PURWOKERTO.SUARA.COM, PONOROGO-Bersekolah adalah momentum yang ditunggu bagi anak yang masih masa belajar. Bukan hanya menuntut ilmu, sekolah adalah ruang bagi siswa untuk belajar bersosialisasi.
Tentunya, bagi anak, sekolah sekaligus ruang yang mengasyikkan karena bisa bertemu dan bermain dengan teman-teman di sela belajar.
Tapi bagaimana jadinya jika si anak adalah satu-satunya siswa di kelas?
Tentu sulit terbayang bagaimana kondisi psikis anak mendapati kenyataan itu.
Fenomena ini nyatanya terjadi di sejumlah sekolah usai Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) jenjang sekolah dasar (SD) di beberapa daerah.
Seperti yang terjadi di SD Negeri Jalen, Kecamatan Balong, Ponorogo, Jawa Timur. Dikutip dari suarajatim.id, hanya ada satu anak yang mendaftar PPDB di sekolah tersebut.
Sehingga dipastikan, tahun ajaran baru ini, kelas 1 di SDN Jalen hanya memiliki seorang siswa saja, atas nama Khoirul.
Kepala SDN Jalen Ponorogo Dedi Agung Nugroho mengatakan, satu-satunya siswa kelas 1 rumahnya tidak jauh dari sekolah.
Orangtua Khoirul menyekolahkan anaknya di SDN Jalen karena kakaknya juga alumni SD tersebut.
Baca Juga: Polisi Gadungan di Cilacap Bawa Kabur Uang Semiliar, Janjikan Anak Korban Jadi Dosen PNS di UGM
"Sehingga orangtuanya tetap menyekolahkan di SD sini meski hanya Ia saja yang kelas 1,” ungkap Dedi Agung Nugroho, Rabu (13/7/2022).
Meski hanya terdapat satu siswa di Kelas 1, pihaknya tetap melakukan kegiatan belajar mengajar (KBM).
Hanya untuk sementara, Khoirul digabung dengan kelas 2 yang siswanya ada 3 anak. Ini sesuai keinginan orangtua agar anaknya memiliki teman di kelas.
“Anaknya masih adaptasi dulu. Kita jadikan satu dengan kelas 2. Jadi KBM-nya ada 2 guru, ” katanya.
Total siswa di SDN Jalen ada 34 siswa. Sejak lima tahun terakhir, jumlah peserta didik di sekolah ini menurun. PPBD tahun lalu, sekolah ini juga hanya ada tiga pendaftar.
Di antara faktor menurunnya siswa di SDN Jalen karena keberadaan madrasah ibtidaiyah (MI) swasta di desa setempat.
Banyak orangtua memilih untuk menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan berbasis agama tersebut.
“5 tahun lalu di Desa Jalen ini berdiri MI swasta, sejak saat itu jumlah siswa mulai menurun,” katanya.
Pihaknya pun sebenarnya sudah berusaha keras untuk menjaring siswa peserta didik baru. Di antaranya dengan melakukan sosialisasi ke taman kanak-kanak (TK) di Desa Jalen dan sekitarnya.
Program keagamaan di sekolahnya juga sudah ditingkatkan. Namun usaha itu belum berhasil.