- Suara.com menjelaskan bahwa kebiasaan seperti menggoyangkan mobil saat mengisi bensin atau memanaskan mesin terlalu lama hanyalah mitos.
- Pengemudi dapat menghemat bahan bakar dengan memastikan tekanan ban ideal, mengurangi beban kendaraan, serta menggunakan oktan yang tepat.
- Praktik berkendara secara halus dan mematikan mesin saat berhenti lama terbukti meningkatkan efisiensi penggunaan BBM secara signifikan.
Suara.com - Mengatur pengeluaran bahan bakar minyak (BBM) kini jadi prioritas bagi banyak pemilik mobil guna menekan biaya operasional harian.
Di tengah maraknya informasi, banyak pengendara yang terjebak pada kebiasaan lama yang dianggap bisa menghemat bensin, padahal sebenarnya hanya mitos belaka.
Memahami perbedaan antara fakta teknis dan mitos sangat penting agar upaya penghematan yang Anda lakukan benar-benar efektif dan tidak justru merusak mesin. Berikut fakta dan mitosnya menurut hasil rangkuman Suara.com
Apa saja mitosnya?

Mitos pertama yang sangat populer adalah menggoyang-goyangkan mobil saat mengisi bensin agar tangki lebih padat.
Secara ilmiah, bensin adalah benda cair yang akan otomatis mengisi setiap celah kosong di wadahnya, sehingga tindakan menggoyangkan mobil sama sekali tidak berguna.
Selain itu, mengisi bensin hingga luber atau tumpah juga merupakan kesalahan.
Mobil modern sudah dilengkapi dengan vapor recovery system yang mendeteksi kelebihan kapasitas, sehingga mengisi hingga tumpah justru membuat BBM banyak terbuang sia-sia dan merugikan kantong Anda.
Banyak juga yang percaya bahwa mengisi bensin di malam hari atau subuh saat suhu udara dingin akan membuat bensin lebih kental dan volumenya lebih banyak.
Faktanya, tangki penyimpanan SPBU terletak jauh di bawah tanah dengan suhu yang sangat stabil, sehingga volume bensin yang keluar dari pompa tetap sama terlepas dari waktu pengisian.
Terkait suhu mesin, memanaskan mobil terlalu lama sebelum berangkat juga tidak lagi relevan bagi mesin modern.
Mesin injeksi saat ini hanya butuh waktu 30 hingga 60 detik saja agar oli bersirkulasi sempurna; membiarkan mesin idle lebih dari 5 menit justru membuang bensin tanpa ada jarak yang ditempuh.
Penggunaan AC sering dianggap sebagai beban utama, dan faktanya memang AC bisa meningkatkan konsumsi bensin sekitar 5 persen hingga 20 persen.
Namun, membuka jendela saat melaju kencang di atas 60-80 km/jam justru lebih boros daripada menyalakan AC. Hal ini dikarenakan hambatan angin atau drag meningkat secara eksponensial, sehingga mesin butuh tenaga ekstra besar untuk melawan angin tersebut.
Begini trik biar hemat bensin
![Pengendara mengisi bensin untuk kendaraannya di SPBU Pertamina, kawasan Palmerah, Jakarta, Jumat (8/5/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/08/55574-bbm-kenaikan-harga-bbm-spbu-pertamina-ilustrasi-bbm-ilustrasi-spbu-ilustrasi-pertalite.jpg)
Trik nyata yang terbukti efektif adalah mematikan mesin saat berhenti lebih dari satu menit, misalnya di lampu merah yang memiliki penghitung waktu mundur.
Kebiasaan membiarkan mesin idle selama satu jam setara dengan membuang hampir satu liter bensin tanpa menghasilkan jarak tempuh. Selain itu, perhatikan beban kendaraan Anda.
Setiap tambahan beban sebesar 50 kg dapat meningkatkan konsumsi BBM hingga 2 persen. Membersihkan bagasi dari barang-barang yang tidak diperlukan adalah cara termudah untuk mengurangi bobot mobil.
Pemilihan nilai oktan juga berpengaruh besar pada efisiensi. Menggunakan BBM dengan oktan yang sesuai rekomendasi pabrikan memastikan pembakaran sempurna dan mencegah engine knocking.
Mesin dengan pembakaran yang efisien akan menghasilkan tenaga yang lebih responsif, yang pada akhirnya membuat konsumsi bensin lebih hemat dalam jangka panjang.
Jangan lupa untuk selalu mengecek tekanan angin ban; ban yang kurang tekanan hanya 3 psi saja sudah bisa membuat mobil lebih boros 3 persen hingga 5 persen karena meningkatnya rolling resistance.
Kunci terakhir dari penghematan bensin adalah gaya berkendara atau eco driving. Menjaga putaran mesin di rentang 1.500 hingga 2.500 RPM dan menghindari akselerasi mendadak dapat menghemat bensin hingga 15 persen.
Mengemudi secara halus dan memanfaatkan momentum kendaraan jauh lebih efisien daripada gaya mengemudi agresif yang memaksa ECU menyemprotkan lebih banyak bahan bakar ke ruang bakar.