Gen Z, Homeless Media, dan Kesadaran akan Kebenaran Informasi

Gen Z, Homeless Media, dan Kesadaran akan Kebenaran Informasi
Olivia Lewi Pramesti, Dosen FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta.(Suara.com)
baca 10 detik
  • Studi Gen Z menunjukkan preferensi tinggi terhadap konten visual menarik dari homeless media di media sosial daripada berita formal.
  • Homeless media tumbuh pesat sebagai sumber informasi lokal, seringkali mengutamakan kecepatan informasi yang berisiko menimbulkan misinformasi.
  • Fenomena clickbait dan news abuse di homeless media mencerminkan pendekatan mirip jurnalisme tabloid yang minim verifikasi konten.

Suara.com - Perbincangan soal homeless media atau sering disebut media tanpa rumah yang mengandalkan platform media sosial dalam distribusi kontennya, jadi tren tersendiri di Indonesia. Studi empiris yang saya lakukan pada mahasiswa saya yang rata-rata adalah Generasi Z, ketika ditanya soal media apa yang dikonsumsi, jawabannya adalah akun-akun di Instagram yang populer dan centang biru.

Ya, mereka tidak peduli bagaimana isi kontennya, apakah benar ataukah tidak. Yang terpenting adalah visual menarik, tidak membosankan, judul menarik dan membuat penasaran, dan caption-nya singkat. Pertanyaan berlanjut soal apakah masih mengonsumsi konten di media-media profesional seperti media-media besar di Indonesia. Jawabannya jarang dan bahkan tidak. Alasannya sangat sederhana. Bahasa media profesional kaku dan kontennya berat.

Studi empiris ini sedikit banyak menjawab alasan bahwa pengguna mayoritas internet terbesar di Indonesia yang didominasi Gen Z dan milineal yang jumlahnya mencapai 87-88 persen (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, 2024), lebih menyukai konsumsi berita melalui media sosial dibandingkan berita-berita tradisional (American Press Institute dalam Riyanto, 2024).

Keberadaan homeless media tumbuh dengan cepat. Bahkan di masing-masing kota besar di Indonesia, akun homeless menjadi sumber informasi lokal. Penelitian Remotivi, Internews, dan USAID tentang homeless media (2024) mencoba memetakan sebaran akun homeless media di lima kota besar di Indonesia yaitu Medan, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya.

Temuan menarik dari penelitian tersebut di antaranya:

  1. Homeless media dijalankan tidak informal oleh beberapa orang;
  2. pusat informasi lokal, di mana konten kejahatan, fakta kota, perilaku unik warga kota, romantisasi kota, dan keribatan warga menjadi topik pilihan pembaca yang meningkatkan engagement homeless media di media sosial;
  3. Kecepatan informasi yang rawan misinformasi;
  4. Tingginya minat akses homeless media, membuat media ini menjadi endorsement dari berbagai pihak termasuk pemerintah;
  5. jurnalis media arus utama menggunakan akun ini sebagai sumber informasi dan tidak bisa beradu kecepatan dengan media ini.

Gen Z dan Jurnalisme Tabloid

Kata “berita” mungkin menjadi kata yang asing bagi Gen Z. Mungkin hanya mahasiswa yang mengambil konsentrasi media, jurnalistik, atau Ilmu Komunikasi, yang lebih sering mendengar karena terpapar lebih sering, itu pun karena masuk dalam mata kuliah.

Berita dapat dipahami sebagai produk jurnalistik dengan proses pembuatannya yang ketat di mana prinsip-prinsip seperti verifikasi dan akurasi menjadi prinsip utamanya. Mekanisme gatekeeping sebagai bagian dari proses seleksi berita menjadikan berita lebih minim terhindar hoaks. Produsennya pun adalah profesional yang paham pada teknik, etik, serta aturan yang berlaku.

Kata “berita” sendiri sangat jauh dari dunia gen Z. Kata “konten” lebih akrab di dunia mereka. Bagi mereka kata “konten” ini lebih ringan, dekat, menghibur, serta relate dengan kehidupan mereka.

Kendati konten banyak diproduksi oleh non profesional dan tidak produksinya tidak seketat berita, namun gen Z lebih memilih konten sebagai sumber informasi mereka. Konten-konten lebih banyak bersebaran di media sosial atau akrab disebut dengan homeless media.

