Suara.com - Mitsubishi Outlander Sport bekas adalah salah satu pilihan SUV kompak yang banyak diburu oleh pembeli mobil second di Indonesia.
Model ini pertama kali masuk ke pasar Indonesia pada awal 2010-an dan sejak itu dikenal sebagai SUV yang menawarkan kombinasi antara desain sporty, kenyamanan berkendara, serta ruang kabin yang lega untuk keluarga maupun penggunaan harian.
Tak heran, harga, spesifikasi, pajak, dan konsumsi BBM mobil bekas Mitsubishi Outlander Sport masih dicari-cari.
Harga Pasar dan Pajak Mitsubishi Outlander Sport Bekas
Harga Mitsubishi Outlander Sport bekas di Indonesia sangat bervariasi, tergantung pada tahun produksi, varian, kondisi fisik-mesin, serta lokasi penjualan.
Di pasaran saat ini, unit yang lebih tua seperti model tahun 2012–2014 umumnya ditawarkan di kisaran Rp135 juta hingga Rp200 juta, sedangkan model tahun 2015–2016 sering berada di rentang Rp160 juta hingga Rp270 juta, tergantung kondisi dan penawaran penjual.
Ketika membeli Outlander Sport bekas, calon pemilik juga perlu memperhitungkan biaya pajak kendaraan bermotor tahunan yang biasanya cukup realistis untuk SUV kompak, meskipun jumlah pastinya tergantung pada aturan dan Nilai Jual Kendaraan Bermotor (NJKB) di daerah masing-masing.
Pajak tahunan untuk SUV seperti Outlander Sport mulai dari Rp2 jutaan hingga Rp4 jutaan, tergantung dari tahun produksi dan varian mana yang Anda minati.
Selain pajak tahunan, biaya balik nama kendaraan (BBNKB) dan administrasi STNK/BPKB juga perlu disiapkan saat melakukan proses kepemilikan baru atau peralihan kepemilikan.
Spesifikasi Teknis Mitsubishi Outlander Sport
Secara spesifikasi, Mitsubishi Outlander Sport dilengkapi mesin 4B11 berkapasitas 1.998 cc DOHC dengan teknologi Mitsubishi Innovative Valve-timing Electronic Control (MIVEC).
Mesin empat silinder ini mampu menghasilkan tenaga maksimal sekitar 148–150 PS pada 6.000 rpm dan torsi puncak sekitar 197 Nm pada 4.200 rpm, memberikan tenaga yang cukup untuk berkendara di berbagai kondisi jalan termasuk tol dan medan menanjak.
Transmisi yang tersedia umumnya adalah pilihan CVT dengan mode Sport untuk varian otomatis, serta opsi transmisi manual pada varian tertentu.
Dari sisi dimensi, Outlander Sport memiliki bentuk yang kompak namun tetap memberikan ruang yang cukup lega di kabin, mampu menampung hingga lima penumpang dewasa dengan nyaman serta bagasi yang cukup untuk kebutuhan harian maupun perjalanan jauh.
Suspensi depan menggunakan MacPherson strut, sedangkan belakang memakai konfigurasi multi-link yang dirancang untuk keseimbangan antara kenyamanan dan stabilitas saat melaju di jalan perkotaan maupun jalan bergelombang.
Konsumsi BBM dan Biaya Operasional

Mesin 2.0 liter pada Mitsubishi Outlander Sport memang menawarkan performa yang memadai, tetapi konsumsi bahan bakarnya cenderung lebih tinggi dibandingkan mobil kecil atau city car.
Angka konsumsi BBM yang dilaporkan beragam tergantung kondisi penggunaan: banyak sumber menyebutkan rata-rata sekitar 10–15 km per liter dalam penggunaan kombinasi antara rute kota dan luar kota, meskipun beberapa pengendara yang lebih agresif atau sering dalam kondisi macet mungkin melihat angka yang lebih rendah di kisaran 7–9 km per liter di dalam kota.
Konsumsi bahan bakar yang relatif boros ini wajar dipertimbangkan bagi SUV dengan mesin 2.0 liter dan kemampuan berkendara yang lebih bertenaga.
Kapasitas tangki bahan bakar sekitar 63 liter memungkinkan jarak tempuh yang layak antara pengisian ulang, namun biaya BBM tahunan tetap menjadi salah satu pertimbangan utama calon pembeli SUV bekas ini.

Biaya operasional lain seperti servis berkala, oli, kampas rem, dan pergantian suku cadang juga perlu diperhatikan saat membeli unit bekas, terutama jika usia kendaraan sudah cukup tua.
Penggunaan suku cadang resmi dan perawatan berkala di bengkel terpercaya akan membantu menjaga performa mesin dan efisiensi jangka panjang.
Dengan karakter SUV kompak yang kuat, ruang interior yang luas, serta harga bekas yang kompetitif, Mitsubishi Outlander Sport tetap menjadi salah satu pilihan menarik di segmen SUV second untuk konsumen Indonesia yang menginginkan kendaraan serbaguna antara kebutuhan harian dan perjalanan luar kota.
Kontributor : Nadia Lutfiana Mawarni