Ulasan Investigasi Washington Post: Kepolisian dan Manjemen Stadion yang Buruk dalam Tragedi Kanjuruhan

Serang

Kamis, 06 Oktober 2022 | 18:53 WIB
Ulasan Investigasi Washington Post: Kepolisian dan Manjemen Stadion yang Buruk dalam Tragedi Kanjuruhan
Aparat keamanan menembakkan gas air mata untuk menghalau suporter yang masuk lapangan usai pertandingan sepak bola BRI Liga 1 antara Arema melawan Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10/2022). (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/tom.)

The Washington Post, media ternama asal Amerika Serikat, mengungkap hasil investigasi mereka tentang insiden mengerikan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur.

Peristiwa yang kini disebut sebagai 'Tragedi Kanjuruhan' itu telah mengakibatkan tewasnya 131 orang pada Sabtu (1/10/2022) malam, dan menjadikannya sebagai catatan hitam pada sejarah Indonesia. Peristiwa paling mematikan nomoe 2 sepanjang sejarah sepak bola dunia itu juga telah mendorong investigasi bagi media internasional.

Investigasi ini dirilis dalam judul headline "How police action in Indonesia led to a deadly crush in the soccer stadium" atau "Bagaimana tindakan polisi di Indonesia mengakibatkan insiden mematikan di stadion sepak bola" dalam Kamis (6/10/2022).

Dalam investigasi tersebut, rentetan secara besar-besaran amunisi gas air mata yang ditembakkan polisi Indonesia ke arah penggemar atau suporter sepak bola menjadi pemicu insiden fatal yang menewaskan sedikitnya 130 orang.

Sedikitnya, ada sebanyak 40 kali penembakan amunisi gas air mata dan bom asap ke arah kerumunan penonton pada rentang waktu 10 menit yang membuat para suporter berbondong-bondong mengalir ke arah pintu keluar stadion. 

Polisi Indonesia juga dianggap melanggar protokol nasional dan panduan keamanan internasional untuk sebuah pertandingan sepak bola.

Tembakan gas air mata ke arah tribun penonton di Kanjuruhan Malang [Foto: Twitter]
Tembakan gas air mata ke arah tribun penonton di Kanjuruhan Malang (sumber: Foto: Twitter)

The Washington Post turut mengungkap 40 amunisi yang dipakai polisi Indonesia mencakup gas air mata, flashbang dan flare. Akibat rentetan tembakan amunisi itu, para suporter jatuh dan terinjak-injak hingga tewas akibat tertimpa tembok dan gerbang logam lantaran beberapa pintu keluar terkunci, menurut penyelidikan.

Tinjauan tadi adalah hasil pemeriksaan dilebih dari 100 video dan foto yang beredar luas, wawancara dengan 11 saksi korban dan analisis oleh ahli atau pakar pengendalian massa serta pembela hak-hak sipil.

The Washington Post mengungkap bagaimana penggunaan gas air mata oleh polisi saat menghadapi beberapa ratus suporter yang memasuki lapangan dan mengakibatkan kerugian yang besar.

Gelombang mengerikan terjadi di ujung selatan stadion Kanjuruhan, dimana para korban yang selamat mengatakan sebagian besar adalah lokasi kematian yang paling banyak terjadi. Beberapa pintu keluar terkunci, kata saksi mata, dan hal itu semakin memicu kepanikan.

Hal tadi juga telah dikonfirmasi Presiden Jokowi, yang sudah memerintahkan peninjauan keamanan stadion di Indonesia.

Presiden Jokowi di Stadion Kanjuruhan, jokowi di malang, jokowi di kanjuruhan [Foto: Rusman - Biro Pers Sekretariat Presiden]
Presiden Jokowi di Stadion Kanjuruhan, jokowi di malang, jokowi di kanjuruhan (sumber: Foto: Rusman - Biro Pers Sekretariat Presiden)

Hingga Kamis, para pejabat mengatakan 131 orang yang meninggal, termasuk 40 diantaranya anak-anak. Kelompok hak asasi manusia, termasuk Amnesty International Indonesia, mengungkapkan jumlah korban di Kabupaten Malang, Indonesia bahkan mencapai 200 orang korban.

Pemerintah Indonesia sudah menyerukan penyelidikan atas peristiwa tadi, yang merupakan adalah salah satu bencana kerumunan paling mematikan yang pernah tercatat sepanjang sejarah.

Sementara pejabat kepolisian setempat justru berkata penggunaan gas air mata dibenarkan lantaran terindikasi "ada anarki,”. Namun, para pakar pengendalian massa yang meninjau rekonstruksi video yang disediakan oleh The Post tak setuju mengenai hal itu.