Konten ringan, bombastis, hiperbola, serta ambigu, jadi konten pilihan Gen Z. Pemilihan pada konten inilah menjadi bukti fenomena clickbait di Indonesia. Fenomena clickbait menjadi bagian dari cara pengelola media meningkatkan traffic mereka. Fenomena clickbait sendiri merupakan bentuk baru dari jurnalisme tabloid/jurnalisme kuning.

Pramesti (2023) menjelaskan bahwa jurnalisme tabloid lebih menekankan sensansi dan skandal sebagai komoditas. Wasserman (dalam Rahmitasari, 2013) menjelaskan jurnalisme tabloid hadir di Amerika tahun 1800an dan melemahkan jurnalisme cetak sebagai jurnalisme profesional. Kala itu, jurnalisme tabloid hadir dalam bentuk surat kabar, dengan gaya sensasional yang khas.

Fenomena clickbait sendiri sangat dekat dengan homeless media. Penelitian Riyanto (2024) menyatakan bahwa homeless media lebih mengutaman konten viral. Konten yang diunggah adalah konten yang berpotensi menarik perhatian.

Pengelola media homeless media pun sadar bahwa konten viral lebih disukai pembaca ketimbang konten serius. Bahkan, pengelola media sering kali abai pada konten yang diunggah, seperti curhatan warga yang terkadang masuk kehidupan privasi mereka. Hal ini menunjukkan bahwa homeless media dekat dengan jurnalisme tabloid/kuning.

Tanpa disadari ekosistem media homeless pun terbentuk. Homeless media, Gen Z, dan asupan konten ringan menjadi sebuah simbiosis mutualisme. Konten ringan, menarik, dan viral menjadi kebutuhan Gen Z, dan homeless media memberikan kepuasan konten pada mereka. Kebutuhan relaksasi dan hiburan menjadi kebutuhan utama yang digadang-gadang Gen Z sebagai dampak kepenatan mereka pada aktivitas yang dilakukan.

Sayangnya, pengguna ini tidak menyadari bahwa konten yang dikonsumsi mengeksploitasi kognitif mereka atau disebut curiosity gap. Cakraborty (dalam Pramesti, 2023) mengungkapkan bahwa curiosity gap ini adalah kesenjangan pengetahuan yang hanya memuaskan sisi emosional semata. Curiosity gap ini tentu saja bisa menurunkan daya kritis Gen Z pada sebuah informasi.

News Abuse, Sebuah Konsekuensi

Salah satu fenomena menarik yang terjadi di Korea Selatan adalah news abuse. Kwak, Hong, C Lee (dalam Pramesti, 2023) menjelaskan bahwa news abuse adalah penyalahgunaan berita dengan menyalin berita yang viral tanpa izin, dan disebarluaskan dengan harapan klik pengguna.

Berdasarkan riset penulis, news abuse ini juga terjadi di Indonesia, dan dilakukan oleh pengelola akun homeless media. Kendati saat mengupload berita dituliskan sumber beritanya, namun sering kali produsen berita kurang memperhatikan betul kebenaran informasi ini. Akhirnya kecepatan unggahan dan penyebaran informasi menjadi hal yang diprioritaskan.

News abuse ini sangat rentan sekali pada misinformasi, konten palsu, bahkan ujaran kebencian. Riyanto (2024) mengemukakan meski homeless media mampu mendukung partisipasi publik, dan memberikan informasi real time, namun homeless media dapat memperkuat stereotipe berbahaya dan menyebarkan informasi salah.

Kutipan ini terkonfirmasi ketika penulis mengamati beberapa akun homeless media di Instagram, pengelola sering mengonfirmasi bahwa konten adalah hoaks, dan banyak komentar- komentar netizen yang kadang mengonfirmasi informasi yang salah.

Tentu saja news abuse ini bisa membuat panik masyarakat. Dari konten yang dikonsumsi justru membuat pengguna overthinking, dan bisa terarah pada opini yang yang sesat. Hal ini berbanding terbalik dari esensi kegiatan jurnalistik, di mana jurnalistik bertujuan memberikan informasi yang benar dan menyejahterakan masyarakat.

Tanpa disadari, sebenarnya homeless media ini turut melakukan kegiatan jurnalistik ini, hanya saja belum didasari pengetahuan dan etika soal jurnalistik atau media. Pramesti (2022) mengemukakan bahwa content creator media sosial lebih mengutamakan kemampuan mereka di bidang digital, dan sering abai pada etika konten.

