- Ketegangan Timur Tengah memicu kenaikan harga minyak, menyebabkan biaya operasional mobil bensin di Eropa berpotensi lima kali lebih besar.
- Biaya operasional mobil bensin naik sekitar Rp64.600 per 100 km, sementara mobil listrik hanya naik sekitar Rp11.900.
- Mobil listrik menawarkan mitigasi dampak fluktuasi harga bahan bakar fosil karena sumber listriknya lebih stabil dan terbarukan.
Suara.com - Ketegangan yang kembali memanas di Timur Tengah berdampak langsung pada kenaikan harga minyak dunia. Lonjakan ini diprediksi akan membuat biaya operasional mobil berbahan bakar bensin meningkat jauh lebih tajam jika dibandingkan dengan penggunaan mobil listrik.
Berdasarkan laporan organisasi lingkungan Transport & Environment (T&E), para pemilik mobil bensin di Eropa berpotensi merasakan dampak finansial hingga lima kali lebih besar jika harga minyak terus bertahan di atas 100 dolar AS per barel.
T&E memperkirakan biaya untuk menempuh jarak 100 kilometer bagi mobil bensin akan melonjak menjadi sekitar Rp241.400 atau naik sekitar Rp64.600 dari tarif normal.
Di sisi lain, biaya untuk menempuh jarak yang sama menggunakan mobil listrik memang diperkirakan ikut naik namun peningkatannya jauh lebih rendah.
Biaya operasional mobil listrik hanya naik sekitar Rp11.900 menjadi sekitar Rp110.500 per 100 kilometer. Proyeksi ini mengacu pada pola krisis energi tahun 2022 saat harga minyak mentah melambung tinggi akibat faktor geopolitik global.
Kenaikan harga minyak mentah cenderung lebih cepat memengaruhi harga BBM di SPBU. Berbeda dengan bahan bakar fosil, tarif listrik tidak sepenuhnya mengikuti perubahan harga minyak secara drastis.
Mobil listrik juga dinilai lebih stabil karena sebagian sumber listrik di berbagai wilayah kini berasal dari energi terbarukan seperti angin dan matahari yang tidak terpengaruh oleh fluktuasi harga minyak dan gas dunia.
Direktur Mobilitas T&E, Lucien Mathieu memberikan pandangannya mengenai situasi ini.
“Mobil listrik adalah cara terbaik untuk mengurangi ketergantungan terhadap gejolak harga bahan bakar fosil,” ujar Lucien Mathieu sebagaimana dikutip dari Insideevs pada Selasa 24 Maret 2026.
Catatan T&E menunjukkan bahwa keberadaan lebih dari 8 juta mobil listrik di Eropa sepanjang 2023 telah berhasil memangkas konsumsi minyak sekitar 46 juta barel. Hal tersebut berdampak pada penghematan pengeluaran mencapai Rp49,3 triliun.
Sejalan dengan itu, Badan Energi Internasional (IEA) menegaskan bahwa transisi menuju sistem energi berbasis listrik akan mengurangi ketergantungan masyarakat pada harga minyak yang tidak menentu di masa depan.