Alarm 84 Persen: Penolakan Gen Z Pilkada Lewat DPRD dan Bahaya Krisis Legitimasi

Alarm 84 Persen: Penolakan Gen Z Pilkada Lewat DPRD dan Bahaya Krisis Legitimasi
Aktivis dan mantan politikus Partai Gerindra, Pius Lustrilanang. (Foto dok. Pribadi/ Suara.com)
baca 10 detik
  • Survei LSI Denny JA Januari 2026 menunjukkan 66,1% menolak Pilkada lewat DPRD, Gen Z paling menolak (84%).
  • Penolakan Gen Z didorong pandangan pemilihan langsung sebagai identitas kewargaan pasca-Reformasi.
  • Kemunduran demokrasi sering terjadi perlahan melalui perubahan administratif yang menggerus partisipasi warga.

Suara.com - Hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) Denny JA yang dirilis pada 7 Januari 2026 bukan sekadar deretan angka statistik. Ia adalah bunyi sirine peringatan dini bagi masa depan demokrasi Indonesia.

Meski secara umum 66,1 persen responden menolak kembalinya Pilkada melalui DPRD, ada satu anomali data yang jauh lebih menggetarkan: Generasi Z muncul sebagai barisan paling depan yang menolak ide tersebut, dengan angka mencapai 84 persen.

Angka ini tidak bisa dibaca sekadar sebagai preferensi generasional. Ia adalah indikator perubahan sumber legitimasi politik.

Gen Z tidak sedang berdebat soal efisiensi anggaran, konflik horizontal, atau desain teknokratis Pilkada. Mereka sedang mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: apakah suara warga masih menjadi fondasi demokrasi, atau telah dipersempit menjadi variabel yang bisa dipindahkan atas nama stabilitas.

Generasi Z adalah generasi yang sepenuhnya tumbuh dalam lanskap pasca-Reformasi. Mereka tidak memiliki memori hidup tentang demokrasi terbatas atau pemilu yang dikendalikan elite.

Bagi mereka, pemilihan langsung bukan sekadar mekanisme elektoral, melainkan identitas kewargaan. Karena itu, wacana Pilkada melalui DPRD tidak dibaca sebagai alternatif kebijakan, tetapi sebagai kemunduran simbolik demokrasi— sebuah sinyal bahwa hak yang selama ini dianggap melekat mulai diperlakukan sebagai fasilitas yang bisa dinegosiasikan.

Penolakan ini diperkuat oleh krisis kepercayaan terhadap institusi perantara. Di mata banyak anak muda, DPRD kerap diasosiasikan dengan politik transaksional, kompromi elite, dan proses pengambilan keputusan yang tertutup.

Ketika pemilihan kepala daerah dipindahkan ke ruang seperti itu, yang terbayang bukan stabilitas, melainkan negosiasi. Dalam kondisi kepercayaan yang rapuh, demokrasi justru dituntut semakin langsung dan transparan—bukan semakin berjarak dari warga.

Kajian politik kontemporer membantu membaca kegelisahan ini. Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt dalam How Democracies Die (2018) menjelaskan bahwa kemunduran demokrasi modern jarang terjadi lewat kudeta terbuka.

baca juga
Ilustrasi pilkada damai. [Ist]
Ilustrasi pilkada damai. [Ist]

Ia berlangsung perlahan, legal, dan administratif—melalui perubahan aturan yang tampak rasional, tetapi secara kumulatif menggerus partisipasi dan akuntabilitas. Dari perspektif ini, resistensi Gen Z bukan sikap reaktif, melainkan alarm dini terhadap proses kemunduran demokrasi.

Budaya digital membuat alarm itu berbunyi lebih nyaring. Gen Z hidup dalam ekosistem yang membiasakan partisipasi langsung: memberi suara, merespons, mengawasi, dan memobilisasi secara real time.

Dalam istilah W. Lance Bennett dan Alexandra Segerberg, ini adalah era connective action—aksi kolektif yang lahir dari jejaring digital dan identitas personal, bukan dari struktur partai tradisional. Politik, bagi generasi ini, harus terasa hadir dan dapat diintervensi. Ketika akses tersebut diputus, yang muncul bukan apatisme, melainkan delegitimasi.

Pengalaman global menunjukkan bahwa kepekaan ini bukan ilusi. Dunia menyaksikan bagaimana gerakan yang dipelopori generasi muda mampu mengguncang bahkan menjatuhkan kekuasaan. Di Sri Lanka pada 2022, gelombang protes rakyat—Aragalaya—yang digerakkan anak muda lintas kelas berujung pada runtuhnya legitimasi rezim Rajapaksa.

Gerakan itu tidak berangkat dari ideologi besar, melainkan dari rasa “cukup”: krisis ekonomi, ketidakadilan, dan jarak elite dengan kehidupan nyata warga.

Di Bangladesh, protes mahasiswa dan generasi muda pada 2024 menunjukkan pola serupa. Bermula dari kebijakan spesifik, ia berkembang menjadi tuntutan perubahan politik yang lebih luas.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Lobi Prabowo-SBY Bikin Demokrat Ubah Sikap Soal Pilkada? Ini Kata Gerindra

Lobi Prabowo-SBY Bikin Demokrat Ubah Sikap Soal Pilkada? Ini Kata Gerindra

News | Kamis, 08 Januari 2026 | 18:49 WIB

Pilkada Lewat DPRD Bukan Cuma Hemat Biaya, Populi Center: Ini 4 Syarat Beratnya

Pilkada Lewat DPRD Bukan Cuma Hemat Biaya, Populi Center: Ini 4 Syarat Beratnya

News | Kamis, 08 Januari 2026 | 18:41 WIB

Rakyat Tolak Pilkada via DPRD, Deddy Sitorus: Mereka Tak Mau Haknya Dibajak Oligarki

Rakyat Tolak Pilkada via DPRD, Deddy Sitorus: Mereka Tak Mau Haknya Dibajak Oligarki

News | Kamis, 08 Januari 2026 | 17:40 WIB

Tanggapi Survei LSI Denny JA, PKB Sebut Pilkada Lewat DPRD Bagian dari Demokrasi

Tanggapi Survei LSI Denny JA, PKB Sebut Pilkada Lewat DPRD Bagian dari Demokrasi

News | Kamis, 08 Januari 2026 | 16:53 WIB

Terkini

Sustainability Tak Harus Rumit, Ini Cara Memulai Gaya Hidup Ramah Lingkungan dari Keseharian

Sustainability Tak Harus Rumit, Ini Cara Memulai Gaya Hidup Ramah Lingkungan dari Keseharian

Lifestyle | Sabtu, 10 Oktober 2026 | 07:11 WIB

KBRI Riyadh Minta WNI Waspada Usai Serangan Houthi Guncang Arab Saudi

KBRI Riyadh Minta WNI Waspada Usai Serangan Houthi Guncang Arab Saudi

News | Sabtu, 10 Oktober 2026 | 07:08 WIB

Sindikat Narkoba Malang: Polisi Gulung 175 Tersangka, Sita Sabu Kiloan hingga 2 Ton Kimia

Sindikat Narkoba Malang: Polisi Gulung 175 Tersangka, Sita Sabu Kiloan hingga 2 Ton Kimia

Malang | Sabtu, 10 Oktober 2026 | 07:07 WIB

Kondisi Keuangan Berubah, 4 Shio Ini Berpeluang Dapat Rezeki Setelah 10 Oktober 2026

Kondisi Keuangan Berubah, 4 Shio Ini Berpeluang Dapat Rezeki Setelah 10 Oktober 2026

Lifestyle | Sabtu, 10 Oktober 2026 | 07:05 WIB

Raja Malaysia Minta Sekolah Ditutup Jika Pencemaran Udara Kebakaran Hutan Makin Parah

Raja Malaysia Minta Sekolah Ditutup Jika Pencemaran Udara Kebakaran Hutan Makin Parah

News | Sabtu, 10 Oktober 2026 | 07:03 WIB

Review Novel Burung-Burung Manyar: Saat Perang dan Sejarah Merenggut Tempat Kita Pulang

Review Novel Burung-Burung Manyar: Saat Perang dan Sejarah Merenggut Tempat Kita Pulang

Your Say | Sabtu, 10 Oktober 2026 | 07:00 WIB

Karhutla Palangka Raya Meluas, 1.407 Hektare Lahan Terbakar

Karhutla Palangka Raya Meluas, 1.407 Hektare Lahan Terbakar

Foto | Sabtu, 10 Oktober 2026 | 07:00 WIB

Gerebek Sarang Narkoba di RE Martadinata, Polresta Bandar Lampung Ringkus 2 Pengedar dan 1 Pemakai

Gerebek Sarang Narkoba di RE Martadinata, Polresta Bandar Lampung Ringkus 2 Pengedar dan 1 Pemakai

Lampung | Sabtu, 10 Oktober 2026 | 06:59 WIB

Babak Baru Ijazah Gibran, Denny Indrayana cs Mau Audiensi ke DPR, DPD, hingga MPR

Babak Baru Ijazah Gibran, Denny Indrayana cs Mau Audiensi ke DPR, DPD, hingga MPR

News | Sabtu, 10 Oktober 2026 | 06:53 WIB

Hasil Drawing IBL All Indonesian 2026: Satria Muda dan Dewa United Pisah Grup

Hasil Drawing IBL All Indonesian 2026: Satria Muda dan Dewa United Pisah Grup

Sport | Sabtu, 10 Oktober 2026 | 06:43 WIB

×