Suara.com - Motor listrik kini semakin dilirik sebagai solusi mobilitas harian yang hemat dan ramah lingkungan. Salah satu model yang cukup menarik perhatian adalah Polytron Fox 350, yang hadir dengan dua skema kepemilikan berbeda yaitu Battery as a Service (BaaS) alias sewa baterai, dan Buy to Own atau pembelian termasuk baterai.
Sekilas, harga awal keduanya terlihat cukup jauh berbeda. Namun jika dihitung dalam jangka panjang, terutama hingga 5 tahun pemakaian, mana yang sebenarnya lebih menguntungkan?
Sebelum masuk ke hitung-hitungan biaya, penting memahami apa yang ditawarkan motor ini. Polytron Fox 350 dibekali baterai lithium berkapasitas 3,7 kWh yang mampu menempuh jarak hingga 130 km dalam sekali pengisian.
Kecepatan maksimalnya mencapai 95 km per jam, cukup untuk kebutuhan harian di perkotaan.
Pengisian daya dari 0–100 persen hanya memerlukan waktu sekitar 4–5 jam dengan daya 800 watt. Artinya, motor bisa dicas semalaman dan siap digunakan keesokan harinya.
Tak hanya itu, motor dan baterainya sudah mengantongi sertifikasi IP67, sehingga tahan terhadap debu dan air—fitur penting untuk kondisi jalan dan cuaca di Indonesia.
Polytron juga menawarkan fasilitas fast charging gratis di 50 titik showroom, di mana dalam waktu 10 menit motor bisa menambah jarak tempuh hingga 20 km. Fitur ini jelas menambah fleksibilitas bagi pengguna dengan mobilitas tinggi.
Skema 1: Battery as a Service (BaaS)
Pada skema ini, pengguna membeli motor tanpa baterai. Harga awalnya cukup terjangkau, yakni sekitar Rp 15,5 juta setelah subsidi. Namun, pengguna harus membayar biaya langganan baterai sebesar Rp 200 ribu per bulan.
Jika dihitung selama 5 tahun:
- Biaya langganan: Rp 200.000 x 60 bulan = Rp 12 juta
- Harga motor awal: Rp 15,5 juta
- Total pengeluaran 5 tahun: 12 juta + 15,5 juta = Rp 27,5 juta
Menariknya, skema ini memberikan garansi baterai seumur hidup selama masa langganan. Artinya, pengguna tidak perlu khawatir soal penurunan performa atau biaya penggantian baterai di masa depan.
Selain itu, karena baterai bukan milik pribadi, nilai jual kembali motor cenderung lebih stabil. Risiko depresiasi akibat penurunan kualitas baterai juga bisa dihindari.
Skema 2: Buy to Own (Beli Putus)
Berbeda dengan BaaS, skema ini mengharuskan pengguna membeli motor sekaligus baterainya. Harga bundling setelah subsidi adalah Rp 27,5 juta.
Baterai yang disertakan memiliki nilai sekitar Rp 17,5 juta dan dilengkapi garansi 3 tahun. Setelah masa garansi habis, seluruh risiko kerusakan atau penurunan performa baterai menjadi tanggung jawab pemilik.