabupaten dan kota di Indonesia memiliki setidaknya satu kompleks Sekolah Rakyat mandiri yang terintegrasi dari jenjang SD, SMP, hingga SMA.
"Jadi sekurang-kurangnya dalam 3 tahun, 4 tahun ke depan, ada 500 gedung permanen seperti ini di seluruh Indonesia yang bisa menampung lebih dari satu juta siswa," kata Gus Ipul.
Pencapaian fisik ini ditandai lewat agenda peresmian 100 Gedung Sekolah Rakyat secara serentak yang dipusatkan di Makassar pada 28 Oktober 2026.
Momentum tersebut dirangkai dengan gelaran Panggung Prestasi, sebuah ruang ekspresi terbuka bagi para siswa untuk menunjukkan kebolehan seni, olahraga, dan sains mereka kepada publik luas.
Kedewasaan Mengelola Gesekan: Ujian Empati di Bilik Asrama
Di balik akselerasi dan cerita sukses, menyatukan ribuan anak dari latar belakang jalanan, konflik keluarga, dan kerentanan psikologis ke dalam satu atap asrama menyimpan dinamika yang tidak sederhana.
Gesekan antarpeserta didik sempat meletup menjadi insiden fisik di lingkungan Sekolah Rakyat di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, serta di Mamuju, Sulawesi Barat.
Namun, alih-alih menutup rapat kasus demi memoles citra keberhasilan program, pemerintah memilih transparansi.
Evaluasi terhadap pelaksanaan Sekolah Rakyat setelah munculnya insiden yang melibatkan siswa di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, dan Mamuju menunjukkan bahwa pemerintah berupaya menyikapi persoalan pendidikan secara terbuka dan bertanggung jawab.
Pendekatan hukum pidana kaku dikesampingkan, digantikan fokus pada pemulihan psikososial anak, perawatan medis, dan komunikasi intensif bersama orang tua.
Gus Ipul menggarisbawahi, peristiwa tersebut menjadi alarm bagi pengetatan sistem pengasuhan wali asrama.
Tiga batas merah ditarik tegas: tidak boleh ada toleransi terhadap perundungan (bullying), kekerasan fisik maupun seksual, serta bibit intoleransi antarsiswa.
Langkah perbaikan teknis pengasuhan ditegaskan oleh Pelaksana Tugas Kepala Pusat Pendidikan, Pelatihan, dan Pengembangan Profesi Kesejahteraan Sosial Kemensos, Afrizon Tandjung.
Ia menekankan bahwa segala bentuk tindakan yang melukai fisik tidak memiliki ruang pembenaran di lingkungan pendidikan.
Evaluasi sistemik diarahkan pada penguatan kompetensi wali asuh, pembenahan tata kelola asrama, penjagaan ketat privasi anak yang berkonflik agar terhindar dari trauma berkepanjangan, serta memastikan mitigasi risiko berjalan sebelum perselisihan kecil antarpenghuni kamar membesar.