Tak Hanya Afrika, Perbasi Juga Ingin Naturalisasi Pebasket NBA

Rizki Nurmansyah | Arief Apriadi
Tak Hanya Afrika, Perbasi Juga Ingin Naturalisasi Pebasket NBA
Pebasket Indonesia Ebrahim Enguio Lopez (kanan) mencoba mengopar bola dihadang pebasket Filipina Bobby Ray Parks Jr (kiri) dalam final bola basket putra SEA Games 2017 Kuala Lumpur di Maba Stadium, Malaysia, Sabtu (26/8). [Antara]

Indonesia terancam jadi penonton di rumah sendiri pada Piala Dunia Basket 2023.

Suara.com - Pengurus Pusat Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (PP Perbasi) menganggap rencana menaturalisasi 10 pebasket muda Afrika demi menghadapi Piala Dunia Basket 2023 adalah suatu yang lumrah.

Ketua Umum PP Perbasi Danny Kosasih mencontohkan bahwa apa yang dilakukan Indonesia tak jauh berbeda dengan yang dilakukan Korea Selatan, Cina dan Qatar.

"Saya rasa hampir semua negara seperti itu (melakukan naturalisasi). Korea Selatan beberapa pemainnya yang bagus hasil naturalisasi. Anda kan tahu, Qatar bisa juara dunia, pemainnya empat orang Amerika semua," kata Danny di Ruang Rapat Koni, Plasa FX, Jakarta, Selasa (10/4/2018) kemarin.

"Maka saya mau 12 orang yang akan kita mainkan nanti saya cari 4 orang (naturalisasi) yang memang posisi center, yang tingginya antara 205 cm sampai 210 cm," lanjut Danny.

Danny menambahkan, selain rencana menaturalisasi pebasket U-16 asal Afrika, Perbasi juga akan mencari satu pebasket NBA atau yang sudah selesai di NBA untuk dijadikan pemain naturalisasi tambahan.

Keputusan itu merujuk pada peraturan dari Federasi Bola Basket Internasional (FIBA) yang memperbolehkan setiap negara memiliki satu pemain naturalisasi berumur 18 tahun ke atas.

"FIBA memberikan kita saran dalam rule-nya. Kita boleh memakai 1 pemain naturalisasi. Semua negara punya kesempatan itu," ucap Danny.

Meski demikian, Perbasi, kata Danny, tak menutup kemungkinan untuk tetap menggunakan pebasket muda Indonesia jika mereka memenuhi standar tinggi yang ditetapkan, yakni minimal 205 cm.

"Kalau kita ingin main, satu pakai pemain naturalisasi dari NBA, kita cari tiga orang dari luar indonesia yang tingginya 205 cm lebih. Namun jika ada anak-anak Indonesia yang tingginya segitu dan punya skill bagus, kenapa tidak?" tutur Danny.

Ketua Umum PP Perbasi Danny Kosasih ditemui di Jakarta, Selasa (10/4/2018). [Suara.com/Arief Apriadi]

Nantinya, dari 10 pebasket Afrika U-16 yang dinaturalisasi, Perbasi hanya akan memilih tiga orang Afrika terbaik ditambah satu pebasket naturalisasi dari NBA.

Indonesia akan menjadi tuan rumah Piala Dunia Basket 2023 bersama Filipina dan Jepang. Namun, Indonesia terancam tidak tampil dihadapan publik sendiri karena terbentur peraturan dari FIBA.

Tidak seperti Filipina dan Jepang yang langsung lolos ke putaran final Piala Dunia Basket 2023 karena berstatus tuan rumah, Indonesia diberi syarat oleh FIBA untuk membuktikan kualitas para pebasketnya dengan terlebih dahulu lolos kualifikasi FIBA Asia 2021 mendatang.

Jika Indonesia gagal bersaing, maka di Piala Dunia Basket 2023 nanti, Timnas Garuda hanya akan menjadi penonton di depan publik sendiri.

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS