Negara Maju vs Negara Berkembang: Perbedaan Pandangan Soal Mobil Masa Depan

Denada S Putri

Selasa, 15 Oktober 2024 | 12:02 WIB
Negara Maju vs Negara Berkembang: Perbedaan Pandangan Soal Mobil Masa Depan
Ilustrasi mobil/kemudi mobil masa depan. [Ist]

Suara.com - Penelitian terhadap 16.000 konsumen yang tersebar dari 25 negara dilakukan oleh Arthur D. Little (ADL) untuk menyoroti tren dan tantangan utama yang dihadapi pasar otomotif global. Penelitian edisi 2024 itu menunjukkan, prediksi soal sektor mobilitas yang terhubung, otonom, berbagi dan elektrik atau Connected, Autonomous, Shared, and Electric (CASE) dari dekade terakhir, masih jauh dari realisasi.

Melansir dari WartaEkonomi.co.id--Jaringan Suara.com, walaupun saat ini, kendaraan semakin canggih dan terkoneksi, konsumen tetap menginginkan kemudi dengan sistem bantuan, bukan sepenuhnya otonom, dengan alasan keselamatan.

Bukan cuma itu, dari kepemilikan mobil yang seluruhnya semakin meningkat, konsuman katanya lebih menunjukkan minat dan komitmen ke perjalanan individu, bukan berbagi (sharing).

Dari laporan itu juga ditemukan, kemajuan perkembangan mobilitas listrik yang dinilai semakin pesat. Namun, dengan tren yang lebih fokus ke pilihan sistem hibrida daripada pilihan untuk beralih ke kendaraan listrik berbasis baterai (BEV).

Kendati begitu, ada 44% dari jumlah pengemudi kendaraan dengan mesin pembakaran internal (ICE) di seluruh dunia masih berencana untuk membeli kendaraan bertenaga sama. Di mana, angka tersebut meningkat menjadi hampir dua pertiga atau 65% di Amerika Serikat.

Studi yang pertama kali diterbitkan di 2015 lalu ini, menggarisbawahi soal kesenjangan yang semakin nampak antara pasar otomotif yang sudah matang--seperti Asia Timur Laut, Amerika Utara, dan Eropa--yang hampir mencapai puncak motorisasi. Namun, demografi konsumen yang kurang terbuka terhadap inovasi baru dalam hal digitalisasi dan otonomi, dengan pasar otomotif yang sedang berkembang, seperti di Tiongkok, India, Asia Tenggara, dan Timur Tengah. 

Di kawasan tersebut, kepemilikan mobil semakin menunjukkan urgensinya, dengan demografi konsumen yang sangat terbuka terhadap inovasi produk dan saluran penjualan.

Elektrifikasi menjadi pemisah antara kedua kelompok ini-pasar yang sudah matang, selain AS dan Jepang, dapat dengan cepat menerima kehadiran kendaraan listrik (EV), sedangkan pasar yang sedang berkembang lebih lambat untuk mengadopsinya, dengan pengecualian China (sebagai pemimpin global di sektor ini).

Richard Parkin, Partner dan juga Pakar ADL di bidang Automotive and Growth Practices mengatakan, penelitian mereka menunjukkan pandangan sederhana.

baca juga

"Tentang kemajuan searah menuju dunia yang terhubung, otonom, berbagi, dan elektrik (CASE) tidak lagi mencerminkan kompleksitas situasi saat ini. Hal ini terjadi karena saat ini, baik produsen maupun konsumen, melakukan evaluasi kembali terhadap biaya dan manfaat yang diberikan," ucapnya.

Mereka mengaku, juga melihat perbedaan yang signifikan dan semakin meningkat antara pasar yang sudah matang, seperti di AS, Eropa, dan Asia Utara, yang berada pada puncak motorisasi, dengan pasar yang lebih dinamis, namun juga sensitif terhadap harga, seperti di kawasan Asia lainnya, dan Timur Tengah.