Tanggapan polisi tersebut dianggap telah melanggar protokol Persatuan Sepak Bola (FA) yang menyatakan bahwa seluruh pertandingan wajib mematuhi ketentuan keamanan yang sudah ditetapkan oleh FIFA, yakni badan pengatur sepak bola dunia.

FIFA secara tegas melarang penggunaan "gas air mata sebagai pengendali massa" digunakan di dalam stadion. FIFA juga mengamanatkan bahwa gerbang keluar dan pintu keluar darurat tidak boleh terhalang atau tertutup setiap saat.

Video yang disediakan secara eksklusif memperlihatkan bahwa polisi, tak lama sehabis pertandingan berakhir, telah menembakkan setidaknya 40 kali amunisi tak mematikan ke arah penggemar, baik di lapangan maupun di tribun.

Sebagian besar gas air mata melayang menuju bagian tempat duduk penonton, atau tribun nomor 11, 12 dan 13.

Kolase tangkapan layar video suporter arema yang berdesakan karena terjebak akibat pintu keluar yang terkunci [twitter/RNgejer]
Kolase tangkapan layar video suporter arema yang berdesakan karena terjebak akibat pintu keluar yang terkunci (sumber: twitter/RNgejer)

Polisi yang bertugas berdiri di sektor 13 bahkan menembakkan gas air mata ke arah lapangan dan tribun penonton, yang menyebabkan ribuan penonton kalang kabut meninggalkan tempat duduk mereka. Hal ini berdasarkan video yang beredar.

Tindakan polisi, menurut saksi mata, menyebabkan kemacetan padat suporter Arema menuju pintu keluar, yang hanya lebar cukup untuk dilewati satu atau dua orang saja.

Clifford Stott , Profesor dan dari Keele Universitas di Inggris, yang mempelajari tugas kepolisian penggemar olahraga, meninjau video yang menunjukkan situasi di Stadion Kanjuruhan.

Ia mengatakan apa yang terjadi di Kanjuruhan adalah akibat langsung dari tindakan polisi yang dikombinasikan dengan keburukan dari manajemen stadion.

Kolase tangkapan layar video tindakan represif aparat keamanan berseragam TNI saat menghalau suporter arema yang masuk ke area lapangan stadion Kanjuruhan, Malang (1/10/2022) malam. [Twitter]
Kolase tangkapan layar video tindakan represif aparat keamanan berseragam TNI saat menghalau suporter arema yang masuk ke area lapangan stadion Kanjuruhan, Malang (1/10/2022) malam. (sumber: Twitter)

Clifford Stott bersama dengan pakar pengendalian massa lainnya dan empat aktivis pembela hak-hak sipil, mengatakan penggunaan gas air mata oleh polisi tidak proporsional.

"Menembakkan gas air mata ke tribun penonton dengan pintu terkunci, kemungkinan besar tidak akan menghasilkan apa-apa selain korbannya jiwa yang besar. Dan itulah yang terjadi," kata Stott.

Sementara itu, Kapolres Malang dan sembilan petugas lainnya lansung dipecat pada Rabu (5/10/2022) atas peran mereka dalam peristiwa bencana tersebut. Sementara 18 petugas lainnya juga sedang diselidiki.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Aremania Diangkut Polisi di Jalan Usai Posting Tragedi Kanjuruhan, Pengamat ISESS: Apa Bedanya dengan Penculikan?

Aremania Diangkut Polisi di Jalan Usai Posting Tragedi Kanjuruhan, Pengamat ISESS: Apa Bedanya dengan Penculikan?

News | Kamis, 06 Oktober 2022 | 18:51 WIB

Respons Polisi Amerika Atas Kematian George Floyd Dibandingkan dengan Polisi Indonesia

Respons Polisi Amerika Atas Kematian George Floyd Dibandingkan dengan Polisi Indonesia

News | Kamis, 06 Oktober 2022 | 18:43 WIB

Tangkal Kegaduhan, DPR Minta TGIPF Tragedi Kanjuruhan Bekerja Dalam Senyap

Tangkal Kegaduhan, DPR Minta TGIPF Tragedi Kanjuruhan Bekerja Dalam Senyap

News | Kamis, 06 Oktober 2022 | 18:41 WIB

Keluarga Korban Tewas Tragedi Kanjuruhan Malah Diduga Kena Pungli Petugas RS Rp 2,5 Juta

Keluarga Korban Tewas Tragedi Kanjuruhan Malah Diduga Kena Pungli Petugas RS Rp 2,5 Juta

News | Kamis, 06 Oktober 2022 | 18:37 WIB

Pasca Penculikan Aremania Perekam Video Pintu 13, KontraS: Cara Polisi Memberangus Suara Kritis

