- Karat pada subframe jauh lebih berbahaya dibanding korosi kosmetik bodi karena area ini menopang sistem suspensi utama dan memengaruhi keselamatan berkendara.
- Kerusakan akibat karat mengubah sudut roda (camber, caster, toe), memicu gejala mobil melayang, dan dalam kondisi ekstrem berisiko membuat roda terlepas.
- Walau Indonesia bebas salju, kelembapan tropis, genangan banjir asam, dan udara pesisir bergaram tinggi menjadi pemicu utama karat sasis yang sama ganasnya.
"Akibatnya, geometri roda bisa berubah, stabilitas kendaraan menurun, dan pengendalian mobil menjadi tidak sepresisi saat masih dalam kondisi normal."
Pergeseran sudut roda meski hanya hitungan milimeter akan mengacaukan parameter Camber, Caster, dan Toe.
Efek instan yang dirasakan pengemudi adalah mobil kehilangan kestabilan garis lurus (straight-line stability), setir terasa melayang atau terus-menerus menarik ke satu sisi jalan.
Dalam skenario terburuk yang melandasi recall Honda, karat yang parah mampu memutus engsel suspensi belakang, memicu roda terlipat atau terlepas dari basis sasis.

Kontekstualisasi Ancaman di Iklim Tropis Indonesia
Investigasi menyebutkan bahwa kasus Honda di Amerika Serikat berfokus pada wilayah salt belt—area bersalju yang jalanannya rutin ditaburi garam peluruh es. Lantas, apakah mobil di Indonesia aman?
"Meski Indonesia tidak menghadapi musim salju seperti Amerika Serikat, ancaman korosi tetap ada. Lingkungan pesisir, udara dengan kadar garam tinggi, genangan air, banjir, serta kebiasaan jarang mencuci kolong mobil dapat mempercepat proses karat pada bagian bawah kendaraan."
Di Indonesia, kadar salinitas (kandungan garam) udara pesisir sangat tinggi. Terlebih lagi, air banjir atau genangan hujan yang bercampur dengan limbah jalanan memiliki sifat asam kuat yang sangat agresif dalam memicu reaksi oksidasi pada permukaan logam mobil.