Kesadaran akan Kebenaran Informasi

Di sisi lain, hadirnya homeless media turut menjadi keresahan pelaku media arus utama. Berita yang diproduksi dengan proses ketat dan benar, justru tidak banyak dikonsumsi Gen Z. Bahkan, berita yang diunggah di akun homeless media yang dicomot dari berita arus utama, lebih mendapatkan banyak engagement dari pembaca.

Hal ini menjadi refleksi khususnya bagi pelaku homeless media untuk melakukan strategi konten yang tentunya bisa membuat masyarakat cerdas dan sejahtera. Kesadaran pada kebenaran menjadi fondasi bagi seluruh produsen informasi. Kebenaran informasi ini ditemukan pada jurnalisme tradisional di mana proses pemuatan informasi didasarkan prinsip verifikasi dan akurasi yang ketat.

Kedua prinsip ini menjadi prinsip penting untuk menghasilkan berita benar dan juga mencerdaskan pengguna media sosial. Kesadaran ini pastinya akan dipertimbangkan menjadi faktor utama penyebaran informasi dibandingkan kecepatan. Hal yang menarik dari Kovach dan Rosenstiel (2014) soal esensi jurnalisme intelektual yang menurut penulis sangat bisa diaplikasikan oleh pelaku homeless media.

Pertama, jangan membuat informasi palsu sebelum tahu kebenarannya. Kedua, jangan menipu khalayak bila belum melakukan konfirmasi apapun. Konfirmasi bisa dilakukan dengan melihat langsung kejadiannya. Ketiga, informasi harus transparan, disertai sumber yang kredibel atas informasi. Keempat, liputan langsung adalah liputan yang terbaik. Dan kelima, kerendahan hati untuk mendengarkan cerita orang lain untuk menghindari kesalahan. Komentar dari pengguna atas sebuah konten, semestinya perlu ditanggapi dengan bijak dan dikonfirmasi kebenarannya.

Esensi jurnalisme intelektual ini penting untuk meningkatkan literasi digital pada konten-konten yang dikonsumsi Gen Z. Pelaku homeless media memiliki peluang untuk menjadi garda depan informasi, hanya perlu dibarengi dengan fondasi kuat yakni menyebarkan berita benar dan utuh. Untuk penguatan fondasi tersebut, kolaborasi dengan pelaku media arus utama sangat dibutuhkan.

Olivia Lewi Pramesti, M. A
Dosen FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kenapa AI Terasa Lebih Enak Diajak Curhat daripada Manusia? Ini Penjelasan Peneliti

Kenapa AI Terasa Lebih Enak Diajak Curhat daripada Manusia? Ini Penjelasan Peneliti

News | Jum'at, 17 Juli 2026 | 11:59 WIB

Takut Dihakimi Manusia, 6 dari 10 Gen Z Indonesia Pilih Curhat ke AI

Takut Dihakimi Manusia, 6 dari 10 Gen Z Indonesia Pilih Curhat ke AI

News | Jum'at, 17 Juli 2026 | 10:29 WIB

Coffee Shop dan Ruang Tenang Bagi Gen Z: Bukan Lagi Sekadar Tempat Ngopi

Coffee Shop dan Ruang Tenang Bagi Gen Z: Bukan Lagi Sekadar Tempat Ngopi

Your Say | Kamis, 16 Juli 2026 | 14:00 WIB

Problematika Cinta Gen Z: Takut Salah Pilih Tapi Juga Tidak Mau Sendirian

Problematika Cinta Gen Z: Takut Salah Pilih Tapi Juga Tidak Mau Sendirian

Your Say | Rabu, 15 Juli 2026 | 12:37 WIB

Gen Z dan Stigma Generasi Pemalas, Apa Benar Masalahnya Sesederhana Itu?

Gen Z dan Stigma Generasi Pemalas, Apa Benar Masalahnya Sesederhana Itu?

Your Say | Rabu, 15 Juli 2026 | 07:00 WIB

Me Time di Tempat Umum: Saat Gen Z Refleks Menyibukkan Diri saat Sendirian

Me Time di Tempat Umum: Saat Gen Z Refleks Menyibukkan Diri saat Sendirian

Your Say | Selasa, 14 Juli 2026 | 16:50 WIB

Slow Living Bagi Gen Z: Tren Viral atau Cara Bertahan dari Tekanan Hidup?