"Untuk menjadi OEM otomotif yang sukses, mereka harus bersiap dalam menghadapi berbagai tantangan yang muncul, seperti menavigasi tantangan regulasi dan geopolitik, serta mengatasi dampak dari kehadiran disruptor industri baru, seperti manufaktur EV di China. Semua hal ini dilakukan sembari meningkatkan digitalisasi,” lanjutnya.

Studi ini berfokus pada lima topik, profil kepemilikan mobil; adopsi layanan mobilitas baru; kemudi otonom (autonomous driving); sistem drivetrains alternatif (termasuk EV); dan dampak penggunaan alat digital terhadap penjualan model.

Beberapa temuan studi tersebut meliputi:

De-motorisasi adalah fenomena yang terbatas di lingkungan urban-misalnya, sebanyak 76% dari mereka yang tinggal di kota-kota Eropa dengan populasi lebih dari 5 juta jiwa (yang semuanya memiliki jaringan transportasi umum yang kuat) mengatakan bersedia untuk tidak lagi menggunakan mobil, namun secara umum kepemilikan mobil terus meningkat di seluruh dunia.

Kurang dari 50% konsumen telah mencoba layanan mobilitas baru, seperti layanan tumpangan (ride-sharing) dan berbagi mobil (car-sharing). Layanan pemesanan kendaraan (ride-hailing), yakni taksi dengan menggunakan sistem antarmuka pengguna digital, sangat populer di semua wilayah.

Hampir dua pertiga (65%) konsumen menyebutkan bahwa risiko keselamatan akibat kesalahan mesin (machine error) menjadi kekhawatiran terbesar mereka dalam mengemudikan kendaraan otonom, dengan tingkat kepercayaan yang tidak mengalami peningkatan secara signifikan dalam lima tahun terakhir.

Powertrain hybrid dan plug-in hybrid akan memainkan peran penting dalam mobilitas di masa depan, dengan 34% konsumen global mengharapkan kendaraan berikutnya berjenis hibrida. Angka ini sama dengan persentase konsumen yang memilih mesin ICE, dan lebih unggul dari opsi BEV murni dengan hanya 26% konsumen memilihnya.

Saluran penjualan fisik (seperti dealer mobil) masih tetap relevan, dengan lebih dari tiga perempat (77%) konsumen global menyatakan bahwa konsultasi pribadi saat proses pembelian kendaraan menjadi faktor utama dalam meningkatkan kepuasan mereka. Ini kemudian membatasi peluang untuk melakukan digitalisasi penuh, meski terdapat 53% konsumen di Timur Tengah yang terbuka untuk melakukan transaksi secara digital.

Hirotaka Uchida, Partner sekaligus Head of Thailand dan Head of Automotive and Manufacturing Practice di ADL Asia Tenggara, mengungkapkan, asumsi kemajuan global yang lurus menuju pasar otomotif yang terkoneksi, otonom, berbagi, dan elektrik sedang diuji.

"Konsumen saat ini lebih mengutamakan keamanan, keandalan, dan kepemilikan pribadi. Di sisi lain, elektrifikasi semakin bergerak maju dengan dipimpin oleh kendaraan listrik hybrid dan plug-in hybrid," sebutnya

Ia menyatakan, dalam periode transisi ini, penting untuk secara optimal memperkenalkan berbagai teknologi dan produk ke setiap pasar yang memiliki tingkat kemajuan yang berbeda. Produsen otomotif harus membuat keputusan yang jelas apakah mereka akan merespons semua arah atau akan fokus pada teknologi, produk.

"Atau pasar tertentu, tergantung pada sumber daya yang mereka miliki,” lanjutnya.

