- Maung Garuda kebal peluru, namun Prabowo ungkap atapnya sempat bocor saat hujan deras.
- Performa suspensi masih perlu disempurnakan karena mobil terasa bergetar saat melewati medan pegunungan.
- Meski belum sekelas mobil Eropa, Prabowo tetap setia menggunakan Maung demi mendukung produk lokal.
Suara.com - Sebuah mobil kepresidenan dituntut memiliki standar ganda yang ekstrem: tingkat keamanan balistik kelas wahid sekaligus kenyamanan absolut setara sedan mewah Eropa. Namun, bagaimana jika mobil tersebut adalah karya perdana industri otomotif lokal yang sedang dalam masa pertumbuhan?
Presiden Prabowo Subianto baru saja memberikan "review jujur" seputar mobil dinasnya, Pindad Maung MV3 Garuda Limousine.
Di balik tampangnya yang gagah dengan pelindung antipeluru, mobil ini rupanya masih memiliki pekerjaan rumah di sektor build quality dan NVH (Noise, Vibration, Harshness).
Ironi Lapis Baja vs Air Hujan
Secara spesifikasi di atas kertas, Maung Garuda Limousine adalah benteng berjalan. SUV bongsor dengan panjang 5,05 meter, lebar 2,06 meter, dan tinggi 1,87 meter ini dibekali composite armor, kaca antipeluru, dan run-flat tire. Tujuannya satu: melindungi Kepala Negara dari ancaman fatal.
Namun, pengujian sesungguhnya justru datang dari alam. Saat menghadiri Munas HIPMI XVIII di Bandar Lampung (10/6/26), Prabowo menceritakan momen lucunya saat sedang beristirahat di dalam kabin SUV lapis baja bertenaga 199 Tk tersebut.
"Saya ini suka tidur di mobil, ya. Jadi pada suatu hari saya lagi tidur di mobil, tau-tau, karena hujan keras di luar, ada suara 'tek!' 'tek!'. Saya bangun, rupanya bocor," kata Prabowo dilansir dari Youtube Sekretariat Presiden.
Sebuah ironi otomotif yang unik: mobil yang didesain untuk menahan terjangan peluru, ternyata masih harus menyerah pada rembesan air hujan.
Layaknya konsumen otomotif pada umumnya, sang Presiden pun melakukan klaim garansi dan mengirim mobilnya kembali ke "bengkel" PT Pindad untuk proses penyempurnaan R&D.
"Ya namanya baru. Aku kirim kembalilah ke Pindad. Aku bilang, 'Tolonglah bocornya dikurangi'," ujarnya.
Menaklukkan Tanjakan dan Isu 'Gredek'
Selain urusan weatherproofing (kekedapan cuaca), tantangan terbesar dalam membangun mobil dari nol adalah meracik sasis dan suspensi yang nyaman.
Dipadukan dengan transmisi otomatis delapan percepatan dan bobot bodi lapis baja yang pastinya sangat berat, kinerja kaki-kaki Maung Garuda rupanya masih terasa kasar saat diajak bermanuver di jalan menanjak.
Presiden Prabowo pun blak-blakan soal sensasi berkendaranya.
"Habis itu pakai mobil, naik gunung, gredek, gredek, gredek. Tapi enggak apa-apa," tutur Prabowo.