- Pemerintah Malaysia rutin menggratiskan atau memberi diskon tarif tol saat momen mudik Lebaran tiba.
- Kebijakan ini menelan biaya puluhan juta ringgit demi meringankan beban transportasi masyarakat saat mudik.
- Berbeda dengan Malaysia, pemerintah Indonesia umumnya hanya memberikan diskon tol untuk memecah kepadatan arus.
Suara.com - Momen mudik Lebaran selalu identik dengan kebahagiaan berkumpul bersama keluarga. Namun, di balik antusiasme tersebut, ada satu hal yang kerap membuat isi dompet menjerit: tarif jalan tol.
Bagi pemudik jalur darat, menyiapkan saldo e-toll dalam jumlah besar sudah menjadi kewajiban mutlak.
Namun, tahukah Anda? Rasa pusing memikirkan saldo tol ternyata tidak terlalu dirasakan oleh warga negara tetangga kita, Malaysia.
Pemerintah Negeri Jiran memiliki sebuah tradisi luar biasa yang mungkin bikin pemudik Indonesia geleng-geleng kepala sekaligus iri: menggratiskan tarif jalan tol selama periode mudik Lebaran.
Mari kita bedah betapa memanjakannya tradisi "Balik Kampung" ala Malaysia ini, dan bagaimana jika dibandingkan dengan kebijakan di Indonesia?
Tradisi Lebaran yang Menguras Kas Negara demi Rakyat
Di Malaysia, mudik dikenal dengan istilah balik kampung. Sama seperti di Indonesia, momen ini memiliki ikatan emosional yang sangat kuat.
Memahami tingginya kebutuhan masyarakat, pemerintah Malaysia rutin mengumumkan pembebasan tarif di sejumlah ruas jalan tol utama yang menghubungkan ibu kota ke berbagai wilayah di Semenanjung Malaysia.
Durasi pembebasan tarifnya pun tidak main-main. Mengutip dari berbagai laporan lokal seperti Bernama, pembebasan tarif ini biasanya berlaku satu hingga empat hari, meliputi arus mudik dan arus balik.
Mari kita lihat jejak rekam kebaikan pemerintah Malaysia beberapa tahun terakhir:
- Lebaran 2023: Pemerintah menggratiskan tarif tol secara penuh selama empat hari berturut-turut.
- Lebaran 2024: Malaysia mengeluarkan anggaran hingga 37,6 juta ringgit (sekitar ratusan miliar rupiah) untuk menyubsidi perusahaan konsesi agar masyarakat bisa lewat tol secara gratis.
- Lebaran 2025: Meski tidak gratis 100%, pemerintah tetap memberikan diskon besar-besaran hingga 50 persen khusus untuk kendaraan golongan kelas 1 (kendaraan pribadi).
Bukan sekadar ajang "bakar uang", langkah ini adalah strategi cerdas pemerintah Malaysia untuk dua hal: mengelola lonjakan volume kendaraan agar tidak menumpuk di satu titik, sekaligus bentuk kepedulian sosial yang nyata guna meringankan beban ekonomi warga yang menempuh perjalanan jarak jauh.
Bagaimana Jika Dibandingkan dengan Indonesia?

Membaca kebijakan Malaysia, wajar jika muncul pertanyaan di benak kita: "Kok Indonesia tidak bisa gratis 100 persen saat Lebaran?"
Faktanya, pemerintah Indonesia melalui Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) dan Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) juga memiliki program khusus saat mudik Lebaran.
Namun, pendekatannya berbeda. Alih-alih menggratiskan secara total, Indonesia menerapkan sistem Diskon Tarif Tol, yang biasanya berkisar di angka 10 hingga 20 persen.
Ada beberapa alasan logis mengapa Indonesia menggunakan pendekatan diskon alih-alih gratis total:
- Skala dan Jarak: Jaringan Jalan Tol Trans Jawa dan Trans Sumatra jauh lebih panjang dan masif dibandingkan Semenanjung Malaysia. Menggratiskan tol di Indonesia akan membebani APBN dengan nilai triliunan rupiah dalam hitungan hari.
- Tujuan Memecah Lalu Lintas: Di Indonesia, diskon tol biasanya tidak diberikan pada puncak arus mudik. Sebaliknya, diskon diberikan pada hari-hari awal (H-7 hingga H-5) atau setelah puncak arus balik. Tujuannya sebagai "pemanis" agar masyarakat mau mudik lebih awal, sehingga kemacetan parah di hari H bisa dihindari.
- Sistem Kepemilikan Konsesi: Banyak ruas tol di Indonesia dikelola oleh konsorsium swasta maupun BUMN dengan hitungan pengembalian investasi yang sangat ketat.
Meski Indonesia belum bisa sepenuhnya menggratiskan tarif tol seperti Malaysia, kebijakan diskon yang dipadukan dengan rekayasa lalu lintas (seperti One Way dan Contra Flow) terbukti semakin baik dalam mengurai kemacetan horor dari tahun ke tahun.
Tradisi pembebasan tarif tol di Malaysia saat balik kampung jelas merupakan kebijakan pro-rakyat yang patut diacungi jempol.
Di sisi lain, langkah pemerintah Indonesia dengan strategi diskon tarif untuk memecah arus juga merupakan solusi yang paling realistis untuk kondisi geografis kita.
Apapun kebijakannya, pengumuman dari kementerian terkait jelang Lebaran selalu menjadi momen yang paling ditunggu.
Yang terpenting, pastikan kendaraan dalam kondisi prima dan saldo e-toll Anda (khusus warga +62) selalu aman sebelum roda berputar menuju kampung halaman!