- Hyundai berencana beralih dari mesin bensin murni menuju kendaraan hybrid dan listrik untuk memperkuat strategi elektrifikasi global.
- Keputusan strategis ini muncul sebagai respons terhadap regulasi emisi serta upaya Hyundai untuk bersaing dengan kompetitor pasar.
- Hyundai diprediksi mulai menerapkan kebijakan transisi elektrifikasi penuh secara bertahap pada model kendaraannya mulai pertengahan tahun 2026 mendatang.
Suara.com - Hyundai dikabarkan sedang mempertimbangkan langkah besar: meninggalkan mobil bermesin bensin murni (ICE) dan beralih penuh ke hybrid serta kendaraan listrik (EV).
Langkah ini mengikuti jejak Toyota yang sukses menjual model populer seperti Camry, RAV4, dan Land Cruiser hanya dalam versi hybrid.
Pernyataan ini datang dari Gavin Donaldson, CEO Hyundai Australia. “Saya pikir. beralih ke hybrid dan EV dari ICE itu tak terhindarkan,” ucapnya dikutip dari Motor1.
Menurutnya, strategi Toyota terbukti berhasil, dan Hyundai melihat arah serupa. Belum ada jadwal resmi, namun diskusi ini muncul pada pertengahan 2026.
Hyundai mulai menegaskan bahwa masa depan mereka ada di elektrifikasi penuh, baik melalui hybrid, plug-in hybrid, maupun EV.
Langkah ini akan berdampak global, termasuk di pasar Amerika Serikat dan Australia. Saat ini, Hyundai masih menjual empat model dengan mesin ICE murni: Kona, Elantra N, Santa Cruz, dan Venue.
Sementara model besar seperti Sonata, Santa Fe, dan Palisade diprediksi lebih mudah beralih ke hybrid-only.

Ada beberapa alasan mengapa Hyundai ingin meninggalkan ICE:
- Efisiensi energi: hybrid dan EV lebih hemat bahan bakar.
- Regulasi emisi: banyak negara mulai membatasi penjualan mobil bensin murni.
- Persaingan pasar: Toyota sudah membuktikan strategi hybrid-only bisa meningkatkan penjualan.
- Citra merek: Hyundai ingin dikenal sebagai pemain utama di era elektrifikasi.
Hyundai akan menggabungkan beberapa pendekatan:
- Hybrid-only untuk model mainstream seperti Sonata dan Santa Fe.
- EV penuh untuk lini VF dan Ioniq.
- Hydrogen fuel cell tetap dikembangkan untuk pasar tertentu.
- ICE terbatas hanya untuk model entry-level yang sensitif harga, seperti Venue atau Santa Cruz.
Dengan strategi ini, Hyundai berharap bisa menekan biaya produksi, memenuhi regulasi global, dan tetap kompetitif melawan Toyota serta merek EV asal Tiongkok.
Bagi konsumen, perubahan ini berarti pilihan mobil bensin murni akan semakin sedikit. Namun, mereka akan mendapat kendaraan dengan teknologi lebih modern, hemat bahan bakar, dan ramah lingkungan. Di Indonesia, jika strategi ini diterapkan, konsumen bisa berharap lebih banyak opsi hybrid dan EV dari Hyundai dalam beberapa tahun ke depan.