Pasca Penculikan Aremania Perekam Video Pintu 13, KontraS: Cara Polisi Memberangus Suara Kritis

Serang | Rabu, 05 Oktober 2022 | 20:28 WIB

Cerita Aremania, Saksi Keterlibatan Prajurit TNI Bantu Polisi lakukan Kekerasan terhadap Suporter

Cerita Aremania, Saksi Keterlibatan Prajurit TNI Bantu Polisi lakukan Kekerasan terhadap Suporter

Serang | Rabu, 05 Oktober 2022 | 18:53 WIB

Perekam Video yang sempat Diculik pasca Tragedi Kanjuruhan Diminta Ajukan Perlindungan

Perekam Video yang sempat Diculik pasca Tragedi Kanjuruhan Diminta Ajukan Perlindungan

Serang | Rabu, 05 Oktober 2022 | 17:37 WIB

New York Times Kritik Habis Arogansi Kepolisian Indonesia dalam Penyelesaian Konflik Massa

New York Times Kritik Habis Arogansi Kepolisian Indonesia dalam Penyelesaian Konflik Massa

Serang | Rabu, 05 Oktober 2022 | 00:25 WIB

Pilu! Arema FC Dijatuhi Sanksi Berat oleh PSSI

Pilu! Arema FC Dijatuhi Sanksi Berat oleh PSSI

Serang | Selasa, 04 Oktober 2022 | 22:22 WIB

Imbas Tragedi Kanjuruhan, Kapolri Copot Kapolres Malang AKBP Ferli Hidayat

Imbas Tragedi Kanjuruhan, Kapolri Copot Kapolres Malang AKBP Ferli Hidayat

Serang | Senin, 03 Oktober 2022 | 20:09 WIB

Terkini

Samsung Galaxy A27 Muncul di Situs Resmi, Konfigurasi Memori Terungkap

Samsung Galaxy A27 Muncul di Situs Resmi, Konfigurasi Memori Terungkap

Tekno | Minggu, 14 Juni 2026 | 11:28 WIB

5 Game Baru Bertarung di Medan Perang September 2026, Hindari GTA 6

5 Game Baru Bertarung di Medan Perang September 2026, Hindari GTA 6

Tekno | Minggu, 14 Juni 2026 | 11:26 WIB

Dana Cair, 77 Dapur MBG di Kepri Beroperasi Bertahap

Dana Cair, 77 Dapur MBG di Kepri Beroperasi Bertahap

Batam | Minggu, 14 Juni 2026 | 11:22 WIB

ICW: Vonis Rendah Pejabat BPK Tak Beri Efek Jera, Korupsi Terus Berulang

ICW: Vonis Rendah Pejabat BPK Tak Beri Efek Jera, Korupsi Terus Berulang

News | Minggu, 14 Juni 2026 | 11:21 WIB

Tak Berizin, Dua Lokasi Pertambangan di Kampar Ditutup

Tak Berizin, Dua Lokasi Pertambangan di Kampar Ditutup

Riau | Minggu, 14 Juni 2026 | 11:06 WIB

Barang Diskon Belum Tentu Murah: Mengapa Kita Mudah Terkecoh Label Promo?

Barang Diskon Belum Tentu Murah: Mengapa Kita Mudah Terkecoh Label Promo?

Your Say | Minggu, 14 Juni 2026 | 11:00 WIB

Beda Lipstik Hanasui Biasa dan Boba: Cek Perbandingan Shade, Aroma, dan Harganya

Beda Lipstik Hanasui Biasa dan Boba: Cek Perbandingan Shade, Aroma, dan Harganya

Lifestyle | Minggu, 14 Juni 2026 | 10:56 WIB

TWS Under Rp500 Ribu yang Bagus Merek Apa? Ini 5 Pilihan Terbaik David GadgetIn

TWS Under Rp500 Ribu yang Bagus Merek Apa? Ini 5 Pilihan Terbaik David GadgetIn

Tekno | Minggu, 14 Juni 2026 | 10:49 WIB

Warga Jakarta Bisa Masuk Gratis ke Ancol dan Ragunan, Cek Jadwal dan Caranya

Warga Jakarta Bisa Masuk Gratis ke Ancol dan Ragunan, Cek Jadwal dan Caranya

News | Minggu, 14 Juni 2026 | 10:47 WIB

Kurir Narkoba Kedok Nelayan Edarkan Sabu dari Malaysia, Ditangkap di Karimun

Kurir Narkoba Kedok Nelayan Edarkan Sabu dari Malaysia, Ditangkap di Karimun

Batam | Minggu, 14 Juni 2026 | 10:43 WIB