Slow Living Bagi Gen Z: Tren Viral atau Cara Bertahan dari Tekanan Hidup?

Your Say | Selasa, 14 Juli 2026 | 18:45 WIB

Fear of Falling Behind dan Gen Z: Semua Orang Terlihat Sukses, Aku Kapan?

Fear of Falling Behind dan Gen Z: Semua Orang Terlihat Sukses, Aku Kapan?

Your Say | Senin, 13 Juli 2026 | 18:40 WIB

Ingin Hidup Lebih Tenang? Mulailah Menerapkan 'Micro Joy' Mulai Detik Ini

Ingin Hidup Lebih Tenang? Mulailah Menerapkan 'Micro Joy' Mulai Detik Ini

Your Say | Senin, 13 Juli 2026 | 12:51 WIB

Benarkah Gen Z Memang Generasi yang Gampang Bosan?

Benarkah Gen Z Memang Generasi yang Gampang Bosan?

Your Say | Minggu, 12 Juli 2026 | 10:50 WIB

Terkini

Merawat Koperasi agar Berdaya Melampaui Dinamika Politik

Merawat Koperasi agar Berdaya Melampaui Dinamika Politik

Bisnis | Jum'at, 24 Juli 2026 | 23:24 WIB

Ribuan Orang di Dunia Jadi Korban Phishing Kratos, Pengelola Dibekuk di Pontianak

Ribuan Orang di Dunia Jadi Korban Phishing Kratos, Pengelola Dibekuk di Pontianak

Kalbar | Jum'at, 24 Juli 2026 | 22:45 WIB

Usia 35 Tahun Sudah Punya 5 SPBU, Herman Deru Ungkap Kebiasaan yang Mengubah Hidupnya

Usia 35 Tahun Sudah Punya 5 SPBU, Herman Deru Ungkap Kebiasaan yang Mengubah Hidupnya

Sumsel | Jum'at, 24 Juli 2026 | 22:29 WIB

Terkuak! Pengemudi Alphard Arogan ke Satpam di Bundaran HI Ternyata Anggota Polda Jabar

Terkuak! Pengemudi Alphard Arogan ke Satpam di Bundaran HI Ternyata Anggota Polda Jabar

News | Jum'at, 24 Juli 2026 | 22:16 WIB

Napi Kasus Narkoba Pekanbaru Kabur saat Berobat, Petugas Pengawal ke Mana?

Napi Kasus Narkoba Pekanbaru Kabur saat Berobat, Petugas Pengawal ke Mana?

Riau | Jum'at, 24 Juli 2026 | 22:14 WIB

Hinca Panjaitan Sebut Perkara Kredit Tak Layak Diproses sebagai Korupsi

Hinca Panjaitan Sebut Perkara Kredit Tak Layak Diproses sebagai Korupsi

Sumbar | Jum'at, 24 Juli 2026 | 21:58 WIB

Mahfud MD Bantah Kejagung soal Febrie: Tak Pernah Ada Pelimpahan Kasus Asabri dari Polisi

Mahfud MD Bantah Kejagung soal Febrie: Tak Pernah Ada Pelimpahan Kasus Asabri dari Polisi

News | Jum'at, 24 Juli 2026 | 21:57 WIB

Mengenal Profesi Mixologist, Peracik Minuman yang Kini Makin Diburu Industri F&B

Mengenal Profesi Mixologist, Peracik Minuman yang Kini Makin Diburu Industri F&B

Lifestyle | Jum'at, 24 Juli 2026 | 21:45 WIB

Minta Rp4 Juta lalu Sita HP Korban! Modus Polisi Gadungan Terbongkar di Banyumas

Minta Rp4 Juta lalu Sita HP Korban! Modus Polisi Gadungan Terbongkar di Banyumas

Jawa Tengah | Jum'at, 24 Juli 2026 | 21:43 WIB

Indonesia Masih Bergantung pada Obat Impor, Kemandirian Farmasi Jadi Tantangan

Indonesia Masih Bergantung pada Obat Impor, Kemandirian Farmasi Jadi Tantangan

Health | Jum'at, 24 Juli 2026 | 21:35 WIB

×