- Ajakan Presiden Prabowo Subianto mewaspadai gangguan stabilitas nasional oleh kekuatan asing didukung catatan historis campur tangan negara lain.
- Aktivitas intelijen asing umumnya ilegal meliputi pengumpulan data dan penyebaran hoaks untuk menciptakan instabilitas politik dan ekonomi.
- Campur tangan intelijen asing terbukti terjadi pada peristiwa penting seperti tragedi 1965, kerusuhan 1998, dan penyelundupan nikel baru-baru ini.
Suara.com - Konstitusi Presiden Prabowo Subianto mengajak semua elemen masyarakat untuk mewaspadai gangguan stabilitas nasional oleh kekuatan asing sangat beralasan dan karenanya patut diapresiasi.
Oleh alasan kepentingan geopolitik maupun alasan ekonomi, catatan historis menunjukan bahwa Indonesia selalu menjadi target campur tangan kekuatan asing melalui berbagai pendekatan.
Kehadiran unsur asing di setiap negara melalui pendekatan resmi ditandai dengan penempatan para diplomat dengan sejumlah staf.
Pendekatan resmi lainnya adalah penugasan tenaga asing pada ragam kantor badan-badan multilateral. Mode pendekatan lainnya adalah kehadiran para pebisnis asing yang bermitra dengan pengusaha lokal. Tetapi, sejarah juga mencatat dan membuktikan bahwa ada penempatan tidak resmi tenaga asing di negara lain yang kehadirannya disamarkan.
Lazim dikenal dengan sebutan intelijen atau agen rahasia. Populer dalam sebutan lokal adalah mata-mata.
Praktik penempatan atau penugasan intelijen asing dari negara yang satu ke banyak negara lain masih terjadi hingga hari-hari ini.
Intensitas kehadiran dan kegiatan intelijen asing di setiap negara disesuaikan dengan tujuan atau kepentingan, utamanya dalam konteks kepentingan geopolitik dan ekonomi.
Aktivitasnya beragam namun sejatinya terlarang atau ilegal. Lazimnya adalah mengumpulkan atau membeli data dan informasi, membangun jaringan melalui kerjasama dengan oknum warga lokal, mengungkap dan menyebarluaskan hoaxs atau kasus dengan tujuan menyulut emosi publik setempat untuk menciptakan instabilitas.
Hari-hari ini, sebagaimana bisa disimak bersama, sedang terjadi eskalasi ketegangan geopolitik di berbagai kawasan.
Baca Juga: Laporan Suara.com dari Swiss: Prabowo Siap Hadir di World Economic Forum 2026
Ambisi Amerika Serikat (AS) menguasai Greenland di Arktik direspons sangat keras oleh negara-negara di Eropa barat. Ketegangan di Iran memancing keterlibatan sejumlah negara asing, Di Afrika, terjadi perang kepentingan yang lagi-lagi melibatkan sejumlah negara dari benua lain. Amerika utara dan selatan pun sudah menjadi titik didih karena ancaman AS menyerang beberapa negara di kawasan itu.
Di sela-sela ketegangan pada wilayah berpotensi konflik itu, komunitas intelijen asing dari berbagai negara sedang bekerja. Sudah barang tentu lalu lintas informasi yang bersumber dari mereka sedang bersliweran. Muatan informasinya tak lebih dari kelemahan dan kekuatan lawan serta peluang.
Saling melancarkan serangan militer antara Iran dan Israel pada Juni 2025 memberi gambaran cukup jelas tentang bagaimana intelijen kedua negara itu bekerja.
Selain dipicu oleh potensi konflik, hubungan antar-negara yang tidak harmonis atau tidak memiiki hubungan diplomatik pun tak jarang terlibat perang intelijen.
Ketika Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan suatu negara karena alasan tertentu, itulah salah satu alasan bagi hadirnya intelijen dari negara yang tidak bermitra diplomatik dengan Indonesia.
Jadi, ketika Indonesia konsisten mendukung perjuangan rakyat Palestina dengan mengecam Israel sebagai pihak yang menghambat perdamaian di Timur Tengah, tidak tertutup kemungkinan bahwa jaringan intelijen Israel pun cawe-cawe di Indonesia. Selain itu, potensi sumber daya alam (SDA) Indonesia yang melimpah pun menjadi daya tarik untuk beroperasinya intelijen asing di negara ini.