- Muzammil Andriansyah melalui Raja Lele Indonesia mengembangkan inovasi budidaya lele dengan masa panen 45 hari pada 1 November 2026.
- Formula pakan khusus buatan mereka diklaim mampu menghemat biaya operasional hingga 50 persen dibandingkan metode konvensional.
- Raja Lele Indonesia menerapkan sistem sirkulasi air 24 jam untuk menampung kepadatan tinggi mencapai 200.000 ekor per kolam.
Konsumen Akui Kualitas Lele
Salah satu konsumen Raja Lele Indonesia, Anton Sujarwo, mengaku tertarik dengan metode budidaya tersebut setelah berkecimpung selama 12 tahun dalam usaha lele.
Anton mengatakan, selama menjalankan usaha, ia terbiasa membeli lele dari pembudidaya konvensional. Namun, ia baru menemukan metode budidaya dengan masa panen 45 hari di Raja Lele Indonesia.
“Saya terjun di dunia lele itu sudah selama 12 tahun ini. Nah, saya baru menemukan lele dalam usia 45 hari bisa panen cuma ada di sini. Itu untuk kualitasnya juga enggak kalah sama pembudidaya-pembudidaya yang lain,” kata Anton.
Ia juga menilai kemampuan Raja Lele Indonesia dalam menerapkan budidaya dengan kepadatan tinggi menjadi keunggulan tersendiri.
“Di Jawa Timur setahu saya itu yang bisa budidaya lele dengan kepadatan tinggi cuma ada di sini,” ujarnya.
Dari sisi pasar, Anton menyebut konsumen cenderung menyukai lele hasil budidaya tersebut karena memiliki daging yang lebih tebal dan padat dibandingkan lele dari pembudidaya lainnya.
“Nah, untuk konsumen itu lebih suka yang ini, karena dagingnya lebih tebal. Untuk kapasitas dagingnya itu lebih tebal, lebih padat daripada pembudidaya yang biasa-biasa aja,” tuturnya.
Kolam Berkapasitas 200 Ribu Ekor, Target Ekspansi ke Seluruh Provinsi
Untuk menunjang budidaya dengan kepadatan tinggi, Raja Lele Indonesia menerapkan sistem sirkulasi air selama 24 jam. Sistem tersebut dijalankan untuk menjaga kualitas air, kebersihan kolam, serta memenuhi kebutuhan ikan selama masa pemeliharaan.
Haji Aan menjelaskan, sirkulasi air dilakukan secara terus-menerus agar kondisi kolam tetap terjaga.
“Air 24 jam kami nonstop selalu ganti dengan sirkulasi karena kebutuhan lele, mineral diambil dari mineral air tersebut. Jadi kolam kami tetap selalu bersih dan higienis,” jelasnya.
Ia menyebut kolam berukuran 6 x 10 meter yang digunakan saat ini mampu menampung sekitar 150.000 hingga 200.000 ekor lele.
Kepadatan tersebut membutuhkan pengelolaan kualitas air dan pemantauan kesehatan ikan secara konsisten agar proses budidaya dapat berjalan optimal.
Ke depan, Haji Aan berharap pemerintah dapat memberikan dukungan terhadap inovasi budidaya yang dikembangkan Raja Lele Indonesia. Ia menargetkan pembangunan satu titik budidaya di setiap provinsi di Indonesia.
Menurutnya, perluasan lokasi budidaya tidak hanya bertujuan meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga mendekatkan sentra produksi dengan pasar. Dengan demikian, biaya transportasi diharapkan dapat ditekan.
“Dan saya berharap tiap provinsi saya ingin membangun satu titik di seluruh Indonesia untuk menekan biaya transportasi. Itu harapan kita ke depan,” ujarnya.