Sumber artikel cek disini
Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Duh! Kekayaan Elon Musk Anjlok $15 Miliar Akibat Kekecewaan Investor atas Cybercab Tesla

Duh! Kekayaan Elon Musk Anjlok $15 Miliar Akibat Kekecewaan Investor atas Cybercab Tesla

Otomotif | Selasa, 15 Oktober 2024 | 12:00 WIB

Tips Sukses Lulus Ujian SIM, Jangan Sampai Pakai Jasa Calo

Tips Sukses Lulus Ujian SIM, Jangan Sampai Pakai Jasa Calo

Otomotif | Selasa, 15 Oktober 2024 | 11:48 WIB

Mobilnya Dirusak Kimi Antonelli di GP Monza 2024, George Russell Ngambek?

Mobilnya Dirusak Kimi Antonelli di GP Monza 2024, George Russell Ngambek?

Your Say | Selasa, 15 Oktober 2024 | 11:35 WIB

Terkini

SKB Buka Jalan bagi Anak Putus Sekolah untuk Kembali Meraih Harapan

SKB Buka Jalan bagi Anak Putus Sekolah untuk Kembali Meraih Harapan

News | Senin, 21 September 2026 | 11:48 WIB

Keji, Pria Pengangguran Rudapaksa Anak Bawah Umur di Kampar

Keji, Pria Pengangguran Rudapaksa Anak Bawah Umur di Kampar

Riau | Senin, 21 September 2026 | 11:47 WIB

Lengkap! Ini Proses Terbentuknya Gunung Anak Krakatau dari Kaldera Purba

Lengkap! Ini Proses Terbentuknya Gunung Anak Krakatau dari Kaldera Purba

Tekno | Senin, 21 September 2026 | 11:46 WIB

Sekolah Rakyat Buka Akses Pendidikan Gratis bagi 44 Ribu Lebih Anak Keluarga Miskin

Sekolah Rakyat Buka Akses Pendidikan Gratis bagi 44 Ribu Lebih Anak Keluarga Miskin

News | Senin, 21 September 2026 | 11:44 WIB

Petaka 2 Batang Kayu Jati: Ayah Dibui demi Sesuap Nasi, Anak di Bojonegoro Mogok Sekolah Dibully

Petaka 2 Batang Kayu Jati: Ayah Dibui demi Sesuap Nasi, Anak di Bojonegoro Mogok Sekolah Dibully

Jatim | Senin, 21 September 2026 | 11:44 WIB

Usai Kasus Jule, Sahroni Kembali Desak Vape Dilarang Total di Indonesia

Usai Kasus Jule, Sahroni Kembali Desak Vape Dilarang Total di Indonesia

News | Senin, 21 September 2026 | 11:39 WIB

Menkeu Lantik 5 Pejabat Pajak Baru, Minta DJP Bangun Sistem Kredibel & Adil

Menkeu Lantik 5 Pejabat Pajak Baru, Minta DJP Bangun Sistem Kredibel & Adil

Bisnis | Senin, 21 September 2026 | 11:39 WIB

Bangladesh Krisis Striker, Thomas Dooley Keliling Dunia Cari Mesin Gol Jelang vs Timnas Indonesia

Bangladesh Krisis Striker, Thomas Dooley Keliling Dunia Cari Mesin Gol Jelang vs Timnas Indonesia

Bola | Senin, 21 September 2026 | 11:35 WIB

Gimana Cara Mengintip Story TikTok Tanpa Ketahuan? Pakai Trik Alternatif Ini Saja!

Gimana Cara Mengintip Story TikTok Tanpa Ketahuan? Pakai Trik Alternatif Ini Saja!

Tekno | Senin, 21 September 2026 | 11:34 WIB

Geger Tapir Masuk Kebun Sawit di Mesuji, Mantan Bupati Khamamik Turun Gunung Evakuasi

Geger Tapir Masuk Kebun Sawit di Mesuji, Mantan Bupati Khamamik Turun Gunung Evakuasi

Lampung | Senin, 21 September 2026 | 11:33 WIB

×