- Rusia semakin agresif merekrut warga asing untuk berperang di Ukraina dengan iming-iming gaji
- Iming-iming penghasilan besar menyimpan risiko maut. Warga asing justru berpotensi dikirim ke garis depan paling berbahaya
- Perekrutan Rusia semakin meluas secara global. Menurut data Ukraina, hampir 46.000 warga asing dari 151 negara telah dikontrak untuk berperang
Suara.com - Rusia dilaporkan semakin agresif merekrut warga negara asing untuk bergabung dalam perang melawan Ukraina.
Pihak RUsia dikabarkan mengiming-imingi gaji selangit untuk warga negara asing jika bergabung dengan mereka, meski resikonya sangat besar, bisa tewas dalam pertempuan seperti yang dialami oleh WNI bernama Muhammaf Taufiq.
Muhammad Taufiq dilaporkan tewas saat menjalani pertempuran pertamanya bersama pasukan pendudukan Rusia di Ukraina.
Pria kelahiran Sorong, Papua Barat, pada 1978 itu direkrut menjadi tentara bayaran Rusia dan bertugas sebagai penembak senapan mesin.
GUR mengungkapkan, perekrut Rusia diduga menemukan Taufiq setelah pria tersebut mengirimkan curriculum vitae (CV) untuk mencari pekerjaan.
Taufiq kemudian diduga tergiur janji penghasilan hingga memutuskan berangkat ke Moskow.
![Kronologis WNI Eks Sopir Taksi Tentara Bayaran Rusia: Latihan 10 Hari, Tewas di Pertempuran Pertama [Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/10/31/10639-muhammad-taufiq.jpg)
Lantas berapa gaji yang ditawarkan pihak Rusia untuk warga negara asing?
Mengutip dari laporan Slovoidilo, seorang warga Thailand pernah mendapat iming-iming bayaran mencapai USD 70.000 atau sekitar Rp 1,1 miliar serta janji memperoleh kewarganegaraan Rusia.
Informasi ini diungkap oleh pihak Ukraina, Menurut Pusat Penanggulangan Disinformasi Ukraina (CPD), iklan perekrutan untuk bergabung dengan militer Rusia mulai beredar di ruang informasi Thailand.
Dalam materi promosi itu, calon anggota militer dijanjikan bayaran sekitar USD 70.000 untuk menandatangani kontrak.
Warga negara asing ini juga ditawari penempatan di wilayah belakang medan perang atau posisi nonpertempuran serta kemudahan mendapatkan kewarganegaraan Rusia.
Namun, CPD memperingatkan bahwa kenyataan yang dihadapi warga asing yang direkrut Rusia kerap berbeda dari janji tersebut.
Menurut CPD, para tentara bayaran asing dari negara-negara Global South justru sering ditempatkan di bagian garis depan paling berbahaya.
Mereka juga dilaporkan tidak selalu menerima pembayaran seperti yang dijanjikan.
"Untuk mengompensasi kerugian besar dan berkurangnya jumlah warga Rusia yang bersedia berperang, Kremlin semakin aktif merekrut orang asing, tanpa segan menggunakan manipulasi dan penipuan terang-terangan," demikian pernyataan CPD.
Rusia Rekrut Hampir 46 Ribu Warga Asing dari 151 Negara
Skala perekrutan tentara asing oleh Rusia juga terungkap dalam laporan Koordinasi Markas Penanganan Tawanan Perang Ukraina.
Sekretaris lembaga tersebut, Dmytro Usov, menyatakan Kementerian Pertahanan Rusia telah menandatangani kontrak dengan hampir 46.000 warga asing dari 151 negara untuk terlibat dalam perang melawan Ukraina.
Angka tersebut meningkat dibandingkan data setahun sebelumnya.
Pada periode itu, Ukraina mencatat sekitar 28.000 warga asing dari 138 negara telah direkrut oleh Rusia.
Sebagai perbandingan, pada 2022 jumlah kontrak militer Rusia dengan warga asing yang tercatat hanya 94.
Usov juga mengungkapkan bahwa Kementerian Pertahanan Rusia menargetkan penandatanganan 18.500 kontrak dengan warga asing sepanjang 2026.
Hingga laporan tersebut disampaikan, sebanyak 16.168 kontrak telah ditandatangani.
Indonesia Masuk Daftar Negara Sasaran Perekrutan Rusia
Perekrutan tentara asing oleh Rusia tidak hanya menyasar Thailand.
Indonesia juga disebut sebagai salah satu negara yang belakangan semakin aktif menjadi sasaran perekrutan.
Selain Indonesia, negara lain yang disebut dalam laporan Ukraina antara lain Peru, Sierra Leone, Burundi, Chad, Filipina, Kongo, Panama, Ekuador, dan Zimbabwe.
Ukraina menilai Rusia memanfaatkan prosedur imigrasi yang lebih sederhana untuk menarik warga asing bergabung dengan militernya.
Bahkan, sejumlah warga dari negara berkembang diduga direkrut melalui tawaran pekerjaan dan janji keuntungan finansial.
Sebelumnya, Dinas Intelijen Luar Negeri Ukraina juga mengungkap sedikitnya 27 warga Yaman masuk dalam daftar calon perekrutan Rusia.